Trimester Tiga Kehamilan

Alhamdulillah minggu ini usia kehamilan saya sudah memasuki minggu 38. Kalau kata orang sih, sudah tinggal menunggu harinya, sebab dari minggu 37, bayi sudah siap lahir. Saya sendiri juga sudah tidak sabar menanti kelahiran si Dede Cinta, panggilan sayang saya dan suami untuk si bayi. Pengennya sih lahirnya sebelum HPL mengingat kata dokter ukuran bayi saya lumayan besar. Terakhir periksa kemarin, beratnya sudah 3,3 kilo, asli deh saya nervous dibuatnya. Antara yakin dan tidak yakin bakal bisa lahiran normal atau tidak.

Menjalani trimester tiga ini, kayaknya tidak terlalu berbeda dengan trimester dua kemarin. Perut yang membesar dan pegal di sana-sini merupakan dua hal yang pasti dirasakan. Namun ada beberapa hal yang saya ingin catat lebih detail tentang hal-hal yang saya alami di trimester tiga kehamilan. Adapun beberapa hal yang bisa saya rangkumkan dari kehamilan trimester tiga ini antara lain:

Bayinya ternyata lumayan besar

Saat saya dan suami periksa ke dokter kandungan di usia kehamilan 33 minggu, secara spontan dokter mengatakan kalau ukuran bayi saya lumayan besar. Kalau tidak salah beratnya sekitar 2300 gram sementara menurut tabel kehamilan idealnya berat bayi usia 33 minggu sekitar 1800 gram saja. “Kamu harus mulai kurangi makan nasi dan yang manis-manis. Kalau tidak ini lahirnya bisa 3,5 kilo nanti,” begitu kata dokter kala itu. Saat itu saya agak bandel dan tidak terlalu disiplin soal diet karbo ini. Makan nasi memang rada dikurangi sih, tapi saya masih suka ngemil kue. Apalagi di kantor godaannya lumayan besar.

Baca lebih lanjut

[Review] Tentang Kamu

Saya baru saja menamatkan novel terbaru Tere Liye yang berjudul Tentang Kamu. Saat pertama kali Tere Liye menyebutkan proyek terbarunya ini dalam acara di Duta Mal beberapa waktu yang lalu, saya sempat berpikir kalau novel ini bergenre romance. Tebakan ini kemudian semakin menguat saat saya melihat covernya yang berwarna jingga dengan ilustrasi sepasang sepatu. Bukankah jingga yang diidentikkan dengan senja itu termasuk warna romantis? Belum lagi sepasang sepatu yang akhir-akhir ini dikaitkan dengan jodoh.

Kenyataannya, Tentang Kamu tidak bercerita tentang kisah cinta. Ada sih, tapi hanya satu bab kalau tidak salah. Novel ini lebih bercerita tentang kisah perjuangan hidup dan nilai-nilai yang bisa diambil dari perjalanan hidup salah satu tokoh daam novel ini. Diceritakan seorang pengacara muda bernama Zaman Zulkarnaen yang bekerja di firma hukum di Inggris bernama Thompson & Co. Meski bukan termasuk dalam jajaran firma hukum ternama, dari dosennya, Zaman tahu kalau firma hukum ini memiliki integritas yang sangat tinggi. Dalam menjalankan usahanya, Thompson & Co lebih mengkhususkan diri pada urusan waris para kliennya.

Satu hari, Zaman diminta menyelesaikan urusan waris salah satu klien Thompson & Co yang baru saja meninggal. Klien ini meninggalkan harta bernilai triliunan rupiah, namun menghabiskan masa tuanya di sebuah panti jompo di Paris. Tugas Zaman adalah menemukan ahli waris dari almarhum klien. Yang membuat Zaman terkejut, sosok yang akan ditelusurinya ini ternyata berasal dari negara yang sama dengannya, yakni Indonesia, dan bernama Sri Ningsih.

Baca lebih lanjut

5 Hal yang Menganggu Pemandangan dalam Berkendara

chair-1840011_640

Gambar : Pixabay

Sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan daerah, sehari-hari saya menggunakan motor untuk mengakomodasi keperluan saya dalam bermobilisasi. Biasanya, perjalanan dari rumah menuju kantor memakan waktu kurang lebih 15 menit. Di Banjarmasin sendiri, bisa dibilang rata-rata penduduknya menggunakan motor untuk kemana-mana. Mungkin karena Banjarmasin kotanya kecil dan lebih gampang naik motor ketimbang naik mobil atau angkutan kota.

Namanya pengendara motor, tentu ada saja suka duka yang saya rasakan. Mulai dari terserempet di jalan, jatuh dari motor, hingga ban bocor. Selain kejadian-kejadian kecil macam tadi, kadang-kadang dalam perjalanan naik motor ini saya menemukan berbagai pemandangan baik yang menyenangkan maupun yang membuat saya merasa terganggu. Pemandangan menyenangkan biasanya berhubungan dengan keindahan alam atau hal-hal baru yang saya temui dalam perjalanan. Sedangkan pemandangan yang mengganggu biasanya berkaitan dengan orang-orang yang saya temui sepanjang perjalanan. Nah, untuk kali ini, saya ingin berbagi beberapa hal yang membuat saya merasa terganggu dalam perjalanan:

Baca lebih lanjut

Amitabh Bachchan dan Peran-peran yang Dimainkannya

Sebelum era Shahrukh Khan, Amitabh Bachchan merupakan rajanya perfilman Bollywood di tahun 70 hingga 80-an. Di tahun 90-an Amitabh Bachchan sempat vakum selama beberapa tahun untuk membesarkan rumah produksinya sendiri yang sayangnya bangkrut. Kerennya, hingga usianya yang sudah melampaui 70 tahun seperti sekarang, Amitabh Bachchan tetap eksis di perfilman Bollwood.

Di tahun 2000, Amitabh Bachchan kembali ke dunia film Bollywood lewat film Mohabbatein. Meski hanya berperan sebagai pemeran pendukung, film ini menjadi titik balik dari kembalinya sang superstar 70-an. Dan kini, berkat semakin kreatifnya sutradara Bollywood, sosoknya yang sudah sepuh ini tetap dipercaya memerankan tokoh utama dalam beberapa filmnya. Yah, kualitas akting memang tidak bisa bohong kan, ya? Kali ini saya akan mereview beberapa sosok yang dimainkan Amitabh Bachchan selama beberapa tahun terakhir.

Amitabh Sinha – Shamitabh

Shamitabh bercerita tentang seorang pemuda bernama Daanish yang bercita-cita menjadi seorang aktor. Meski memiliki kemampuan akting yang mumpuni, kondisi Daanish yang tuna wicara membuatnya nyaris tak bisa mewujudkan mimpinya. Hingga kemudian ia bertemu dengan seorang pria tua bernama Amitabh Sinha yang diperankan oleh Amitabh Bachchan. Amitabh ini juga sebenarnya bermimpi untuk bisa menjadi aktor terkenal. Sayangnya, karena suaranya yang dinilai terlalu berat ia tak pernah bisa mewujudkan mimpinya.

Baca lebih lanjut

Belajar tentang ASI di Kelas EdukASI AIMI Kalsel

20161124_153634.jpg

Hari itu, saya bersiap menuju IAIN Antasari untuk mengikuti Kelas EdukASI yang diadakan oleh AIMI Kalsel. Saat akan berangkat, ibu tiba-tiba menegur saya.

“Mau ke mana lagi?” tanya ibu.

“Mau belajar tentang ASI. Lanjutan yang kemarin,” jawab saya. Memang hari sebelumnya saya sudah mengikuti kelas pertama dari Kelas EdukASI ini

“Ah, menyusui aja harus ikut kelas segala. Mama dulu nggak pakai belajar lancar-lancar aja ASI-nya,” kata ibu saya lagi.

Saya hanya tersenyum mendengar jawaban ibu saya itu. Memang sebagai ibu dari 3 orang anak, ibu saya terbilang sukses memberi ASI pada saya dan kedua adik saya. Seingat saya, tak satupun dari kami yang berkenalan dengan susu formula di masa kecil. Ya selain karena susu formula mahal juga karena ASI ibu saya cukup tadi.

“Ya mumpung gratis ini, Ma,” jawab saya kemudian. Usai percakapan singkat dengan ibu, saya pun langsung memacu motor menuju lokasi acara.

Baca lebih lanjut