[Review] The Edge of Seventeen

Nadine memacu mobil ibunya. Setiba di sekolah, setengah berlari ia menuju ruang kelasnya.

“Aku mau bunuh diri,” katanya pada Mr . Bruner yang sedang menikmati jam istirahatnya.

Sang guru tertegun. Salah satu anak muridnya ini memang sedikit berbeda. Ia kadang tanpa ragu mengkritik gaya mengajar Mr. Bruner. Bahkan pernah juga gadis itu melampiaskan kemarahannya hanya karena Mr. Bruner berusaha memberitahu kalau mungkin Nadine lah yang bermasalah. Dan sekarang ia berkata ingin bunuh diri. Oh, well..

Semua ini gara-gara Krista. Sejak Nadine memergokinya bersama Darian, hidupnya mulai berantakan. Krista, gadis manis yang menyapanya saat sedang di kelas dua dan menjadi sahabatnya sejak saat itu. Sahabat satu-satunya. Dan kenapa harus Darian? saudara laki-lakinya yang menyebalkan itu. Sejak kecil Nadine tidak pernah suka pada Darian. Darian sejak kecil sudah populer dan memiliki banyak teman. Sedang dirinya kerap kena bully dan tak memiliki teman. Dan sekarang ia malah mengambil sahabat satu-satunya. Huh!

Baca lebih lanjut

[WC#12] Short Story

Kafe itu terletak di salah satu sudut kota. Tak seperti kafe yang sebelumnya ia singgahi, tempat itu lebih seperti sebuah rumah makan ketimbang kafe. Tak apalah, yang penting aku bisa mendapatkan segelas dua gelas minuman dari tempat ini, katanya dalam hati.

Saat memasuki kafe tersebut, terdengar alunan musik yang lembut terdengar dari dalam kafe. Dari pintu masuk, dilihatnya seorang wanita tampak berdiri di panggung yang ada di kafe tersebut. Wajahnya cantik dan suaranya merdu. Dia menyanyikan sebuah lagu yang sangat dikenalnya. Lagu miliknya.

Baca lebih lanjut

[Adaptasi] The Moon That Embraces The Sun

Lee Hwon

Siapa sebenarnya gadis itu? Benarkah dia bukan Yeon Woo? Jika bukan, lalu mengapa segala tentangnya begitu mirip dengan Yeon Woo? Namun jika dia adalah Yeon Woo, mengapa ia tak tersentuh saat kusebut namanya?

Siapa sebenarnya gadis itu? Wajahnya bersinar seperti bulan saat pertama kali aku bertemu dengannya. Membuatku tanpa ragu menyematkan nama untuknya. Wol, yang berarti bulan. Dan mengapakah sebelum bertemu dengannya aku melihat bayangan Yeon Woo menghampiriku? Menuntunku untuk bertemu dengannya, di tengah hutan tempat aku dan Woon tersesat.

Siapa sebenarnya gadis itu? Saat aku kehilangan harapan untuk bertemu lagi dengannya, dia malah datang kepadaku. Menjadi jimat untuk menenangkan malam-malamku yang selalu dihantui mimpi buruk. Pelan tapi pasti menutupi luka menganga yang tak pernah sembuh sejak Yeon Woo meninggalkanku.

Baca lebih lanjut

[movie scene] My Sassy Girl

“Kopi dua. Kau yang bayar ”

Dengan santainya gadis itu berkata kepada waitress yang bertugas melayani kami, tanpa bertanya terlebih dahulu padaku. Kau mengerti kan? Siapa tahu aku tak suka kopi. Atau jika aku menyukainya, mungkin saja saat ini aku sedang ingin minum yang lain. Lalu bukankah seharusnya aku menyelanya saat dirinya memesan dua cangkir kopi tadi? Dan bukannya duduk terpana seperti yang kulakukan saat ini?

Kali ini gadis itu memandang ke arahku. Hari ini dia mengenakan blouse pink dilapisi cardigan dengan warna senada dan celana khaki 7/8. Wajahnya yang cantik tampak semakin bersinar kali ini. Sungguh berbeda dengan saat pertama kali aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Jika memandangnya saat ini mungkin tak akan ada yang percaya kalau dia adalah gadis yang sama kugendong di sepanjang jalan stasiun Bupyung karena terlalu banyak minum dan membuatku harus merasakan tidur di balik terali besi.

“Ceritakan apa yang terjadi.”

Jika saat ini kopi yang dipesannya sudah berada ditenggorokanku, mungkin aku akan tersedak dibuatnya. Alih-alih memperkenalkan diri dan meminta maaf karena telah merepotkanku, dia malah memintaku menceritakan apa yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Benarkah dia sudah dengan kejadian tersebut? Ah mungkin saja itu benar. Bukankah waktu itu dia dalam keadaan mabuk berat?

Jadi dari mana sebaiknya aku memulai cerita? Apakah saat aku mencegahnya dari upaya mencelakakan diri sendiri saat sedang menunggu kereta? Atau saat aku tiba-tiba harus bertanggung jawab atas kelakuannya hanya karena dia memanggilku “chagiya” di hadapan puluhan penumpang kereta?

Ah, kadang aku tak habis pikir dengan orang-orang itu. Hanya karena seorang gadis mabuk memanggilku dengan sebutan “chagiya”, lantas mereka langsung berpikiran bahwa aku adalah kekasih dari gadis itu. Padahal jelas sekali di antara aku dan gadis itu tak terlihat sebagai sepasang kekasih. Oke, mungkin benar aku berdiri di dekatnya, satu meter di hadapannya. Aku juga sempat mentertawakan dirinya saat terantuk-antuk di dalam kereta sambil berusaha menahan agar isi perutnya tidak keluar melewati mulutnya. Namun itu bukan berarti aku mengenalnya, bukan? Lagipula gadis pemabuk tidak termasuk dalam daftarku. Dan bukan salahku bukan jika paman itu akhirnya harus membersihkan kepalanya dari muntahan gadis itu. Dia sendiri yang memutuskan meninggalkanku dan berdiri di dekat gadis itu.

Jadi singkatnya setelah menyelesaikan urusanku dengan paman yang sedang sial tersebut, aku akhirnya harus menggendong gadis itu di sepanjang jalan Bupyung. Sebenarnya bisa saja aku meninggalkannya di salah satu bangku di stasiun Bupyung. Tapi sebagai laki-laki sejati tentunya aku tak mungkin melakukannya. Dan bukankah itu yang dilakukan para tokoh pria dalam film romantis tersebut? Mengorbankan kakinya demi seorang gadis cantik, dan di akhir cerita tokoh laki-laki tersebut akan mendapatkan hati perempuan yang ditolongnya tersebut.

Namun rupanya kisahku malam itu jauh berbeda dengan para tokoh laki-laki dalam film romantis tersebut. Setelah berjalan berjam-jam tanpa tentu arah, dengan seorang gadis tak sadarkan di punggungku tentunya. Akhirnya aku menemukan sebuah motel murah. Kalian tentu bisa menebak bukan bagaimana reaksi pemilik motel ketika melihatku masuk ke motelnya dengan seorang gadis mabuk? “Apa yang terjadi pada kekasihmu?” Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya. Aku terlalu lelah untuk menanggapi ucapan pemilik motel tersebut dan rasanya takkan ada gunanya jika aku berusaha menyangkal. Yang kupikirkan saat itu adalah segera menurunkan gadis ini dari punggungku.

“Berikan aku kamar kosong,” kataku padanya.

Si pemilik motel mengecek buku catatannya sebentar.

“Kamar 301,” katanya sambil menyerahkan sebuah kunci padaku.

“Tidak ada kamar di lantai satu?”

“Hanya ini kamar yang tersisa. Ambil atau cari motel lain.”

Sampai di sini kuhentikan ceritaku. Sengaja kulakukan untuk mengetahui apakah gadis tersebut benar-benar mendengarkan apa yang kukatakan padanya. Ada sedikit rasa puas ketika kulihat raut wajahnya yang berubah ketika aku berhenti bercerita.

“Jadi aku menyebutmu “chagiya” malam itu? Aku memanggilmu dengan sebutan sayang?” tanyanya setelah beberapa saat ada kekosongan antara kami.

“Benar sekali, Nona.”

Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Lanjutkan ceritamu,” katanya lagi.

Nah, sebenarnya ini adalah bagian yang ingin kuhindari. Menceritakan kelanjutan dari kisah yang sengaja kupotong sebelumnya, mengingat betapa memalukan dan sialnya aku malam itu. Namun jika tidak kuceritakan, gadis itu tidak akan tahu bagaimana dirinya telah menjerumuskanku dalam masalah seperti ini. Lagipula toh aku sudah mengungkapkan tiga perempat cerita. Menambahkan seperempatnya lagi kurasa takkan jadi masalah.

Jadi setelah mengambil kunci kamar 301 itu dari tangan pemilik motel, aku dengan tenaga yang tersisa menaiki satu demi satu tangga motel tersebut. Dengan sebelah tangan kubuka pintu kamar 301, lalu secepat mungkin menuju tempat tidur yang disediakan dan langsung melemparkan tubuh gadis itu di sana. Tak lama sesuatu berbunyi dari dalam tas gadis itu. Kuambil sumber bunyi tersebut, ternyata sebuah telepon genggam. Tanpa berpikir panjang kujawab panggilan tersebut.

Yobeseyo?” Dengan sopan aku menjawab panggilan tersebut.

“Siapa kau? Mana pemilik handphone ini?!!” Terdengar suara seorang perempuan dari ujung sana. Dari nadanya jelas sekali dia terkejut mendapati suara yang didengarnya berbeda dari biasanya.

“Dia sedang tidur di sampingku.”

“Apa? Katakan kalian berada dimana sekarang.”

Oke. Mungkin ini adalah salah satu kebodohan terbesar dalam hidupku. Entah karena terkejut atau memang sedang tak bisa berpikir, dengan tololnya aku memberitahukan alamat motel itu pada perempuan di ujung handphone itu. Bisa ditebak bukan apa yang terjadi beberapa puluh menit kemudian? Benar sekali. Beberapa polisi tiba-tiba mendobrak pintu kamar motel dan menangkap diriku yang sialnya masih ditutupi oleh gelembung sabun. Benar-benar hari yang sempurna.

“Hmm…kurasa aku ingat kejadian itu,” komentar gadis itu setelah mendengar lanjutan ceritaku. Mendengar komentarnya mau tak mau aku diliputi rasa penasaran. Kejadian apakah yang berhasil diingatnya tersebut? Apakah kejadian yang memalukan itu? Saat para polisi itu menembakkan gas air mata kepadaku yang ditutupi gelembung sabun? Ah sungguh…

“Baiklah. Terima kasih atas penjelasannya. Aku pergi dulu.”

Apa?? Apa yang dikatakannya tadi? Dia akan pergi? Astaga gadis ini. Aku bahkan belum sempat menanyakan kejadian apa yang ia maksud tadi, bahkan naman
ya pun aku tak tahu. Dan lihatlah. Dengan santainya dia berjalan meninggalkanku di cafe ini, dengan dua cangkir kopi yang belum dibayar.

***

Sedang belajar menulis dengan gaya yang berbeda. Cerita diambil dari salah satu scene dari My Sassy Girl. Tidak kreatif ya? hehehe