Blog Baru

Assalamu’alaikum. Bagi teman-teman yang mampir ke blog ini, melalui postingan ini saya ingin memberitahukan kalau saya sudah pindah ke alamat baru di:

www. ayanapunya.com

Saya akan senang sekali jika teman-teman sekalian berkunjung ke rumah saya yang baru 🙂

See You!

Pengalaman Menggunakan Nipple Shield

Bisa memberi ASI langsung kepada buah hati sudah menjadi cita-cita saya sejak dulu. Ini mungkin karena saya beserta kedua adik berhasil diberi ASI hingga 2 tahun oleh ibu kami. Jadi ya ceritanya nggak mau kalah sama ibu. Sayangnya ternyata setelah melahirkan baru saya tahu kalau memberi ASI itu tidak semudah yang dikira. Layaknya ibu-ibu lain, saya pun sempat mengalami drama dalam pemberian ASI ini. Drama yang saya hadapi tersebut bernama puting datar.

“Waktu hamil kemarin nggak ditarik-tarik ya putingnya?” Tanya beberapa orang saat saya bercerita tentang kondisi payudara saya. Saat itu saya sedang berusaha mencari solusi untuk bisa segera memberi ASI kepada anak saya.

Saya hanya menggeleng. Selama hamil saya hanya berpegang teguh pada pedoman kalau bentuk puting tidak mempengaruhi pemberian ASI. Sekarang, kalau boleh jujur saya tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Karena, setelah tanya dan googling sana-sini, ternyata ibu-ibu yang memiliki puting datar atau tenggelam kebanyakan mengalami kesulitan dalam pemberian ASI. Ada yang berhasil dengan berbagai usaha, ada yang akhirnya memberikan ASIP pada anaknya, ada juga yang akhirnya memberikan susu formula pada anaknya. Jadi, mungkin seharusnya disebutkan saja kalau ada jenis puting yang perlu usaha ekstra dalam proses menyusuinya. Dengan begitu, ibu-ibu dengan puting datar bisa menyiapkan dirinya sebelum masa melahirkan nanti.

Baca lebih lanjut

[Review] The Edge of Seventeen

Nadine memacu mobil ibunya. Setiba di sekolah, setengah berlari ia menuju ruang kelasnya.

“Aku mau bunuh diri,” katanya pada Mr . Bruner yang sedang menikmati jam istirahatnya.

Sang guru tertegun. Salah satu anak muridnya ini memang sedikit berbeda. Ia kadang tanpa ragu mengkritik gaya mengajar Mr. Bruner. Bahkan pernah juga gadis itu melampiaskan kemarahannya hanya karena Mr. Bruner berusaha memberitahu kalau mungkin Nadine lah yang bermasalah. Dan sekarang ia berkata ingin bunuh diri. Oh, well..

Semua ini gara-gara Krista. Sejak Nadine memergokinya bersama Darian, hidupnya mulai berantakan. Krista, gadis manis yang menyapanya saat sedang di kelas dua dan menjadi sahabatnya sejak saat itu. Sahabat satu-satunya. Dan kenapa harus Darian? saudara laki-lakinya yang menyebalkan itu. Sejak kecil Nadine tidak pernah suka pada Darian. Darian sejak kecil sudah populer dan memiliki banyak teman. Sedang dirinya kerap kena bully dan tak memiliki teman. Dan sekarang ia malah mengambil sahabat satu-satunya. Huh!

Baca lebih lanjut

Hadiah dari Ayah untuk si Kecil

“Dede-nya di mana?” tanya seorang kawan saat ia datang di syukuran akikah Yumna, anak perempuan saya dan suami.

Saya kemudian menunjuk sebuah box setinggi 1,5 meter dengan kelambu berwana jingga yang berada di salah satu sudut ruangan.

“Loh, ini box bayi, ya? Kirain lemari apa tadi,” kata teman saya tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia kemudian segera menghampiri box tersebut dan menyapa putri saya yang sedang tertidur.

“Bikin sendiri?” tanyanya lagi setelah kembali duduk bersama saya.

Saya menganggukkan kepala. “Ayahnya yang bikinin,” kata saya kemudian.

“Wah keren euy bisa bikin yang seperti ini.”

Saya hanya tersenyum mendengar perkataannya. Pikiran saya pun kembali ke masa proses pembuatan box bayi untuk Yumna.

img_20161210_153831.jpg

Pembuatan badan box bayi

Baca lebih lanjut

Balada ASI untuk Yumna

“Ngejan satu kali lagi, ya. Ini kepalanya sudah kelihatan,” begitu kata bidan pada saya di malam kelahiran Yumna. Saat itu entah sudah kali berapa saya mengerahkan kekuatan untuk mengejan. Setiap kali proses mengejan dimulai, saya selalu diingatkan untuk tidak memejamkan mata dan konsentrasi menatap bagian perut. Suami juga tak ketinggalan memberikan kekuatan dengan membisikkan kata-kata positif pada saya.

Untuk kali ini, sesuai aba-aba, saya pun mengumpulkan kekuatan kembali untuk mengejan ketika kontraksi terasa. Nah, saat mengejan ini, tiba-tiba saya mendengar ada sesuatu yang digunting. Rupanya Bu Bidan berinisiatif menggunting bagian perineum saya agar bayi bisa segera keluar. Hanya selang beberapa detik dari pengguntingan, keluarlah sesosok bayi mungil yang selama 9 bulan saya kandung. Suara tangisnya langsung memenuhi ruangan tempat saya bersalin.

Setelah dibersihkan, saya langsung meminta agar dilakukan IMD. Seorang bidan kemudian meletakkan bayi saya di dada saya. “Wah ini putingnya datar. Coba tarik biar bisa keluar,” kata bidan saat melihat payudara saya. Seorang asisten bidan kemudian menarik puting payudara saya dan meletakkan mulut bayi saya di sana. Jujur saya agak kecewa dengan keadaan ini. Sebab yang saya tahu, dalam proses IMD, bayi dibiarkan mencari sendiri puting ibunya.

Baca lebih lanjut