Selina Story : Wedding Day

Cerita sebelumnya di sini.

“Cantiknyaa!”

Hanya itu kata yang bisa Selina ucapkan saat sosok Tiara berdiri di hadapannya. Setelah hampir satu jam menunggu di luar kamar, akhirnya ia dan Vania diijinkan untuk masuk dan melihat langsung hasil “transformasi” dari Tante Jihan, pemilik salon yang jasanya mereka sewa untuk hari bersejarah ini. Saat ini, di hadapan mereka berdiri Tiara yang mengenakan kebaya berwarna putih gading dengan rambut yang disanggul sederhana dengan hiasan bunga di sampingnya. Wajahnya dilapis make up dengan warna natural. Tak terlalu tebal, namun tetap menonjolkan kecantikannya sebagai calon pengantin.

Saat mereka sibuk mencari salon untuk mendekorasi gedung serta merias wajah Tiara dan keluarganya, baik Vania maupun Selina mengusulkan agar Tiara memilih salah satu dari gaun pengantin yang mereka lihat terpajang di salon-salon yang mereka kunjungi tersebut. Namun, Tiara rupanya memiliki rencana sendiri tentang busana yang akan ia kenakan di hari pentingnya. Alih-alih menyewa gaun pengantin dari salon, ia ternyata telah menyediakan gaun pengantinnya sendiri.

“Aku sudah menyiapkan kebaya ini sejak dua tahun yang lalu,” begitu kata Tiara yang sukses membuat Selina dan Vania terbengong-bengong. Lihatlah! Bahkan Vania, sahabatnya sendiri tak mengetahui hal tersebut. “Aku tahu ini terdengar aneh. Aku sendiri tak tahu mengapa aku melakukannyaa. Aku hanya merasa perlu mempersiapkannya,” sambung Tiara kemudian.

Selina sendiri, jika ditanya gaun apa yang ingin ia kenakan di hari pernikahannya, maka jawabannya takkan berubah dari yang pernah ditulisnya di buku hariannya semasa sekolah menengah dulu. Meski penampilan sehari-harinya selalu mirip laki-laki, namun pada dasarnya Selina tak jauh berbeda dengan perempuan lain pada umumnya, yang ingin terlihat sempurna di hari pernikahannya. Gaun pengantinnya akan berwarna kuning pucat, dengan rambut yang dihiasi bunga-bunga. Dan berhubung pria yang diimpikannya sebagai suami menikahi perempuan lain, maka hari ini Selina pun memutuskan mengenakan midi dress berwarna kuning pucat, dengan rambut yang dihiasi bandana berwarna putih.

“Nah, Tiara. Berhubung kau sudah selesai didandani, bisakah kau meminta gadis tomboy ini untuk mau didandani? Sejak tadi aku membujuknya namun ia bersikeras menghadiri pernikahanmu hanya dengan mengenakan bedak dan lipstik,” ujar Vania saat mereka bertiga memasuki kamar. Masih ada waktu setengah jam sebelum pernikahan dilangsungkan. Dan di ruangan lain, beberapa anggota keluarta Tiara masih sibuk didandani oleh asisten Tante Jihan.

Tiara memandang ke arah Selina sesaat. “Kau yakin dengan penampilanmu sekarang, Selina?” tanyanya.

“Iya. Aku selalu datang ke pernikahan seperti ini,” jawab Selina mantap.

“Nah, ini hari pernikahanku, dan kau adalah sahabat calon suamiku. Aku tidak mau melihat sahabat calon suamiku menghadiri pernikahan kami dengan dandanan seadanya. Aku akan meminta asisten Tante Jihan untuk merias wajahmu.”

“Tapi..”

“Ini permintaanku sebagai mempelai wanita. Apa kau tega menolaknya?”

Selina kini tak bisa berkata apa-apa lagi. Tiara sudah mengeluarkan senjata andalannya. Kau tak boleh menolak permintaan mempelai wanita, begitulah kebiasaan yang ada di tempat mereka. Akhirnya, sebagai tanda menyerah, Selina hanya bisa berkata, “Baiklah. Tapi aku mau Vania saja yang mendandaniku.”

***
Bicara soal didandani, Selina memiliki alasan sendiri mengapa ia menolak untuk didandani penata rias, terutama asistennya. Ini tentunya di luar gaya tomboy yang dimilikinya. Kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu, saat Selina dinyatakan lulus dari kampusnya dan mengikuti wisuda. Rencana awalnya, Selina akan menghadiri wisudanya dengan mengenakan stelan blazer saja. Toh di kampusnya bukanlah sebuah kewajiban untuk mengenakan kebaya lengkap di hari itu.

Namun tentu saja keiginannya itu ditentang keras oleh sang ibu. “Kalau kamu nekat cuma pakai blazer, ibu tidak akan menghadiri acara itu!” ancam sang ibu saat Selina mengungkapkan rencananya. Selina pun dengan terpaksa mengikuti keinginan ibunya. Pagi-pagi sekali ia datang ke salon yang sudah direkomendasikan ibunya untuk didandani. Saat itu pemilik salon sedang sibuk dan Selina akhirnya ditangani oleh salah satu asistennya.

Tak ada yang aneh ketika wajahnya sudah selesai didandani. Selina terlihat cantik dan mendapat pujian dari teman-temannya. Baru kemudian setelah acara selesai, dan Selina menghapus semua riasan wajahnya, dia sadar ada yang salah. Alisnya hilang separo! Bayangkan bagaimana paniknya Selina saat itu. Entah bagaimana bisa ia tak menyadarinya saat wajahnya didandani. Parahnya lagi, Adam tak henti-hentinya menertawakannya karena alisnya yang separo itu. Selina bahkan harus mengubah gaya rambutnya dan kerap mengenakan topi untuk menutupi alisnya jika sedang ke luar rumah. Sejak saat itu, Selina tak percaya lagi dengan para pegawai salon.

Dan untuk sekarang, Selina harus duduk dengan manis di depan meja rias Tiara sementara Vania bersiap-siap mendandaninya. Gadis itu berdiri di hadapan Selina dengan sebuah tas mungil berisi peralatan make up miliknya. Senyumnya melebar karena akhirnya berhasil membuat Selina mau didandani.

“Jangan khawatir, Selina. Aku akan membuatmu terlihat semakin cantik,” kata Vania sembari tangannya mengoleskan alas bedak ke wajah Selina.

“Jangan cukur alisku. Oke?”

“Tenang saja, aku hanya akan membentuknya dengan pensil alis. Nah, sekarang tutup matamu.”

Selina pun menutup matanya. Bisa dirasakannya jari-jari Vania mulai beraksi di wajahnya. Bedaknya ditebalkan, kelopak matanya diberi warna, alisnya dibentuk, bulu matanya dibuat lentik dan pipinya dibuat merona. Vania bahkan dengan sadisnya menghapus lipstik yang dipilih Selina dan menggantinya dengan warna yang baru.

Sementara Vania sedang sibuk mendandaninya, bisa didengarnya suara Tiara yang sedang berbicara dengan seseorang di ponsel (kemungkinan besar itu Adam). Sesekali juga Tiara mengomentari make up yang diberikan Vania pada Selina. Dan setelah rasanya puluhan menit menutup mata, Vania akhirnya selesai dengan pekerjaannya.

“Yak, sudah selesai! Kau boleh membuka matamu, Selina,” ujar Vania.

Perlahan, Selina membuka matanya. Di hadapannya kini duduk sosok yang berbeda dengan yang ia tatap sehari-hari. Matanya mendadak bertambah besar, tulang pipinya menjadi tinggi, alisnya juga berubah bentuk, dan bibirnya terlihat penuh. Selina tak bisa mengingat apakah saat ia didandani saat wisuda dulu, ia juga secantik ini. Namun yang jelas, untuk kali ini Selina harus mengakui kalau ia menyukai hasil “sulapan” Vania pada wajahnya. Tak salah memang jika Tiara mengatakan kalau sahabatnya itu memiliki bakat dalam rias-merias.

“Bagaimana? Apa kau menyukainya?” tanya Vania

Selina hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Kalau begitu, sebaiknya kita segera berangkat. Mobil jemputan sudah tiba beberapa menit yang lalu.”

***

Waktu menunjukkan pukul sembilan saat Tiara dan rombongan tiba di kafe Bingo, tempat pernikahan akan dilangsungkan. Kafe Bingo akhirnya dipilih menjadi tempat pelaksanaan pernikahan setelah dipastikan tak ada gedung yang bisa disewa untuk pernikahan Adam dan Tiara. Tanggal pernikahan yang mendadak serta waktu yang mepet membuat kedua orang tua Tiara tak berhasil mendapatkan gedung yang kosong di tanggal yang telah dipilih. Semua sudah dipesan berbulan-bulan sebelumnya. Untungnya Adam tak kehabisan akal. Berbekal dirinya yang pernah menjadi pengisi tetap di kafe Bingo ia pun menghubungi pemilik kafe dan mengajukan tawaran untuk menyewa kafe tersebut selama satu hari. Dan setelah melalui proses negosiasi yang alot, akhirnya pemilik kafe bersedia menyewakan tempatnya.

Begitu turun dari mobil, Tiara langsung diantar menuju sebuah tempat khusus yang disiapkan untuknya. Dalam tempat tersebut ia akan ditemani sang ibu dan beberapa anggota keluarga perempuan yang lain. Sebuah tabir dibentangkan di hadapan Tiara untuk menghalangi para undangan bisa memandang wajahnya. Baru nanti setelah akad nikah tabir tersebut dibuka dan Tiara akan diantarkan menuju tempat Adam.

Selina dan Vania sendiri langsung melangkahkan kakinya menuju bagian dalam cafe. Kursi-kursi yang disediakan untuk para anggota keluarga dan undangan khusus tampak sudah mulai terisi. Beberapa anggota keluarga Adam juga tampak baru tiba di kafe tersebut. Semuanya tampak kompak dan serasi dengan mengenakan stelan batik untuk pria, dan kebaya kreasi berwarna merah untuk wanitanya.

Di bagian panggung tampak Adam sedang duduk didampingi ayahnya dan penghulu. Ia mengenakan tuksedo berwarna putih gading dan rambut ikalnya disisir rapi ke belakang. Saat mata mereka bertabrakan, Adam menyunggingkan senyumnya pada Selina. Belum pernah rasanya Selina melihatnya setampan ini.

Selina kemudian mengambil duduk di bagian depan barisan, tepat di samping ibunya yang sepertinya sudah cukup lama berada di situ. Kening sang ibu berkerut ketika mengetahui Selina duduk di sampingnya. “Astaga, kupikir tadi siapa yang duduk di sebelahku. Kau terlihat sangat berbeda,” begitu kata ibunya yang hanya dibalas Selina dengan tersenyum.

***
Pukul sembilan tiga puluh, prosesi pernikahan pun dimulai. Vania yang ditunjuk menjadi MC langsung menjalankan tugasnya. Acara dimulai dengan sambutan dari kedua pihak keluarga, yang dilanjutkan dengan pesan-pesan pernikahan yang disampaikan oleh penghulu nikah. Setelah pesan pernikahan disampaikan, tibalah ke puncak acara, yakni pengucapan akad pernikahan oleh Adam di hadapan ayah Tiara dan disaksikan oleh dua orang wakil dar kedua keluarga.

Di antara seluruh rangkaian prosesi pernikahan, bagian inilah yang selalu menjadi favoritnya. Kata ibunya, saat akad nikah diucapkan, ribuan malaikat akan turun dan turut mendoakan kedua mempelai. Saat yang sangat diberkahi. Nafas Selina seketika tertahan saat dirinya menanti Adam mengucapkan akad pernikahannya. Jika dirinya yang hanya menyaksikan akad tersebut bisa segugup ini, bagaimana dengan Tiara yang sedang menanti di balik tabir? Pastilah gadis itu jauh lebih gugup dari dirinya.

Waktu seakan berjalan begitu lambat saat Adam kemudian mengucapkan akadnya. Dalam sekali helaan, pemuda itu mengucapkan akad pernikahannya. Tak ada nada keraguan dalam ucapannya. Selina yang mulanya menahan nafas langsung merasa lega saat para saksi menyatakan akad tersebut sah. Tanpa disadarinya, setitik air mata keluar dari matanya. Entah ini air mata sedih atau bahagia, Selina pun tak mengetahuinya.

***

Selina baru saja mengisi piringnya dengan salad saat Vania memanggilnya lewat mikrofon. Prosesi akad nikah sudah selesai beberapa menit yang lalu, dan sekarang adalah waktunya berfoto-foto. Para tamu juga sudah mulai berdatangan dan mengambil makanan mereka masing-masing. Karena tak ingin kehabisan menu-menu kesukaannya, Selina memutuskan untuk langsung mengunjungi stand makanan sesaat setelah prosesi akah nikah selesai. Sayangnya sepertinya niatnya tak bisa terlaksana.

“Kepada nona Selina, harap segera habiskan makananmu dan segera menuju panggung untuk berfoto bersama kedua mempelai.” Untuk kedua kalinya Vania memanggilnya. Mau tak mau Selina meletakkan piringnya dan melangkahkan kakinya menuju panggung.

“Nah, Selina, kau berdiri di samping Adam, ya,” kata Vania saat Selina sudah berada di atas panggung. Di hadapannya tampak Adam dan Tiara yang tersenyum bahagia.

Tanpa banyak protes, ia pun berdiri di samping Adam, sementara Vania di samping Tiara. Saat tubuhnya sudah berada di samping Adam, sahabatnya itu kemudian berkata, “Kau terlihat sangat cantik, Selina.”

Tersenyum, Selina pun membalas. “Sudah terlambat, Adam. Kau sudah menikah.”

Dan Adam hanya tersenyum lebar mendengar jawaban Selina.

***

Catatan :

Akhirnya selesai juga bagian kedua dari cerita Selina. Insya Allah setelah ini cerita Selina masih akan berlanjut  (doain yaa :D). Bagi yang ingin membaca cerita lengkap Selina, berikut daftar Urutannya:

1. Selina Gadis Pengintai

2. Selina Case : Finding Mr. Mechanic

3. Her Bestfriend’s Wedding

4. Her Bestfriend’s Wedding 2

5. Her Bestfriend’s Wedding 3

6. Her Bestfriend’s Wedding 4

7. Selina’s Diary

8. Another Bestfriend

9. Another Bestfriend 2

10. Midnight Talk

32 pemikiran pada “Selina Story : Wedding Day

  1. Ping balik: [Selina Story] Broken Date | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s