Selina Story : Her Bestfriend’s Wedding (part 2)

Cerita sebelumnya di sini.

Kafe Binggo merupakan kafe yang paling sering dikunjungi Selina selama masa kuliahnya. Hampir tiap hari dihabiskannya di kafe tersebut meski itu hanya untuk sekadar menyesap secangkir teh hangat dan sepotong kue. Bukan hanya Selina sebenarnya, kawan-kawan kuliahnya yang lain juga kerap berkumpul di kafe tersebut. Letaknya yang tak jauh dari kampus serta harga makanannya yang sesuai kantong menjadi dua alasan yang menyebabkan Kafe Binggo sangat diakrabi mahasiswa di kampusnya. Bagi Selina sendiri, ada alasan lain mengapa ia begitu senang menghabiskan waktu di kafe tersebut. Sayangnya untuk dua tahun terakhir, alasan tersebut sudah tak lagi bisa ia temui di Kafe Binggo.

“Kafe ini sudah banyak berubah, ya? Tidak seperti dulu lagi,” ucap Adam pada Selina yang sedang sibuk dengan ponselnya. Selina kemudian menatap sosok si pemuda yang kini duduk hadapannya itu. Wajahnya tirus dengan sepasang kacamata membingkai matanya. Tubuhnya sekurus tiang listrik dengan rambut ikal yang dibiarkan acak-acakan. Jika dibandingkan dengan saat terakhir kali Selina melihatnya, bisa dibilang tak ada perubahan berarti dari fisik pemuda tersebut.

“Kau ke kafe ini terakhir dua tahun yang lalu. Tentu saja kafe ini banyak berubah. Memangnya dirimu yang bertahun-tahun tinggal di luar negeri tapi penampilan tetap seperti itu saja?” jawabnya kemudian.

“Ah, kenapa kau sinis sekali, Selina? Kau masih marah padaku?” tanya Adam begitu mendengar jawaban Selina.

Selina tersenyum sinis. Sejak mereka mendudukkan diri di kafe tersebut, Selina memang tak memperlihatkan sambutan hangat pada sosok di hadapannya itu. Yah, kecuali untuk senyum lebar dan ekspresi yang tak bisa ia kendalikan saat melihat Adam berada di toko miliknya beberapa belas menit yang lalu, rasanya nyaris tak ada kalimat yang keluar dari mulutnya sepanjang perjalanan mereka menuju kafe Binggo.

“Coba kita ingat. Kau pergi dua tahun yang lalu tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Kemudian, saat kau pulang tahun lalu, kau bahkan tidak menemuiku. Lalu, selama dua tahun ini tak satu pun email-ku yang kau balas. Dan sekarang kau pulang pun tidak memberitahuku. Kalau kau jadi aku, apakah kau tidak akan marah?!” Kali ini Selina yang balik bertanya pada pemuda di hadapannya tersebut.

Adam, pemuda kurus tersebut hanya tersenyum mendengar ucapan Selina yang nadanya semakin meninggi.

“Tapi aku selalu mengirimimu kartu pos, bukan?” katanya kemudian membela diri.

“Aku tak pernah minta dikirimi kartu pos,” balas Selina sambil pikirannya terbang ke sebuah kotak aluminium tempat ia menyimpan semua kartu pos yang dikirimkan Adam.

“Baiklah. Tapi kuberitahu satu rahasia. Aku membaca semua email yang kau kirim padaku.”

“Bohong.”

“Kau mau bukti? Baiklah. Coba kuingat-ingat. Aku ingat kau pernah bercerita tentang usahamu yang bangkrut. Lalu kau akhirnya menggunakan kemampuanmu. Nama klien pertamamu adalah Miranda. Dia sekarang sudah menikah dengan kekasihnya. Ada juga yang namanya Vania. Dia jatuh cinta pada seorang mekanik di sebuah bengkel. Oh ya, aku juga ingat kau pernah mengirim email yang menyatakan kalau kau takkan mengirimiku email lagi namun dua jam kemudian kau melanggar janjimu sendiri. Lalu ada lagi cerita tentang ibumu…”

“Oke. Stop. Berhenti memamerkan kemampuanmu,” potong Selina sebelum Adam menyelesaikan ucapannya. Ia sempat lupa kalau pria di hadapannya ini memiliki ingatan yang sangat kuat. Otaknya bisa merekam berbagai hal dan membukanya kembali kapan pun dia inginkan. Selina sendiri tak ingat ada berapa puluh (bahkan mungkin mencapai ratusan) surel yang ia kirimkan pada Adam selama dua tahun terakhir. Namun setidaknya sekarang ia yakin kalau Adam benar-benar membaca surel-surel miliknya tersebut. Itu artinya Adam selalu mengingatnya, bukan?

Adam sendiri setelah jawabannya disela tampak tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya. Senyum yang dikenal Selina sebagai senyum tanda kemenangan. Yeah, sejak kapan Selina bisa mengalahkannya dalam hal ini? Selina yang ceroboh dan cenderung pelupa ibarat semut kecil jika dibandingkan otak gajahnya Adam.

“Jadi… sekarang kau membuka toko perlengkapan bayi?” tanya Adam lagi setelah menyesap cappucino yang dipesannya beberapa menit sebelumnya.

“Iya. Kau tahulah sejak dulu aku selalu ingin punya usaha sendiri.”

“Lalu bagaimana dengan jasa pengintaimu? Berhenti untuk sementara atau?”

“Entahlah, Dam. Dulu aku menjalani pekerjaan tersebut karena terdesak masalah keuangan. Namun setelah aku menjalaninya, aku merasa menyukai pekerjaan tersebut. Bukan pada pekerjaan mengintainya. Namun pada bagaimana aku bisa menolong para klienku, dan bagaimana aku mendapatkan teman-teman baru karenanya. Sungguh sebuah pengalaman yang menyenangkan.”

“Yah, kurasa kau tak perlu berhenti menjadi pengintai. Tapi untuk sementara fokuslah dulu pada bisnismu ini. Mungkin satu tahun. Atau kalau misalnya kau tetap tak bisa berhenti mengintai kau bisa menerima satu atau dua pekerjaan yang benar-benar menantang. Bukan sekadar mengintai pengintip kamar mandi kos-kosan seperti yang kau tulis di suratmu itu.”

Kali ini Selina benar-benar tergelak mendengar jawaban dari Adam. Ia ingat pernah bercerita pada Adam tentang salah satu misinya yang bisa terbilang konyol. Mengintai di sebuah kos-kosan perempuan yang katanya sering diintip para pria iseng. Sebenarnya kala itu Selina tak terlalu tertarik dengan misi tersebut. Dia memang sudah cukup terbiasa dengan pekerjaan mengintainya ini. Namun tetap saja dia risih kalau harus berdiri di dekat kamar mandi dengan pemandangan yang kadang tak nyaman dilihat.

“Aku terpaksa menerima pekerjaan itu,” Selina membela diri.

“Yeah. Aku tahu. Ibumu yang memaksamu.”

Selina tersenyum kecil. Begitulah, bahkan untuk pekerjaan mengintai pun ibunya masih bisa mengaturnya. Untuk hal ini dia jelas tak bisa menolak karena kemampuan mengintai murni ia dapatkan dari darah sang ibu.

“Jadi, kenapa kau pulang, Adam? Sudah bosan jalan-jalan di luar negeri?” Selina mulai mengalihkan pembicaraan. Entah mengapa kali ini ia merasa kedatangan Adam menemuinya bukan sekadar untuk menghilangkan kerinduan antara dua orang teman lama.

“Tidak.” Adam menjawab pendek.

“Lalu?”

“Aku akan menikah.”

***

Cerita selanjutnya : Her Bestfriend’s Wedding 3

27 pemikiran pada “Selina Story : Her Bestfriend’s Wedding (part 2)

  1. Mendudukkan diri, kosa kata baru. Mungkin perlu diceritakan proses kedatangan mereka di kafe itu. Berbarengan, atau sendiri2. Apk mrk memilih lokasi duduk favorit yg dulu? Adam bisa nyeletuk bhw kafe sdh banyak perubahan, setelah dia melihat-lihat apa?

  2. Koreksi dikit mbak. kalimat> “Lalu bagaimana dengan jasa pengintaimu? Berhenti untuk sementara atau?”
    yang paling belakang sebaiknya bukan “?” Itukan kalimat menggantung. Kalau di beberapa novel yang aku baca kalimat menggantung pakai tanda garis semisal ___
    “Lalu bagaimana dengan jasa pengintaimu? Berhenti untuk sementara atau ___”

  3. aahh menikah dengan selina? mogamoga happy ending.. ato selina bakal berdarahdarah hatinya? baca postingan terbaru dikau terjebak romantisme kog nyambung aja sama dimari ya..

  4. Ping balik: Selina Story : Her Bestfriend’s Wedding (part 3) « SAVING MY MEMORIES

  5. Ping balik: Selina Story : Her Bestfriend’s Wedding | SAVING MY MEMORIES

  6. Ping balik: Selina Story : Wedding Day | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s