[cerbung Cemara] Dilema Ayah Tampan

“Cemara, temani ayah ke kondangan, ya,” suara ayahnya terdengar dari pintu kamarnya yang sengaja dibuka. Cemara, yang saat itu sedang asik dengan novel di tangannya mengalihkan pandangannya sejenak. Di sana, di depan kamar, tampak ayahnya sudah rapi dengan stelan batik melekat di badannya.

“Sama Sisi aja deh, Yah. Cemara lagi malas keluar, nih. Panas betul harinya,” jawabnya kemudian. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia kembali menekuni bacaannya.

“Akasia sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya. Lagipula kita kan naik mobil,” ayahnya berkata lagi.

Cemara tak bergeming dengan kata-kata ayahnya tersebut. Memang sebenarnya bukan perkara panas yang membuatnya menolak ajakan sang ayah. Beberapa puluh menit yang lalu, ia baru saja selesai membersihkan kamar dan seisi rumah. Sebenarnya itu adalah kegiatan rutin tiap minggu, namun untuk kali ini Cemara malas sekali untuk beranjak dari tempat tidurnya yang sudah rapi dengan alas tidur yang baru. Tambahan lagi, saat ini dia sedang membaca novel terbaru dari salah satu penulis favoritnya. Novel itu sudah dibelinya sejak berbulan-bulan yang lalu. Namun karena kesibukan di kantor membuatnya baru kali ini bisa membaca novel tersebut. Dan Cemara bukanlah tipe orang yang bisa membaca novel dengan dua tiga kali duduk.

“Ya sudah kalau kamu tidak bisa ikut, ayah minta temani om Fuad saja. Siapa tahu dia belum berangkat.”

Mendengar kata-kata ayahnya tersebut, mendadak Cemara beranjak dari tempat tidurnya. Sudah bukan rahasia lagi sejak beberapa minggu terakhir nama om Fuad seperti sebuah pemicu bom waktu di rumah itu, terutama bagi Cemara. Sambil bersungut-sungut, Cemara pun mengambil handuk yang tergantung di pintu lemari pakaiannya. “Iya, deh Cemara temani. Tunggu lima belas menit yak. Tuan putri mau dandan cantik dulu,” katanya kemudian

***

Semenjak ibunya meninggal dua tahun yang lalu, secara otomatis Cemara-lah yang menggantikan tugas sang ibu untuk menemani ayahnya menghadiri undangan pernikahan. Ayahnya adalah tipe orang yang tak mau datang ke undangan pernikahan jika tak ada yang menemani, persis seperti dirinya.

Cemara sendiri tak pernah keberatan dengan tugasnya tersebut. Sejak kecil ia sudah terbiasa bepergian berdua saja dengan ayahnya. Entah itu untuk menghadiri undangan pernikahan, atau sebaliknya, ayahnya yang menemaninya ke suatu acara atau berbelanja. Bahkan bisa dibilang, untuk urusan belanja, Cemara lebih senang ditemani ayahnya ketimbang ibunya. Alasannya jelas, ayahnya lebih royal dalam mengeluarkan uang, dan tak terlalu cerewet dengan pilihan Cemara.

Selain alasan di atas, ada juga alasan lain yang membuat Cemara tak pernah keberatan jika harus menemani ayahnya. Menurut kebanyakan orang, dan tentunya juga menurut Cemara sendiri, ayahnya termasuk pria yang tampan dan awet muda. Bahkan ketika usianya memasuki setengah abad, masih banyak yang tak percaya kalau ayahnya sudah memiliki putri berusia dua puluh enam tahun, cantik pula.

Mengenai hal ini, Cemara bahkan pernah mendapat pengalaman tak mengenakkan. Saat itu karena ibunya sedang tidak enak badan Cemara menggantikan ibunya menemani ayahnya menghadiri sebuah undangan pernikahan di kota mereka. Ternyata dalam acara pernikahan tersebut juga hadir salah satu kakak kelasnya di sekolah. Si kakak kelas, yang tak tahu kalau pria yang sedang bersama Cemara adalah ayahnya sendiri kemudian menyebarkan berita kalau Cemara berkencan dengan pria yang usianya dua kali lipat usianya. Parahnya lagi, saat itu dia masih dalam masa orientasi sekolah. Bisa dibayangkan bukan bagaimana serunya masa orientasi Cemara kala itu? Cemara bahkan jadi terkenal gara-garanya.

Wajar saja jika saat itu orang mengira ayahnya adalah pacarnya. Di samping karena wajah mereka yang memang tak terlalu mirip (Cemara lebih mirip ibunya), kelakuan Cemara kala itu juga memang membuat orang berpikiran yang tidak-tidak. Bayangkan seorang gadis enam belas tahun menggandeng mesra seorang pria paruh baya? Namun toh Cemara tak pernah ambil pusing. Dia punya alasan sendiri mengapa selalu terlihat sangat manja jika bersama ayahnya.

***

“Ini undangan siapa sih, Yah?” tanya Cemara saat dirinya sudah selesai berdandan. Jam di tangan kirinya menunjukkan waktu pukul setengah dua belas siang. Waktu yang sangat pas untuk makan siang. Dia bisa membayangkan bagaimana penuhnya acara pernikahan yang akan mereka datangi nantinya.

“Undangannya Pak Darto.”

“Pak Darto yang PD 3 itu?”

“Iya.”

“Anaknya bukannya kemarin baru wisuda?”

“Iya. Calon suaminya kan mau sekolah lagi. Jadinya Si Icha mau dibawa juga.”

“Ooo.”

Dua tahun menemani ayahnya ke berbagai acara membuat Cemara kenal dan bahkan cukup akrab dengan teman-teman ayahnya. Entah itu rekan kerja ayahnya di kampus atau teman kuliah ayahnya dulu. Pak Darto ini misalnya, beliau adalah salah satu teman kuliah ayahnya yang saat ini menjabat sebagai Pembantu Dekan 3 di kampus tempat ayahnya juga mengajar. Orangnya ramah dan sangat suka bergurau. Setiap kali Cemara bertemu dengannya tak pernah lupa pak Darto untuk menggodanya. Topiknya apalagi kalau bukan tentang Cemara yang belum ketemu jodoh dan selalu saja ditemani sang ayah kemana-mana. Pak Darto bahkan pernah menggoda Cemara dengan berkata akan menjadikan Cemara sebagai pengganti istrinya yang sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Untungnya hari ini pak Darto sendiri yang jadi tuan rumah acara. Jadi kecil kemungkinan Cemara akan digoda oleh pria tambun tersebut. Namun bukan berarti juga Cemara bisa bebas dari godaan teman-teman ayahnya. Jelas masih akan ada teman-teman ayahnya yang lain yang akan menggodanya.

Cemara sendiri sebenarnya sudah cukup kebal dengan godaan tersebut. Entah yang terus-terusan menanyakan kapan dia akan menikah, atau juga yang memprotes kesukaannya menemani ayahnya ke acara pernikahan. Semuanya bisa ditanggapi Cemara dengan santai meski dalam hatinya sebal juga.

Namun untuk beberapa waktu terakhir, sebuah kekhawatiran baru muncul di benaknya. Semuanya bermula dari sebuah pembicaraan yang tak sengaja ia dengar saat om Fuad berada di rumahnya. Om Fuad sendiri juga merupakan salah satu teman kuliah ayahnya. Bahkan bisa dibilang Om Fuad ini posisinya sudah seperti keluarga sendiri. Baik ayahnya maupun om Fuad sering menghabiskan akhir minggu bersama. Entah itu untuk memancing atau sekadar main catur di teras rumah. Hubungan antara Cemara dan anak istri om Fuad juga sangat baik. Sayang Om Fuad tidak memiliki anak laki-laki yang seusia dengan Cemara (anak tertuanya masih berusia delapan belas tahun). Kalau tidak mungkin sudah dari dulu ayahnya dan Om Fuad jadi besan.

“Jat, kamu itu mending cari istri lagi deh. Jadi kan si Ara nggak perlu terus-terusan ngantar ke acara-acara pernikahan,” begitu kata om Fuad kala itu. Saat itu mungkin Om Fuad tidak tahu kalau Cemara sedang berada di ruang tamu, sehingga ia berbicara cukup keras hingga bisa terdengar ke dalam rumah.

“Memangnya masih ada yang mau sama aku? Sudah tua kayak gini,” jawab ayahnya.

“Jangan terlalu merendah begitu. Jangan kamu pikir aku nggak tahu, ya? Bahkan sampai sekarang masih ada gadis-gadis yang naksir kamu, kan?”

“Mereka cuma mahasiswi yang ngefans sama dosennya.”

“Nah. Benar kan kataku.”

“Lalu aku harus nikah sama mahasiswaku gitu?”

“Ya, nggak gitu. Maksudku kalau mahasiswa aja ada yang ngefans sama kamu, pasti ada wanita dewasa yang mau sama kamu. Tinggal nemuinnya aja lagi. Apa perlu kucarikan?”

Mungkin jika saat itu Cemara mau bersabar mendengarkan pembicaraan  tersebut, dia akan mengetahui jawaban ayahnya. Namun sayang dia tak bisa menahan diri. Segera ia keluar dari tempatnya, berpura-pura memanggil ayahnya untuk sebuah urusan sehingga pembicaraan itu pun terpotong.

***

“Kamu kenapa sih kok sekarang musuhan banget sama om Fuad?” tanya ayahnya dalam perjalanan mereka kemudian.

“Ah, masa sih?” Cemara berpura-pura tidak tahu. Alih-alih dia memfokuskan pandangannya pada jalanan di hadapannya.

“Menurut kamu sendiri?” kata ayahnya lagi.

“Ayah tahu sendiri alasannya, bukan?” jawab Cemara akhirnya.

Sejak pembicaraan ayahnya dengan Om Fuad hari itu, Cemara memang mulai sering bersikap menyebalkan pada om Fuad. Dia selalu protes kalau om Fuad mengajak ayahnya pergi memancing. Dan kalau om Fuad berada di rumah, Cemara akan mewanti-wanti agar om Fuad tidak berbicara yang “aneh-aneh” kepada ayahnya. Jelas sekali Cemara tidak berniat menyembunyikan kenyataan kalau dia mendengar percakapan hari itu.

Selain itu, peraturan baru juga sudah ditetapkan di rumah. Jika dulu mahasiswi bimbingan ayahnya diizinkan datang ke rumah untuk asistensi, maka sekarang hal tersebut tidak diperbolehkan lagi. Segala urusan pekerjaan harus diselesaikan di kampus. Begitu kata Cemara.

Perihal banyaknya mahasiswi yang mengidolakan ayahnya sebenarnya bukan hal baru bagi Cemara. Ia sudah mengetahuinya sejak lama, sejak ia masih sekolah dulu. Biasanya, ibunya lah yang menyinggung masalah itu, dengan nada bercanda tentunya. Saat itu hal ini jelas tidak menjadi masalah bagi Cemara. Dia yakin walaupun berwajah tampan dan memiliki banyak penggemar, ayahnya tidak mungkin tergoda untuk berbuat macam-macam.

Dari cerita yang sering ia dengar, ayahnya sudah menyukai ibunya sejak keduanya sama-sama masih duduk di bangku SMA. Saat itu ayahnya adalah murid baru di sekolah, dan ibunya adalah salah satu gadis paling populer di sekolah mereka. Perlu waktu tiga tahun bagi ayahnya untuk berhasil merebut perhatian ibunya yang waktu itu sedang ‘laris-larisnya’. Ayahnya bahkan dengan sabar menjadi tempat sampah ibunya ketika patah hati.

Mungkin karena kesabarannya itulah yang akhirnya membuka hati ibunya. Setelah bertahun-tahun bersahabat, ibunya akhirnya menerima lamaran ayahnya di usia dua puluh satu tahun. Mereka kemudian menikah, dan hingga akhir hidup ibunya tak pernah sekalipun Cemara melihat tanda-tanda ayahnya akan berhenti mencintai ibunya.

Namun itu semua hanya berlaku saat ibunya masih ada. Sekarang, setelah ibunya tak bersama mereka lagi siapa yang tahu bagaimana hati ayahnya? Dan itulah yang sebenarnya tidak ingin Cemara ketahui. Mungkin karena sudah terlanjur menjadikan ayah dan ibunya sebagai pasangan paling romantis di dunia, ide tentang ayahnya yang menikah lagi tak pernah muncul di benak Cemara. Dia tak ingin ada yang menggantikan posisi ibunya di rumah mereka. Dia juga rasanya tak sanggup jika harus melihat ayahnya menyayangi perempuan lain selain ibunya.

Itu sebabnya mengapa kemudian setelah kematian ibunya Cemara akhirnya memilih keluar dari pekerjaannya di Jakarta dan kembali ke rumah setelah kepergian ibunya. Itu juga sebabnya selama dua tahun terakhir Cemara dengan sukarela menggantikan tugas ibunya mengurus rumah juga kedua adiknya. Dia ingin menunjukkan bahwa mereka tak memerlukan orang lain untuk menggantikan posisi ibunya.

Ayahnya sendiri juga selama dua tahun terakhir tak pernah menunjukkan tanda-tanda ingin menikah lagi. Memang kadang terbersit pertanyaan di kepala Cemara apakah ayahnya tahan dengan kesendirian selama dua tahun tersebut. Namun jika melihat bagaimana ayahnya selama ini, Cemara yakin ayahnya baik-baik saja. Lalu apa perlunya om Fuad menawarkan diri mencarikan istri baru untuk ayahnya? Begitu pikir Cemara.

“Kamu takut om Fuad benar-benar mencarikan istri baru buat ayah? Seperti yang katanya waktu itu?” kata ayahnya kemudian, merujuk pada pembicaraan yang sempat dicuri dengar oleh Cemara.

“Ya,” jawab Cemara pendek.

“Kamu memangnya tak ingin tahu jawaban dari ayah tentang pertanyaan om Fuad itu?” tanya ayahnya lagi.

Sesaat Cemara terdiam, sampai kemudian di bertanya, “Memang apa jawaban ayah?”

“Yah, ayah akan senang sekali kalau kamu dan adik-adikmu mengizinkan ayah menikah lagi,” jawab ayahnya sambil tersenyum.

Kali ini Cemara terpana. Jelas sekali ia telah melakukan kesalahan dengan menanyakan jawaban ayahnya.

***

Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini.

13 pemikiran pada “[cerbung Cemara] Dilema Ayah Tampan

  1. kog ada ya anak yang ga pengen bapaknya kawin lagi.. kalu ibunya kawin lagi banyak yang protes tuh.. bapak kawin lagi ya monggo kebanyak..
    ku sering nemenin babeku mantenan kalu mama sakit.. tapi ga pernah digoda om-om ku deh.. semua sudah tahu.. adanya digoda sama anak2 om-om ku itu..

  2. Ping balik: [cerbung Cemara] Randu & Akasia | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s