Cerita sebelumnya di sini.

Sembilan tahun yang lalu, Adam hadir dalam kehidupan Selina. Saat itu dirinya masih berusia enam belas tahun, kelas satu SMA di salah satu sekolah menengah di kotanya. Saat itu Selina juga baru saja mengetahui kekuatan yang dimilikinya. Dan layaknya anak gadis lain yang baru saja mendapatkan kemampuannya, Selina dikirim ke sekolah umum di mana tak seorang pun mengenalnya. Kata ibunya, hal ini bertujuan agar Selina bisa membaur dengan orang-orang biasa dan juga tidak terlalu bergantung dengan kekuatan barunya.

Adam sendiri merupakan teman pertamanya di sekolah tersebut. Kala itu, Selina sempat dibuat tertipu dengan penampilan Adam yang cungkring dan terlihat nerd. Setahu Selina, orang dengan penampilan seperti ini biasanya pendiam dan sibuk dengan dunianya sendiri. Pilihan yang sangat tepat untuk dirinya yang Karena itulah Selina kemudian memilih duduk di sampingnya di hari pertama sekolahnya. Nyatanya, Adam merupakan kebalikan dari perkiraan Selina. Bahkan saat Selina baru meletakkan tasnya di meja pun pemuda itu sudah menunjukkan “kecerewetannya”. Parahnya lagi, Adam bahkan dengan cepat mengetahui kemampuan yang dimiliki Selina.

“Kamu keturunan Aluvian, ya” tanya Adam hanya dua minggu setelah perkenalan mereka. Aluvian merupakan sebutan bagi kaumnya, yang dianugerahi beberapa kemampuan khusus.

Tak ingin begitu saja identitasnya terbongkar, Selina mengajukan pertanyaan balik pada Adam.

“Apa alasanmu berkata begitu?” tanyanya.

“Bukan hal yang sulit mengetahuinya. Rambut merah, kulit seputih susu. Kadang berbicara dengan logat yang aneh.”

Selina terdiam sesaat setelah mendengar penjelasan Adam. Tak banyak orang yang menyadari ciri-ciri khusus yang dimiliki kaum Aluvian. Karena sejatinya penampilan mereka sebenarnya tak jauh berbeda dengan orang biasa. Rambutnya yang merah misalnya. Memang jika Adam mengatakan seorang Aluvian pasti memiliki rambut merah. Namun bukan berarti setiap gadis yang berambut merah adalah Aluvian.ada banyak gadis berambut merah di kota mereka. Bahkan seingat Selina ada beberapa gadis lain di sekolahnya yang juga memiliki rambut sewarna dengannya, namun mereka tidak memiliki darah Aluvian sama sekali.

“Beatrice juga memiliki rambut merah. Apakah menurutmu dia Aluvian?” Tanya Selina kemudian.

“Tidak. Dia gadis biasa, tidak memiliki kekuatan apapun. Sebenarnya bukan hal itu saja yang membuatku tahu kalau kau keturunan Aluvian. Mungkin kau tak menyadarinya. Tapi beberapa kali aku mendapatimu tak bisa mengontrol kekuatanmu. Yah, maksudku, kadang beberapa anggota tubuhmu mendadak tak terlihat.”

Untuk kali ini Selina jelas tak bisa berkelit lagi. Jelas sekali selain memiliki otak yang cemerlang Adam juga seorang pengamat yang baik. Memang untuk seorang yang baru saja mendapat kekuatan seperti dirinya, kadang memiliki masalah dalam mengontrol kekuatan yang dimiliki. Akhirnya mau tak mau Selina pun mengakui identitasnya pada Adam, tentunya dengan satu permintaan agar Adam bersedia merahasiakan identitasnya tersebut.

Hingga tahun kelima persahabatan mereka, Selina tak pernah menyadari perasaannya pada Adam. Meski sebenarnya ada banyak hal yang ia sukai dari Adam, namun Selina selalu menganggapnya sebagai rasa suka biasa terhadap sahabat. Misalnya dia sangat suka jika melihat Adam itu sudah memainkan gitarnya dan mulai bernyanyi di kafe Binggo. Namun itu dirasanya lebih karena ia sangat ingin bisa bermain gitar namun tak kunjung bisa memainkannya. Selina juga sadar ia selalu senang berdiskusi berbagai hal dengan Adam, terutama perihal kemampuan yang dimilikinya. Namun saat itu dia merasa itu lebih karena Adam merupakan satu-satunya orang di sekolahnya yang mengetahui perihal kekuatannya.

Selina juga tahu kadang dia sebal dengan kedekatan Adam dengan beberapa perempuan di sekitar mereka. Namun Selina selalu merasa itu hanyalah kecemburuan seorang sahabat kepada sahabat yang lain. Lagipula memangnya apa coba yang menarik dari seorang Adam? Wajahnya biasa saja. Tubuhnya sekurus tiang listrik. Rambutnya selalu acak-acakan (untung di sekolah mereka tidak ada razia rambut). Belum lagi dengan kesukaannya memamerkan kemampuan otaknya di hadapan Selina, yang selalu sukses membuatnya merasa sebagai gadis lemot alias lemah otak.

Namun semua berubah saat tiba-tiba Adam menghilang dua tahun yang lalu. Adam, yang sejak lama bermimpi mengelilingi dunia tiba-tiba saja mengabarkan kalau dirinya akan berangkat ke London untuk meneruskan studinya. Yang membuat Selina marah besar, tak pernah sekalipun Adam bercerita kalau dirinya sedang mengurus beasiswa studi ke luar negeri. Memang saat itu baik dirinya dan Adam sudah mulai jarang bertemu. Keduanya baru saja lulus kuliah dan sibuk memulai karir masing-masing. Namun bukan berarti Adam tak punya waktu sama sekali untuk menghubunginya, bukan? Saking kesalnya dengan keputusan Adam tersebut, Selina kemudian menolak untuk menemui Adam bahkan hingga di hari keberangkatannya ke London dan bahkan mengancam untuk tidak akan menghubungi Adam selama sahabatnya itu berada di luar negeri.

Payahnya, hanya beberapa hari setelah Adam pergi Selina merasakan kerinduan yang luar biasa pada sahabatnya tersebut. Ia merindukan ocehan Adam yang menyebalkan. Ia juga sangat merindukan Adam dan permainan gitarnya. Kunjungan ke Kafe Binggo terasa habar tanpa kehadiran Adam bersamanya. Yang lebih parah lagi, Selina bahkan merindukan cengiran khas Adam dengan sebelah alisnya yang bergerak itu. Hingga akhirnya Selina pun menyerah dan mengirimkan sepucuk surat ke alamat surel Adam. Surel itu tak mendapat balasan. Namun sebagai gantinya, Adam mengirimkan sebuah kartu pos setiap bulannya pada Selina. Kartu pos yang kini tersimpan rapi di sebuah kotak aluminium di meja kerjanya.

***

“Namanya Tiara. Dia gadis yang sangat baik. Kau pasti akan langsung suka padanya.” Adam memulai ceritanya tentang sosok calon istrinya.

Layaknya pria lain yang sedang jatuh cinta, Adam dengan penuh semangat bercerita tentang calon istrinya pada Selina. Mereka berdua bertemu saat Adam sedang berada di bus dalam perjalanan menuju tempatnya bekerja. Saat sedang sibuk dengan lamunannya, seorang gadis  tiba-tiba duduk di sampingnya. Karena merasa fisiknya yang mirip dengannya, Adam pun iseng menyapa si gadis. Ternyata, tak hanya berasal dari negeri yang sama. Si gadis juga tinggal di kota yang sama dengannya.

“Dia ternyata sudah tinggal di London selama dua tahun, sama sepertiku. Bahkan flat tempatnya tinggal pun tak jauh dari tempatku. Lucu sekali kami baru bertemu beberapa bulan yang lalu,” Adam menambahkan ceritanya, sementara Selina mendengarkan dengan perasaan yang tak keruan.

“Jadi kalian baru saja mulai berkencan?” tanya Selina kemudian.

“Baru tiga bulan, Selina.”

“Dan kau sudah memutuskan menikah dengannya?” Ada nada tidak percaya dalam pertanyaan Selina kali ini.

“Yah. Kau tahulah. Kami berdua sama-sama tinggal sendiri di London.” Adam menjawab tanpa memberi penjelasan langsung, namun cukup dipahami oleh otak kecil Selina.

“Jadi, kau pulang bersama Tiara?”

“Tentu saja! Bahkan kurasa saat ini dia sedang mempersiapkan diri di rumahnya. Aku berjanji untuk mengenalkanmu dengannya siang ini.”

“Secepat itu?” Selina terkesiap mendengar jawaban Adam. Dia sungguh tak menyangka Adam akan langsung memperkenalkan calon istrinya padanya. Tidak apa-apa sebenarnya. Namun untuk saat ini Selina merasa dia terlalu shock dengan berita yang dibawa Adam padanya. Bahkan kalau boleh jujur dia ingin menghabiskan seharian ini berdua saja dengan sahabatnya itu.

“Kenapa tidak. Kau akan menjadi salah satu pendampingnya di hari pernikahan kami nanti. Jadi bukankah sebaiknya kalian langsung kukenalkan saja?”

Mendengar kata pendamping yang keluar dari mulut Adam, Selina langsung merasa lemas.

Cerita selanjutnya : Her Bestfriend’s Wedding 4

29 pemikiran pada “Selina Story : Her Bestfriend’s Wedding (part 3)

  1. Ping balik: Selina Story : Her Best Friend’s Wedding (part 4) | SAVING MY MEMORIES

  2. Ping balik: Selina Story : Her Bestfriend’s Wedding (part 2) | SAVING MY MEMORIES

  3. Ping balik: Selina Story : Wedding Day | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s