Blog Baru

Assalamu’alaikum. Bagi teman-teman yang mampir ke blog ini, melalui postingan ini saya ingin memberitahukan kalau saya sudah pindah ke alamat baru di:

www. ayanapunya.com

Saya akan senang sekali jika teman-teman sekalian berkunjung ke rumah saya yang baru 🙂

See You!

Hadiah dari Ayah untuk si Kecil

“Dede-nya di mana?” tanya seorang kawan saat ia datang di syukuran akikah Yumna, anak perempuan saya dan suami.

Saya kemudian menunjuk sebuah box setinggi 1,5 meter dengan kelambu berwana jingga yang berada di salah satu sudut ruangan.

“Loh, ini box bayi, ya? Kirain lemari apa tadi,” kata teman saya tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia kemudian segera menghampiri box tersebut dan menyapa putri saya yang sedang tertidur.

“Bikin sendiri?” tanyanya lagi setelah kembali duduk bersama saya.

Saya menganggukkan kepala. “Ayahnya yang bikinin,” kata saya kemudian.

“Wah keren euy bisa bikin yang seperti ini.”

Saya hanya tersenyum mendengar perkataannya. Pikiran saya pun kembali ke masa proses pembuatan box bayi untuk Yumna.

img_20161210_153831.jpg

Pembuatan badan box bayi

Baca lebih lanjut

Balada ASI untuk Yumna

“Ngejan satu kali lagi, ya. Ini kepalanya sudah kelihatan,” begitu kata bidan pada saya di malam kelahiran Yumna. Saat itu entah sudah kali berapa saya mengerahkan kekuatan untuk mengejan. Setiap kali proses mengejan dimulai, saya selalu diingatkan untuk tidak memejamkan mata dan konsentrasi menatap bagian perut. Suami juga tak ketinggalan memberikan kekuatan dengan membisikkan kata-kata positif pada saya.

Untuk kali ini, sesuai aba-aba, saya pun mengumpulkan kekuatan kembali untuk mengejan ketika kontraksi terasa. Nah, saat mengejan ini, tiba-tiba saya mendengar ada sesuatu yang digunting. Rupanya Bu Bidan berinisiatif menggunting bagian perineum saya agar bayi bisa segera keluar. Hanya selang beberapa detik dari pengguntingan, keluarlah sesosok bayi mungil yang selama 9 bulan saya kandung. Suara tangisnya langsung memenuhi ruangan tempat saya bersalin.

Setelah dibersihkan, saya langsung meminta agar dilakukan IMD. Seorang bidan kemudian meletakkan bayi saya di dada saya. “Wah ini putingnya datar. Coba tarik biar bisa keluar,” kata bidan saat melihat payudara saya. Seorang asisten bidan kemudian menarik puting payudara saya dan meletakkan mulut bayi saya di sana. Jujur saya agak kecewa dengan keadaan ini. Sebab yang saya tahu, dalam proses IMD, bayi dibiarkan mencari sendiri puting ibunya.

Baca lebih lanjut

Cerita Kelahiran Yumna

“Dede nanti lahirnya sebelum tanggal 30 aja ya” begitulah obrolan yang kerap saya bisikkan pada bayi saya saat masih dalam kandungan beberapa waktu lalu. Sejak awal saya memang berharap bisa melahirkan pada pertengahan Desember meski HPL menunjukkan saya idealnya melahirkan di akhir Desember. Alasan utama yang membuat saya ingin melahirkan di pertengahan bulan adalah karena ayahnya lahir di pertengahan Desember, jadi saya berharap anak kami tanggal lahirnya tak jauh dari ayahnya. Selain itu, bobot perkiraan bayi yang lumayan besar membuat saya rada keder kalau harus melahirkan di usia kehamilan 40 minggu.

Atas keinginan ini, saya pun mengambil cuti tepat di pertengahan Desember. Dengan harap-harap cemas, saya pun menjalani minggu 38 kehamilan. Kapan ya kira-kira keluar tanda-tanda akan melahirkan seperti flek atau kontraksi? Begitu yang saya pikirkan setiap harinya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian mulai menunjukkan jawabannya pada Senin malam tanggal 19 Desember. Saat itu entah kenapa saya tiba-tiba merasakan kram pada perut bagian bawah. Sebenarnya kalau kram perut ini sudah cukup sering saya rasakan di minggu 37 kehamilan. Namun untuk kali ini kram yang rasakan sedikit berbeda dari biasanya. Saya pun berinisiatif ke kamar mandi untuk melakukan pengecekan. Benar saja. Ada flek di celana dalam saya. Saya pun segera memberi tahu ibu dan suami yang sedang sibuk menyelesaikan box bayi untuk calon anak kami nanti.

Baca lebih lanjut

Trimester Tiga Kehamilan

Alhamdulillah minggu ini usia kehamilan saya sudah memasuki minggu 38. Kalau kata orang sih, sudah tinggal menunggu harinya, sebab dari minggu 37, bayi sudah siap lahir. Saya sendiri juga sudah tidak sabar menanti kelahiran si Dede Cinta, panggilan sayang saya dan suami untuk si bayi. Pengennya sih lahirnya sebelum HPL mengingat kata dokter ukuran bayi saya lumayan besar. Terakhir periksa kemarin, beratnya sudah 3,3 kilo, asli deh saya nervous dibuatnya. Antara yakin dan tidak yakin bakal bisa lahiran normal atau tidak.

Menjalani trimester tiga ini, kayaknya tidak terlalu berbeda dengan trimester dua kemarin. Perut yang membesar dan pegal di sana-sini merupakan dua hal yang pasti dirasakan. Namun ada beberapa hal yang saya ingin catat lebih detail tentang hal-hal yang saya alami di trimester tiga kehamilan. Adapun beberapa hal yang bisa saya rangkumkan dari kehamilan trimester tiga ini antara lain:

Bayinya ternyata lumayan besar

Saat saya dan suami periksa ke dokter kandungan di usia kehamilan 33 minggu, secara spontan dokter mengatakan kalau ukuran bayi saya lumayan besar. Kalau tidak salah beratnya sekitar 2300 gram sementara menurut tabel kehamilan idealnya berat bayi usia 33 minggu sekitar 1800 gram saja. “Kamu harus mulai kurangi makan nasi dan yang manis-manis. Kalau tidak ini lahirnya bisa 3,5 kilo nanti,” begitu kata dokter kala itu. Saat itu saya agak bandel dan tidak terlalu disiplin soal diet karbo ini. Makan nasi memang rada dikurangi sih, tapi saya masih suka ngemil kue. Apalagi di kantor godaannya lumayan besar.

Baca lebih lanjut