[Movie Scene] Kahaani

Kalighat Metro Stasiun tampak ramai seperti biasanya. Anak-anak yang pulang dari sekolahnya, ibu-ibu muda dengan anak mereka, serta para laki-laki dengan pakaian kerja mereka. Semuanya berlalu-lalang di salah satu stasiun metro bawah tanah kota Kolkata tersebut dengan tujuan mereka masing-masing. Mereka mengantri tiket, menuruni tangga, hingga akhirnya berebut memasuki gerbong kereta. Arup Basu merupakan satu diantara orang-orang tersebut.

Pintu kereta secara otomatis tertutup ketika Arup Basu berhasil memasuki gerbong kereta. Terlambat satu detik saja ia pasti akan ketinggalan kereta tersebut. Sambil menghela nafas, refleks matanya mengitari orang-orang di sekelilingnya. Gerbong kereta yang dimuatinya kini tampak penuh. Sayup-sayup Arup Basu bisa mendengarkan pembicaraan orang-orang tersebut.

Tepat ketika Arup Basu mulai melangkahkan kakinya di dalam gerbong kereta, telepon genggamnya berbunyi.

Baca lebih lanjut

[cerpen] HARIS DAN KUCING BELANG YANG TINGGAL DI RUMAHNYA

Satu minggu setelah kematian Dewi istrinya, seeokor kucing datang ke rumah tempat Haris tinggal. Saat itu ia baru saja tiba di rumahnya, setelah seharian berada di makam sang istri. Sebelum berangkat, seluruh pintu dan jendela pada rumah mungil yang ditempatinya selama 3 tahun terakhir tersebut sudah terkunci rapat. Karena itu jelas tak mengherankan jika Haris terkejut setengah mati ketika mendapati seekor kucing melingkar dengan nyaman di salah satu pojok tempat tidurnya. Kucing tersebut berbelang tiga, dengan bagian perut yang membesar.

“Hush… hush… hush!!”

Serta merta Haris berusaha mengusir kucing tersebut dari tempat tidurnya. Tangannya sibuk menepuk-nepuk permukaan tempat tidur, hingga akhirnya si kucing terbangun. Matanya yang berwarna kuning menatap Haris dengan tatapan bertanya.

“Kucing siapa kamu?! Enak saja kamu tidur di tempat tidurku. Sana pergi!!” Ucap Haris kemudian. Seolah mengerti dengan ucapan pria paruh baya tersebut, si kucing pun beranjak dari tempat tidur dan melompat keluar dari jendela rumah yang terbuka.

Baca lebih lanjut

[cerbung Cemara] Dilema Ayah Tampan

“Cemara, temani ayah ke kondangan, ya,” suara ayahnya terdengar dari pintu kamarnya yang sengaja dibuka. Cemara, yang saat itu sedang asik dengan novel di tangannya mengalihkan pandangannya sejenak. Di sana, di depan kamar, tampak ayahnya sudah rapi dengan stelan batik melekat di badannya.

“Sama Sisi aja deh, Yah. Cemara lagi malas keluar, nih. Panas betul harinya,” jawabnya kemudian. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia kembali menekuni bacaannya.

“Akasia sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya. Lagipula kita kan naik mobil,” ayahnya berkata lagi.

Baca lebih lanjut

Sebuah Testimoni

Hari Kamis lalu, Dokter Prita, memberitahu saya bahwa cerpen saya yang dimuat di majalah Femina beberapa waktu lalu mendapat respon dari seorang pembaca. Penasaran, langsung saya cari majalah yang dimaksud. Namun rupanya untuk mendapatkan majalah tersebut, saya harus sedikit bersabar. Entah mengapa Femina edisi kali ini sangat sulit dicari. Lima penjual majalah yang adik saya datangi selalu mengatakan bahwa stok mereka habis.

Baca lebih lanjut