Perihal Nongkrong

“Duh kangen makan enak, nih,” kata saya pada suami. “Tapi masih bulan tua, jadi nggak bisa belanja,” saya menambahkan kemudian.

Suami diam saja mendengar celotehan saya. Maklum, dia sendiri bukan orang yang sering mengajak istrinya makan di luar. Paling-paling ngajaknya nge-bakso atau sop buntut kalau dia-nya sedang ingin. Sementara saya sendiri pengennya makan di luar itu ke tempat-tempat asyik semacam kafe begitu.

Beberapa hari kemudian saya dan beberapa teman kantor pergi ke Banjarbaru untuk menghadiri akad nikah teman kami yang lain. Perjalanan ini saya jadikan kesempatan untuk bisa menjajal kuliner enak di kota tetangga itu. Saat itu kami berencana mampir ke tempat makan pasta yang lumayan terkenal di Banjarbaru. Sayangnya saat kami tiba di cafe tersebut, tempatnya baru saja buka. Karena tak ingin menunggu lama, akhirnya kami hanya memesan minuman dingin.

“Uh, aku beli minuman gelasnya kecil aja bayarnya hampir tiga puluh ribu,” omel saya begitu tiba di rumah beberapa jam kemudian. Kalimat saya ini merujuk pada minuman yang saya pesan di kafe yang saya singgahi di kota Banjarbaru sebelumnya. Saat itu, saya memesan tanpa mengecek lagi harga minuman yang saya pesan. Saya pun tak curiga ketika minuman yang datang hanya seukuran cangkir anggur. Barulah ketika tagihan dibayarknya saya dibuat terkejut dengan jumlah yang harus saya bayar.

Baca lebih lanjut

Ikhtiar Hamil

Selang satu bulan setelah pernikahannya, adik saya mengirimkan gambar testpack bergaris dua. Aku hamil, begitu tulisnya dalam pesan. Saat itu masih subuh hari, saat saya dan ibu masih sibuk berkutat di dapur dengan kue olahan kami.

Berkaca dari pengalaman adik itu, saya pun yakin setelah menikah akan langsung berbadan dua. Namun meski lahir dari rahim yang sama, urusan nasib tentulah berbeda. Hingga bulan keempat pernikahan, saya tak kunjung hamil. Yah, namanya nikah usia 30, jadinya pengen cepat punya anak aja. Kalau telat sih sempat beberapa kali. Tapi pas dites hasilnya negatif selalu.

“Gimana kalau aku ke tukang urut, Mas?” kata saya pada suami setelah lagi-lagi tamu bulanan datang. Kebetulan di kantor saya ada seorang kakak yang berhasil hamil setelah perutnya diurut oleh seorang tukang urut.

“Ya, terserah kamu aja,” kata suami saya pendek.

Maka dengan ditemani seorang rekan, saya pun mendatangi ibu tukang urut yang ternyata rumahnya tak jauh dari tempat saya dan suami tinggal.

Baca lebih lanjut

Gaya Lebaran Kita Beda!

“Di keluarga kamu, kalau lebaran biasanya ada sungkemannya, nggak?”

Itulah salah satu pertanyaan yang keluar dari mulut suami saya di tahun pertama kami merayakan Idul Fitri.

Saat itu, dengan mantap saya menjawab, “Ada dong.”

Lalu suami bertanya lagi, “Sungkemannya yang kayak gimana?”

“Ya, yang kayak biasa. Maaf-maafan ke yang lebih tua. Memangnya kenapa?” Saya balik bertanya.

“Kalau di keluargaku, biasanya acara sungkeman itu panjang prosesnya. Bisa setengah jam lebih,” suami menjelaskan. Saya hanya manggut-manggut mendengar penjelasannya. Tak lama ia kemudian mengambil ponselnya. “Aku mau nelpon orang tuaku dulu, ya,” katanya pada saya.

Sambil tetap berdiri di sampingnya, saya turut mendengarkan percakapan suami dengan keluarganya di pulau seberang. Tahun ini, entah tahun keberapa sosoknya tak berada bersama keluarga di saat lebaran. Sudah barang tentu momen seperti ini menjadi saat yang cukup mengharukan baik bagi suami maupun kedua mertua saya.

Baca lebih lanjut

Balada Kue Kering

img_20160703_154631.jpg

Di masa kecil, saya dan adik perempuan kerap membantu ibu kami membuat kue kering jelang lebaran. Kala itu dengan penuh semangat saya dan adik mencetak adonan-adonan yang sudah dibuat ibu sebelumnya. Ada yang berbentuk bunga, hati juga kemiri dengan isian selai. Biasanya prosesi pembuatan kue kering ini berlangsung 1-2 hari sebelum lebaran.

Tahun berlalu, ibu saya mulai malas membuat kue kering. Alasan utamanya karena kebanyakan kue kering yang dibuat itu ujung-ujungnya tidak habis dimakan. Tak banyak memang tamu yang berkunjung ke rumah kami jika lebaran tiba. Apalagi makin ke sini saya selalu merasa lebaran semakin kehilangan keseruannya. Hingga akhirnya, kebiasaan membuat kue kering pun menghilang di keluarga saya.

Tahun ini, memasuki Ramadhan kedua bersama suami, saya memutuskan untuk membuat kue kering untuk lebaran. Pengalaman berkali-kali menggunakan oven milik ibu membuat saya cukup percaya diri akan berhasil dengan proyek ini. Apalagi suami juga mendukung dan berjanji akan membantu dalam membuat kue kering ini. Jadilah saya semakin bersemangat dengan rencana saya.

“Jadinya kita mau bikin apa hari ini?” tanya suami di Minggu siang. Baca lebih lanjut

Setahun Pertama

Tanggal 20 Mei sekarang memiliki arti tersendiri bagi saya dan suami. Tanggal itu, setahun yang lalu saya resmi menyempurnakan separuh agama saya. Menjadi seorang istri dari seorang pria yang dipilihkan Allah untuk saya.

Layaknya pasangan pengantin, ada banyak rencana di kepala saya untuk memperingati momen tersebut. Mulai dari menginap di salah satu hotel yang ada di kota kami (saya bahkan sudah survey-survey via aplikasi), hingga makan malam di beberapa tempat makan pilihan.

Sayangnya rencana kami untuk memperingati ulang tahun pernikahan dengan romantis tersebut tidak terealisasi. Tidak ada honeymoon di kamar hotel, juga dinner romantis di rumah makan mahal. Yang terjadi kami berdua hanya menghabiskan waktu di rumah tanpa melakukan kegiatan berarti.

Baca lebih lanjut