Pendidikan Anak-anak

Hari itu, seperti biasa saya datang ke rumah ustadzah untuk menyetorkan hafalan. Ada beberapa orang yang hadir pada pertemuan hari itu. Dua orang santri lama, dan tiga orang santri yang baru naik ke kelas tahfidz. Selain para santri, ada juga Asma, putri bungsu ustadzah. Beberapa minggu tak bersua, balita berusia dua tahun itu terlihat lebih kurus dari sebelumnya.

Sambil menunggu giliran menyetor, saya pun mulai membaca ulang ayat-ayat yang akan saya setor hari itu. Seperti biasa, berada di tempat tahfidz membuat proses menghafal saya lebih cepat ketimbang berada di rumah. Beberapa teman lain juga melakukan hal yang sama. Sedangkan Asma, tampak sibuk dengan kegiatannya sendiri.

Saat tiap orang sibuk dengan hafalannya masing-masing, tiba-tiba saja Asma turut bersuara. Dengan pelafalan yang seadanya, Asma menghafalkan surah Ad-Dhuha yang kebetulan sedang dihafalkan salah satu santri baru. Kami yang mulanya sibuk dengan hafalan masing-masing sontak menghentikan kegiatan hafalan kami, dan terpana melihat kelakuan Asma tersebut. Tak hanya turut menghafal, Asma bahkan turut membuka al qur’an yang ada di meja, dan meminta salah satu dari kami menjagakan hafalannya. Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan bagi saya.

Sebenarnya mungkin bukan hal yang aneh jika Asma sudah bisa mengikuti hafalan di usianya yang baru dua tahun. Tumbuh di lingkungan para pecinta qur’an pastilah membuatnya terbiasa mendengar lantunan ayat al qur’an dan sedikit-sedikit hafal dengan isinya. Atau mungkin bisa jadi sang ibu yang sudah mulai mengajak Asma menghafalkan al qur’an di usianya yang masih dini, seperti adik Musa yang hafiz Indonesia itu.

Lain dengan Asma, sebuah kisah menarik juga saya dapatkan dari salah satu rekan kantor. Bukan hal yang baru sebenarnya, namun tetap saja setiap kali mendengarnya membuat saya merasa terganggu. Dalam salah satu pembicaraan sarapan kami, salah satu teman kerja saya bercerita tentang putranya yang kini bersekolah di sebuah TK Islami. “Anakku sekarang disuruh belajar menulis dan dikasih PR. Padahal setahuku anak TK kan belum wajib diajarkan calistung,” begitu katanya. Parahnya lagi, untuk persiapan masuk SD kelak, para anak TK tersebut akan diikutkan les yang diadakan sekolah. Mendengar hal tersebut, saya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Namun, saat hal ini dibahas lagi pada kesempatan lain, salah satu rekan senior kemudian memberikan jawaban, “Masalahnya, kalau tidak dari TK dikejar, pas SD mereka keteteran,” begitu kata kakak itu. Saya langsung terdiam. Ada benarnya juga jawaban rekan senior tersebut. Jika melihat bagaimana materi pelajaran sekolah kita di masa sekarang, pastilah sangat sulit bagi anak-anak TK sekarang jika hanya membekali diri dengan nyanyian saat masuk SD-nya. Di saat saya dulu masih mengeja Ini Ibu Budi, maka anak kelas satu jaman sekarang sudah belajar menyelesaikan soal cerita. Ah, kalau sudah begini saya merasa semakin aneh saja dengan sistem pendidikan kira.

Hal lain yang menjadi pemikiran saya kemudian, bagaimana jika saya nantinya menjadi seorang ibu? Bagi mereka yang memilih menjadi ibu rumah tangga, tentu akan memiliki waktu untuk mengajari anak mereka. Adapun para ibu yang bekerja, salah satu pilihan aman adalah memasukkan anak mereka ke sekolah Islam Terpadu. Harapannya selain belajar tentang ilmu keduniaan, anak juga mendapat pelajaran tentang akhlak.

Saya sendiri belum bisa memastikan akan memilih jalan yang mana. Harapan saya, apapun pilihan saya jika dikarunai anak nanti, saya bisa menjadi pengajar yang baik bagi anak-anak saya.

7 pemikiran pada “Pendidikan Anak-anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s