[cerpen Femina] Teman Seperjalanan

TEMAN SEPERJALANAN

“Ke Samarinda?”

Aku menoleh ke arah suara. Lelaki berkulit sawo matang dengan rambut ikal yang duduk di sebelahku sejak satu jam yang lalu. Dia adalah orang kedua yang duduk di bangku di sebelahku. Seingatku, dia menumpangi bis ini dari kota Tanjung. Sempat selama beberapa jam duduk di bangku plastik yang diletakkan di lorong bis, pria ini akhirnya meminta ijin untuk duduk di sampingku setelah dilihatnya Dewi, rekan sebangku sebelumnya turun di Tanah Grogot.

Kupalingkan sejenak wajahku ke arah lelaki tersebut. Wajahnya tampak remang-remang di bawah minimnya cahaya dalam bis yang kami tumpangi. Berdasarkan penampilannya saat beralih ke kursi di sebelahku tadi, bisa kuperkirakan kalau pria ini berusia awal 30-an, beberapa tahun lebih tua dariku. Baca lebih lanjut

Yang tertinggal dari sebuah perjalanan

“Kita bisa naik mobil tanpa perlu membelinya.”

Dari seluruh percakapan yang terjadi antara saya dan ibu-nya Tiwi saat saya berada di Jakarta bulan April yang lalu, bisa dibilang kalimat inilah yang paling membekas di hati saya. Saya masih ingat saat itu saya sedang duduk di ruang keluarga mereka, berusaha membaur dengan ikut menonton tayangan televisi.

Saya tak ingat persis bagaimana awal pembicaraan kami berlangsung. Yang jelas saat itu saya sempat mengeluhkan bagaimana susahnya menasihati adik bungsu saya yang saat ini menginjak usia remaja. Dari situ ibu kemudian bercerita bagaimana beliau membesarkan ketiga buah hatinya, termasuk memberikan petuah bijak di atas.
Baca lebih lanjut