[Selina Story] Investigasi Pertama – part 2

Cerita sebelumnya di sini.

Keduanya sudah kembali ke ruangan Sony. Berbeda dengan saat ia berada di ruangan tersebut beberapa menit sebelumnya, kali ini di hadapan Selina sudah terhidang secangkir teh hangat dan dua potong brownies sebagai pengisi perut.

“Bagaimana pendapatmu? Apakah pelakunya juga seorang Auralis?” Tanya Sony usai menyesap kopinya.

“Hmm. Ini agak membingungkan. Bisa jadi pelakunya ini memiliki kemampuan menghilang sepertiku. Tapi aku masih tak tahu bagaimana cara orang itu mengambil berkas itu dari lemarimu tanpa membukanya terlebih dahulu.”

“Bukankah selain menghilang kau juga mampu menembus benda padat? Maksudku tidak mungkin bukan kau bisa melakukan pengintaian jika kau harus menunggu seseorang untuk membukakanmu pintu?”

“Benar. Tapi benda padat yang bisa kulewati itu berupa dinding atau pintu. Kalau lemari seperti ini jelas tidak bisa kulewati. Lagipula seandainya bisa pun bagaimana aku bisa memastikan aku mengambil dokumen yang benar?”

Sony menganggukkan kepalanya. “Benar juga. Jadi apa kau punya kesimpulan lain?”

“Entahlah,” Selina mengedikkan bahunya.

“Apa mungkin pelakunya memiliki dua kekuatan? Menghilang dan menghentikan waktu, misalnya?”

Selina menggelengkan kepalanya.

“Setahuku kaum Auralis hanya dikaruniai satu kekuatan. Dan untuk menghentikan waktu, yah aku belum pernah mendengar kaum kami yang memiliki kekuatan di luar tubuh kami sendiri.”

“Maksudmu?” Sony bertanya lagi.

Selina kemudian menjelaskan tentang kemampuan yang biasanya dimilik para Auralis.

“Rata-rata kemampuan yang dimiliki lebih bersifat kemampuan fisik. Memindahkan barang, berpindah tempat, menghilang, telinga dan mata super. Intinya kami tak memiliki kekuatan untuk mengendalikan benda-benda di luar tubuh kami.”

Sony mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Selina tersebut. Selina sendiri mulai mengetukkan tangannya ke atas meja, tanda ia mulai berpikir keras. Akhirnya setelah beberapa menit dilewati dalam diam, Selina memutuskan sesuatu.

“Sepertinya aku perlu data para karyawanmu. Curiculum vitae mereka hingga alamat media sosial yang mereka miliki. Apa aku bisa mendapatkannya?” tanya Selina kemudian.

“Apakah itu artinya kau setuju untuk menolongku?” alih-alih menjawab, Sony malah balik bertanya pada Selina.
Selina terdiam sesaat.

“Umm.. yah kurasa begitu,” jawabnya kemudian.

***
Sekitar pukul dua siang Selina kembali ke toko miliknya. Tangan kanannya kini mendekap sebuah map berisi data karyawan di perusahaan Sony sementara tangan kirinya menenteng sebuah kantong plastik berisi seporsi makan siang. Sebelum ia pulang tadi, Sony bersikeras mengajaknya makan siang di sebuah rumah makan dekat kantornya. “Kau adalah tamuku. Sudah kewajibanku untuk mentraktirmu,” begitu kata Sony saat mengajak Selina makan. Beruntung hari ini Dania tidak ada jadwal kuliah. Sehingga Selina tidak perlu khawatir meninggalkan toko lama-lama.

Saat memasuki toko, tampak Dania masih sibuk dengan pekerjaannya. Rambut hitamnya yang dikuncir seadanya tampak menyembul di balik monitor yang biasa digunakan Selina untuk bekerja. Sepertinya ia sedang melakukan transaksi online dengan salah satu pelanggan toko.

“Dania, ini kubawakan makan siang untukmu,” kata Selina sambil meletakkan bungkusan di tangannya di hadapan Dania. Mendengar suara Selina, lekas Dania menghentikan kegiatannya.

“Wah, bebek goreng bu Martha! Kebetulan sekali aku sudah lama tidak makan di situ,” Dania berseru senang saat tahu makanan yang dibawakan Selina untuknya. Tanpa menunggu lama segera gadis manis tersebut menuju dapur untuk mengambil segelas air

“Ngomong-ngomong kau tadi pergi ke mana, Kak?” Tanya Dania sambil membuka kotak makanannya.

“Umm… aku tadi pergi ke kantor Sony,”

Mendengar jawaban Selina, Dania langsung bersiul kecil. Sejak kedatangan pria itu ke tokonya, Dania memang kerap menggoda Selina.

“Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku pergi ke sana untuk urusan pekerjaan”

“Aku kan tidak berkata apa-apa,” Dania berkata lagi sambil mulai melahap bebek goreng yang ada di hadapannya. Gadis itu bersikap seolah-olah tak ada yang salah dengan kelakuannya.

Selina akhirnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan asistennya tersebut.

“Ah, sudahlah. Habiskan saja bebek gorengmu,” katanya kemudian sembari meninggalkan Dania dan bebek gorengnya.

***
Setelah semua urusan di toko selesai, Selina memulai penyelidikannya. Di mejanya kini sudah siap setumpuk berkas para karyawan yang diberikan Sony padanya. Laptop di hadapannya juga menampilkan sederet alamat media sosial yang dikirimkan Sony beberapa jam sebelumnya. Total ada dua puluh lima karyawan yang bekerja di perusahaan Sony. Semuanya terbagi dalam empat divisi. HRD, tim kreatif, tim grafis, dan tentunya divisi keamanan.

Sebagai langkah awal, Selina akan menyelediki latar belakang para karyawan Sony tersebut melalui arsip dan media sosial tersebut. Jujur ia tak punya bayangan akan makan waktu berapa lama baginya untuk bisa menyelesaikan penyelidikan awalnya ini. Yang jelas sebagai persiapan, secangkir kopi sudah siap menemaninya malam ini.

Cerita selanjutnya di sini.

***

Catatan :

Karena sudah mulai beralih ke cerita ala detektif, jujur agak sulit bagi saya untuk melanjutkan cerita Selina. Bagi yang mengikuti cerita ini dari awal mungkin akan menyadari beberapa ketidaksinkronan cerita. Karena itu saya harap permaklumannya 🙂

24 pemikiran pada “[Selina Story] Investigasi Pertama – part 2

  1. beberapa waktu yang lalu saya nonton acara tentang hewan-hewan hibrid, hasil persilangan dua spesies yang berbeda dan melahirkan keturunan yang menggabungkan sifat kedua induknya. apakah bisa dua auralis yang memiliki kekuatan beda, menikah, kemudian anaknya memiliki kekuatan gabungan?

  2. Ping balik: [Selina Story] Meeting with Friend | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s