[Berani Cerita #38] Luka Lama

Mataku menatap ke sekitarku. Sudah cukup lama rasanya sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di tempat ini. Apakah itu enam bulan? Sembilan bulan? Atau bahkan mungkin satu tahun? Entahlah. Aku tak bisa mengingatnya dengan pasti. Yang bisa kuingat, terakhir kali aku ke tempat ini adalah saat kebakaran besar melahap tempat ini dan tak lama kemudian kami sekeluarga harus pindah ke tempat baru.

Sekian lama tak berkunjung, bisa kulihat beberapa perubahan dari tempat ini. Jalanan yang dulu sedikit becek kini sudah berganti menjadi lantai-lantai beton yang tentunya lebih nyaman di kaki. Los-los yang dulu tak beraturan kini juga sudah tertata rapi. Para penjual ayam dan ikan-ikan di los A, para penjual sayur di los B, dan para penjual kelontong di los C. Beberapa papan penunjuk arah kulihat terpampang pada setiap jalur los-los tersebut, yang tentunya memudahkan para pengunjung yang ingin berbelanja.

Di bagian depan, para penjual kue dan pengganjal perut yang lain berjejer rapi memamerkan dagangan mereka. Bagi mereka yang sibuk berbelanja sepanjang pagi, singgah di los ini jelas menjadi godaan tersendiri. Kue serabi, lumpia bahkan nasi rames dan nasi sop akan menjadi penganan yang nikmat bagi kaki-kaki yang lelah dan bibir yang sibuk menawar barang-barang yang dibeli sebelumnya. Aku sendiri bahkan saat tiba di tempat ini sudah berhasil digoda oleh semangkuk bubur ayam yang dijual salah satu penjual di los tersebut.

Baca lebih lanjut