Yang tertinggal dari sebuah perjalanan

“Kita bisa naik mobil tanpa perlu membelinya.”

Dari seluruh percakapan yang terjadi antara saya dan ibu-nya Tiwi saat saya berada di Jakarta bulan April yang lalu, bisa dibilang kalimat inilah yang paling membekas di hati saya. Saya masih ingat saat itu saya sedang duduk di ruang keluarga mereka, berusaha membaur dengan ikut menonton tayangan televisi.

Saya tak ingat persis bagaimana awal pembicaraan kami berlangsung. Yang jelas saat itu saya sempat mengeluhkan bagaimana susahnya menasihati adik bungsu saya yang saat ini menginjak usia remaja. Dari situ ibu kemudian bercerita bagaimana beliau membesarkan ketiga buah hatinya, termasuk memberikan petuah bijak di atas.

Kala itu ibu bercerita bagaimana beliau menyikapi keinginan putra bungsunya untuk memiliki play station. Awalnya saya pikir beliau akan mengabulkan keinginan anaknya tersebut. Selama ini saya selalu memiliki pemikiran ketimbang membiarkan anak kecil menghabiskan waktu di rental PS, maka akan lebih efektif jika orang tua membelikan saja “mainan” yang diinginkan anaknya tersebut. Dengan begitu, uang saku anak tak habis untuk nge-rental, orang tua juga bisa memantau anaknya.

Namun ternyata pemikiran saya tersebut berbeda dengan pemikiran ibu. Ibu, ternyata lebih memilih membiarkan putranya untuk bermain PS di rental. Alasan beliau, keinginan membeli PS itu dikabulkan, maka sang putra akan menghabiskan waktunya seharian di kamar untuk bermain PS. Lupa makan, lupa sholat. Nah, jika sang putra diijinkan bermain PS ke rental, tentu di saat lapar sang putra akan pulang ke rumahnya. Dari sinilah beliau mengucapkan petuah saktinya tersebut. “Kita bisa saja merasakan enaknya naik mobil tanpa membelinya,” begitu kata beliau, dan saya pun membenarkannya.

Selain memberikan petuah di atas, ibu juga bercerita secara garis besar bagaimana beliau membesarkan putra-putrinya. Mulai dari bagaimana menanamkan nilai agama sejak kecil, hingga pentingnya diskusi di keluarga ini. Dan hal ini saya buktikan sendiri selama beberapa hari numpang tidur di rumah mereka. Dan tentunya menjadi bahan pembelajaran yang sangat berharga bagi saya di masa depan nanti.

9 pemikiran pada “Yang tertinggal dari sebuah perjalanan

  1. Masih mikir 😀
    Kira bisa menggunakan /memaksimalkan sarana yang ada disekitar kita, tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya atau tenaga. Itu yg terlintas dibenak teteh saat membaca awal kalimat diatas 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s