Belajar Make Up Lewat Youtube

Selama beberapa waktu terakhir, saya cukup sering menonton video-video tutorial make up yang kini bertebaran di situs Youtube. Entah ini karena sayanya yang sedang tertarik pada dunia beauty blogger yang memang sedang booming atau bawaan bayi, yang jelas saya senang saja menonton atau membaca review per-make up-an ini.

Salah satu beauty blogger yang kerap saya tonton videonya adalah Suhay Salim. Saya mengetahui nama beauty blogger keturunan Arab ini dari salah satu blogger yang kerap saya baca tulisannya. Selain itu, adik saya juga sempat menyebutkan namanya dalam sebuah statusnya. Penasaran, akhirnya saya pun membuka chanel youtube milik Suhay Salim.

Yang terjadi kemudian adalah, saya jatuh cinta berat pada Suhay Salim. Gaya ngomongnya yang asal bisa dibilang menjadi daya tarik utama Suhay Salim. Ini tentunya juga diimbangi dengan kemampuan make up yang mumpuni. Daya tarik kedua yang saya lihat dari video-videonya Suhay Salim adalah make up-nya kebanyakan dikhususkan untuk riasan mata. Jadilah saya yang sebelumnya tidak terlalu ngerti make up mata mulai tertarik untuk mencoba mewarnai kelopak mata saya.

Baca lebih lanjut

Janin yang Mulai Bergerak

Malam itu, saya dan suami sudah bersiap-siap tidur. Seperti malam-malam sebelumnya, saya memintanya mengelus-elus perut yang sudah semakin membesar. Katanya sih, di usia kehamilan trimester kedua, janin sudah mulai bisa merasakan sentuhan dari luar. jadilah

Saat hampir terlelap, tiba-tiba saja suami berkata, “Eh, perutmu kenapa?”

“Kenapa memangnya, Mas. Tadi ngerasain dede bayi nendang, ya?” tanya saya kemudian.

“Iya. Tadi kayak ada yang ngetuk-ngetuk dari dalam gitu. Kupikir itu bunyi perutmu,” kata suami lagi.

Saya tertawa. “Horee akhirnya kamu bisa merasakan gerakan dede bayi. Senang, nggak?” tanya saya lagi. Jelas ini adalah momen yang sangat menyenangkan bagi saya dan suami. Setelah mencoba berkali-kali, akhirnya suami bisa merasakan sendiri gerakan janin di perut saya di minggu 24 kehamilan.

Baca lebih lanjut

Pengalaman Mengikuti Beauty Class Mirabella

Hari itu, saya bersama adik perempuan mengunjungi sebuah toko kosmetik yang cukup ternama di kota kami. Saat sedang asyik menyambangi aneka counter make up yang ada di toko itu, saya tiba-tiba tertarik sebuah pemandangan. Di sebuah counter, tampak seorang wanita sedang didandani oleh BA (Beauty Assistant) dari produk Mirabella. Saya pun langsung mendekati counter Mirabella tersebut.

“Mari, Mbak. Ada promo produk Mirabella. Cukup belanja lima puluh ribu sudah dapat hadiah plus undian. Kalau mau minta dandanin juga bisa,” kata salah satu BA pada saya.

Saya hanya tersenyum mendengar tawaran dari BA tersebut. “Maaf, Mbak. Saya tadi lupa bawa uang jadinya nggak bisa beli apa-apa. Saya juga nggak bisa lama-lama di sini. Harus balik ke kantor lagi,” kata saya kemudian.

“Oh iya, Mbak. Besok di toko Mahkota ada beauty class. Cukup bayar seratus ribu sudah bisa belajar make up plus dapat produk Mirabella Kit ini. Kalau Mbak tertarik bisa saya daftarkan,” tak mau rugi, si Mbak BA memberikan penawaran lain pada saya.

Saya yang akhir-akhir ini sedang suka dengan dunia per-make up-an langsung tertarik mendengar info tersebut.

Baca lebih lanjut

USG yang Bikin Kangen

“Kita lihat dede bayi, yuk,” kata suami pada saya pada suatu sore. Saat itu kehamilan sudah memasuki usia 12 minggu.

Saya berpikir sejenak.

“Yah, nggak bisa hari ini, Mas. Kalau bulan Ramadhan kan bidannya buka pagi aja,” kata saya kemudian. Saya ingat hari itu sudah Sabtu sore, dan kebetulan bidan yang kerap kami kunjungi tidak buka sore hari.

“Senin pagi aja, gimana?” tawar saya kemudian.

“Oke, deh,” jawab suami akhirnya.

Senin pagi, sekitar pukul sembilan, saya izin keluar kantor untuk pergi ke klinik bidan yang akan kami kunjungi. Selama bulan Ramadhan, klinik tersebut buka dari pukul sembilan pagi hingga pukul dua belas siang. Salah satu alasan saya memilih bidan ini adalah adanya fasilitas USG dalam pemeriksaannya. Biayanya juga jauh lebih murah ketimbang jika harus ke dokter kandungan.

Suami tampak sudah menunggu saat saya tiba di klinik. Saat itu, kliniknya sendiri juga baru buka. Tanpa perlu menunggu lama, saya dan suami sudah berada di ruang periksa bersama bu Bidan dan seorang asistennya.

Baca lebih lanjut

Belajar tentang Usaha Memberi ASI dari Adik

Minggu, 29 Juni 2014, adik saya melahirkan putra pertamanya. Saat itu usia kandungannya sebenarnya masih belum genap 9 bulan. Kondisi fisik yang kelelahan karena bolak-balik ke rumah sakit saat ayah sakit mungkin menjadi penyebab kelahiran sebelum waktunya ini. Dengan kelahiran prematur, keponakan pertama saya lahir ke dunia. Fathan Al Farisi, begitu dia kemudian diberi nama.

Kondisinya prematur membuat Faris harus menginap di inkubator rumah sakit selama beberapa minggu. Ibunya sendiri di awal-awal kelahiran harus berjuang dengan ASI yang ternyata tak kunjung keluar. Pihak Rumah Sakit (perawat) sendiri sempat beberapa kali menawarkan untuk memberikan susu formula kepada Faris. Adik saya menolak awalnya. Namun karena ASI tak kunjung keluar, dengan terpaksa adik saya merelakan putra pertamanya diberi minum susu formula.

Untungnya adik saya tidak menyerah dengan kondisinya. Setelah diizinkan pulang ke rumah, adik saya berusaha keras agar ASI-nya bisa keluar dengan lancar. Berbagai cara pun dicoba. Mulai dari diurut, hingga mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang bisa meningkatkan produksi ASI. Alhamdulillah dengan usaha yang sungguh-sungguh, akhirnya adik saya bisa memberikan ASI-nya kepada Faris. ASI tersebut disimpan ke dalam botol untuk kemudian diberikan kepada Faris yang masih menginap di Rumah Sakit.

Baca lebih lanjut