Membersamai si Sakit

Driss adalah seorang pemuda kulit hitam yang datang ke kediaman Philippe untuk mendapatkan uang jaminan sosial. Anehnya, Philippe, sang milyuner yang lumpuh seluruh tubuhnya itu malah memintanya bekerja di rumahnya. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Driss menerima tawaran pekerjaan tersebut.

Meski pekerjaannya adalah menjadi asisten seorang pria lumpuh, namun Driss menjalankan pekerjaannya tersebut dengan senang hati. Mulai dari memandikan Philippe, hingga membersihkan (maaf) kotorannya, semua dilakukan Driss seolah tanpa beban. Driss telah membawa warna tersendiri dalam hidup Philippe. Driss bahkan yang mendorong Philippe untuk mau berkenalan dengan seorang wanita. Mungkin hal itulah yang pada akhirnya kemudian membuat hubungan Driss dengan Philippe lebih seperti sahabat ketimbang pelayan dengan majikan.

Jika di the Intouchables bercerita tentang persahabatan seorang lumpuh dengan asistennya, maka dalam Amour, diceritakan seorang suami yang harus merawat istrinya yang menderita kelumpuhan pada tubuh bagian kanannya. Mulanya George, sang suami, merawat dengan Anne dengan penuh kesabaran. Namun seiring waktu, kelumpuhan yang diderita Anne bertambah parah. Ini membuat George frustasi dan kadang tanpa sadar bertindak sedikit kasar pada Anne. Bahkan pada akhirnya, George pun menyerah dalam upayanya merawat sang istri tercinta.

Selain The Intouchables dan Amour, film Iran peraih Oscar, A Separation juga bercerita tentang seorang anak yang harus mengurus ayahnya yang sakit. Bahkan bisa dibilang sang ayah inilah yang menjadi salah satu faktor perpisahan Simin dan Nader. Nader yang tak bisa meninggalkan sang ayah yang menderita Alzheimer menolak ajakan Simin untuk pindah ke Amerika. Simin kemudian mengajukan gugatan cerai, dan Nader terpaksa memperkerjakan seorang Razieh untuk mengurus rumah dan ayahnya sementara ia bekerja. Masalah timbul ketika ayah Nader bangun dan harus buang air kecil. Razieh yang bingung sampai harus berkonsultasi apakah ia diperbolehkan untuk memandikan dan membersihkan tubuh ayah Nader. Ini mengingat posisinya yang bukan mahram dari si ayah

Di keluarga saya sendiri, saat ini kami harus mengurus ayah saya yang sudah hampir tiga tahun ini sakit. Kadang ada rasa kesal saat beliau melakukan hal-hal yang tidak kami sukai. Kadang juga kami dibuat hampir menangis karena kelelahan mengurus beliau. Saya sadar sepenuhnya tentu ini bukan yang ayah ingin. Pasti sangat menyiksa saat kita tidak bisa menggerakkan tubuh kita. Saya hanya berharap semoga sakit yang beliau tanggung saat ini bisa menggugurkan dosa-dosa beliau.

16 pemikiran pada “Membersamai si Sakit

  1. saya bisa bayangkan gimana perasaan si ayah…. sama saat ini yg dialami suami. iman diuji, bisa naik turun. sejak april lalu suami belum bisa bergerak. kasihan, harus extra sabar. sing waras ngalah…. semoga aja selalu ditetapkan iman untuk ayah yah. doakan pula sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s