Kenangan tentang Bisu

“Antung, nanti kalau mau minum teh atau kopi bisa minta tolong sama Bapak ini, ya,” kata salah satu rekan kerja ketika saya baru saja menjejakkan kaki di kantor yang sekarang. Saya pandangi sosok yang dimaksud. Beliau adalah sesosok pria berusia empat puluhan dengan tinggi sedang, berkumis, dan mengenakan topi. Satu hal yang saya ketahui kemudian, beliau ternyata tuna rungu dan kerap dipanggil Bisu.

Menurut cerita yang saya dengar dari teman-teman, Bisu sudah cukup lama berada di kantor tempat saya bekerja. Sehari-harinya beliau menyediakan jasa mencucikan mobil dan motor para karyawan di kantor. Selain itu, beliau juga membuatkan minuman pagi bagi kami semua. Kadang beliau juga membersihkan WC di ruangan kami meski sebenarnya sudah ada petugas cleaning service yang ditugaskan untuk itu. Sebagai penghargaan, karyawan di departemen kemudian sepakat memberikan gaji bulanan pada beliau.

Karena kondisi beliau yang tuna rungu, maka tentu bukan hal yang mudah untuk bisa berkomunikasi dengan Bisu. Hanya ada beberapa orang di kantor yang bisa benar-benar mengerti apa yang ingin dikatakan Bisu lewat bahasa isyaratnya. Pagi itu misalnya, Bisu datang sedikit terlambat ke kantor. Setiba di kantor, dengan semangat beliau menggerak-gerakkan tangannya seolah menggambarkan sesuatu. Saya yang melihat hal tersebut hanya bisa terbengong-bengong. Oleh salah seorang teman, saya kemudian diberitahu kalau Bisu baru saja bercerita kalau ban motor yang dipakainya bocor di jalan. Karena itulah beliau terlambat tiba di kantor.

Baca lebih lanjut

Menikah di KUA? Kenapa tidak?

“Kenapa menikah di KUA?” begitu pertanyaan yang terlontar ketika saya mengabarkan rencana pernikahan saya berikut tempatnya kepada beberapa teman. Mereka seolah tak percaya kalau saya akan melangsungkan pernikahan di Kantor Urusan Agama, dan bukannya di rumah layaknya calon pengantin lainnya.

Mendengar pertanyaan tersebut, saya hanya tersenyum. “Kalau nikah di rumah bayar enam ratus ribu rupiah. Di KUA cuma lima puluh ribu rupiah,” jawab saya pada mereka.

“Oh, ya? Wah waktu aku nikah dulu nggak begitu,” kata teman yang lain lagi.

“Ya mungkin waktu itu peraturannya belum keluar,” jawab saya lagi sekenanya. Kalau boleh jujur, saya cukup capek menghadapi pertanyaan yang sama seputar menikah di KUA ini. Untungnya setelah mendengar jawaban tersebut teman saya tak bertanya lagi. Belakangan baru saya ketahui kalau peraturan tersebut dikeluarkan pada Juni 2014 lalu. Jadi memang tidak salah kalau banyak yang bingung dengan pernikahan di KUA ini.

Baca lebih lanjut

Saat Akhirnya Kita Bertemu

Bagaimana kita bisa tahu seseorang adalah jodoh kita?

Pertanyaan ini pastilah pernah hadir di kepala setiap orang. Terutama pada mereka yang belum menemukan jodohnya. Saya sendiri pun kerap melontarkan pertanyaan ini pada teman-teman yang akan menikah. Dan jawaban mereka rata-rata sama. “Hatimu memberikan jawabannya,” begitu kira-kira kata mereka.

Satu hari di tahun 2010, saya mendaftarkan diri pada Forum Lingkar Pena Cabang Banjarmasin. Setelah melalui rangkaian tes, terpilihlah sekian orang yang menjadi anggota baru FLP Cabang Banjarmasin. Dari organisasi ini, saya kemudian berkenalan dengan seorang pria bernama Murdiyanto. Meski usianya tak jauh dari saya, namun karena profesinya kala itu adalah pengajar, maka kami kemudian kerap memanggilnya “Pak Didi”.

Tak banyak interaksi yang terjalin antara saya dengan Pak Didi selama keikutsertaan kami di FLP ini. Kami biasanya hanya berinteraksi dalam beberapa event yang diadakan oleh FLP Cabang Banjarmasin. Entah itu seminar menulis atau silaturahim antar anggota FLP Cabang Banjarmasin. Di luar organisasi, hanya beberapa kali saya bertemu dengannya untuk beberapa keperluan.

Baca lebih lanjut

Aplikasi di Ponsel

Screenshot_2015-04-25-11-01-46

Sebelum mengenal Android, saya adalah pengguna ponsel Symbian. Waktu itu ponsel yang saya gunakan (dan beli dengan uang sendiri) adalah Nokia 6120 dan sesudahnya Sony Ericsson G900. Alasan saya memilih ponsel Symbian kala itu adalah karena kemampuan multitaskingnya. Ini terbukti bagaimana Nokia 6120 menjadi ponsel kesayangan saya selama bertahun-tahun hingga akhirnya saya jual beberapa tahun yang lalu. Sayangnya untuk ponsel penggantinya, Sony Ericsson G900, saya agak sedikit kecewa dengan performa ponsel ini. Karena itulah akhirnya saya pun memutuskan untuk menggantinya dengan ponsel Android.

Samsung Y menjadi pilihan saya untuk ponsel Android. Alasannya sih sederhana saja, kondisi finansial saya hanya mampu untuk membeli ponsel tipe tersebut. Meski begitu, toh saya tidak terlalu kecewa. OS Android benar-benar memanjakan saya. Berbagai aplikasi saya instal. Mulai dari sosial media, pemutar film, hingga tentunya aplikasi office untuk menulis.

Baca lebih lanjut

Zumba

Setiap Jum’at pagi, kantor saya mengadakan senam pagi bagi para karyawannya. Senam ini dimulai dari senam kesegaran jasmani dan dilanjutkan oleh senam Zumba yang dipimpin oleh seorang instruktur. Karena bukan orang yang sering berolah raga, mulanya saya merasa kesulitan mengikuti senam ini. Namun lama kelamaan saya mulai menyukai senam Zumba ini. Saya bahkan mengikuti kelas senam yang diadakan dua kali seminggu di kantor sepulang jam kerja. Dan jika senam Zumba yang kami ikuti di hari Jum’at hanya 30 menit, maka senam Zumba yang diadakan sore hari memakan waktu satu jam. Alhasil, pulangnya badan saya hampir remuk 😀

Karena tidak bisa mengikuti kelas senam secara rutin, akhirnya saya memutuskan mencari video senam Zumba di internet. Ada banyak tentunya video Zumba bertebaran di internet. Saya sendiri akhirnya memilih video yang satu ini, yang hanya memakan waktu delapan belas menit, dan bisa dilakukan setiap hari. Maunya saya sih saya bisa rutin olahraga biar badan fit dan (tentunya) mengurangi sedikit lemak di badan saya 😀

Baca lebih lanjut