Kenangan Maba

Hari itu, hari terakhir masa orientasi kami di kampus. Rencananya, setelah acara ditutup kami semua akan langsung pulang ke indekos masing-masing. Namun, baru saja kaki kami menginjak halaman kampus, sebuah seruan terdengar dari belakang.

“Semua mahasiswa baru kumpul di lapangan!” begitu seru suara tersebut. Kami semua yang menengar seruan tersebut otomatis menghentikan langkah. Masih dalam kebingungan, tiba-tiba muncullah sosok-sosok senior kami di sekeliling halaman kampus. Wajah mereka tampak garang dan suara-suara lantang keluar dari bibir mereka. Seolah ingin menunjukkan kekuasaan mereka sebagai senior kampus.

Sesuai dengan seruan yang diberikan sebelumnya, kami semua pun mulai berbaris di halaman. Kayaknya bakal diospek nih, begitu kata saya dalam hati. Saat saya menjadi mahasiswa baru kala itu, ospek merupakan tema yang sangat sensitif. Ini mengingat di masa itu sedang hangat-hangatnya kasus mahasiswa yang meninggal karena mengikuti ospek di kampusnya. Karena itulah di masa saya jadi mahasiswa baru, ospek diminta untuk ditiadakan. Namun tentu saja para senior tidak langsung menurut dengan kebijakan tersebut.

Baca lebih lanjut

Balada TV Layar Datar

Akhir tahun 2013 lalu, saya bersama adik membeli sebuah televisi layar datar berukuran 32 inch. Ada beberapa pilihan kala itu, namun pada akhirnya kami memilih tv layar datar keluaran Jepang yang namanya sudah cukup mendunia. Harapan kami, televisi yang dibeli kala itu bisa awet hingga beberapa tahun ke depan.

Jelang satu tahun penggunaan televisi, adik laki-laki saya melapor, “A, itu tipinya layarnya bergaris-garis. Saya pun menyalakan televisi. Benar kata adik saya. Ada semacam garis-garis yang menutupi bagian atas layar televisi. Mulanya kami mendiamkan saja garis t Mulanya garis hitam tersebut hanya ada pada bagian atas. Namun lama kelamaan garis hitam itu semakin membesar hingga akhirnya seluruh layar televisi. Mau tak mau kami harus membawa televisi ke service center. Itu adalah kali kedua kami membawa televisi itu ke service center setelah sebelumnya secara tiba-tiba suaranya menghilang.

Begitu tiba di service center, pihak teknisi langsung melakukan pemeriksaan pada televisi. Mereka menyalakan televisi, dan seperti yang terjadi saat berada di rumah, garis-garis hitam mendominasi layar televisi tersebut.

“Mbak ini tivinya pernah dikencingin kucing, ya?” tanya teknisi tersebut setelah memeriksa televisi kami.

Baca lebih lanjut

Balada Pengguna Motor

Satu hari, saya mengendarai motor bersama adik saya. Saat berada di lampu merah, tiba-tiba saya menyadari ada yang tidak beres dengan Honda Supra Fit keluaran 2005 tersebut. Dari kaca spion, saya lihat asap berwarna putih tampak mengepul pada dari bagian belakang motor saya.

“Itu asap dari motor kita?” tanya saya kemudian pada adik yang duduk di belakang.

“Iya.”

“Sejak kapan dia berasap begitu?” tanya saya lagi.

“Ya nggak tahu. Udah lama kali. Kan pian yang makai tiap hari,” jawab adik saya lagi dengan cueknya.

Mendengar jawaban adik saya tersebut, mau tak mau saya teringat kembali sejarah dari motor tersebut. Motor tersebut dibeli ayah saya sekitar tahun 2005, saat saya masih duduk di semester tujuh. Dengan alasan penghematan, motor itu kemudian menggantikan Yamaha F1ZR yang sebelumnya saya gunakan untuk kuliah, hingga akhirnya bekerja di kantor yang baru.

Sebagai seorang pengguna, bisa dibilang saya tak terlalu pintar merawat motor tersebut. Perawatan paling dasar yang saya lakukan hanyalah membawa motor tersebut ke bengkel untuk perbaikan rutin. Hal-hal seperti memoles bodi motor tidaklah terlalu saya perhatikan sehingga wajar saja jika di tahunnya yang ke tujuh motor tersebut terlihat cukup kusam.

Baca lebih lanjut

Survey Lokasi (lagi)

Hari itu kami berangkat menuju lokasi akan dipasangnya alat pengolah air yang telah dikirimkan beberapa hari sebelumnya. Ini adalah kali ketiga saya ke lokasi tersebut. Pertama kali dengan tiga orang rekan senior, untuk memastikan kondisi rumah dan tanah yang akan dipakai. Yang kedua dengan beberapa rekan senior, Senior Manager dan pihak kontraktor untuk melihat kemungkinan perencanaan yang akan dipakai. Dan yang kali ini, dengan pihak pusat sendiri, yang ingin meninjau lokasi pemasangan alat sekaligus mengecek kondisi air di daerah tersebut.

Oya, lokasi yang kami datangi kali ini berbeda dengan lokasi yang saya ceritakan sebelumnya. Jika lokasi sebelumnya bernama pulau Bromo, maka lokasi yang baru ini adalah Teluk Halinau. Untuk mencapai lokasi yang dimaksud, kami harus naik mobil terlebih dahulu, kemudian menumpang feri kecil untuk menyeberang, dan berjalan sejauh kurang lebih 500 meter di atas titian kayu.

Tak ada yang berbeda sebenarnya antara lokasi tanah yang lama dengan lokasi yang baru ini. Rumah-rumah para penduduknya masih berdiri di atas air, lengkap dengan jamban-jamban mungilnya. Titian kayu berukuran 1,5 meternya masih menjadi salah satu jalan utama di tempat ini, meski di beberapa rumah, bisa saya lihat jukung-jukung tertambat. Di kiri kanan titian, bisa saya lihat para penduduk dengan kegiatannya masing-masing. Ibu-ibu yang berkumpul sambil berbagi cerita, anak-anak yang sibuk bermain, semuanya tak ubahnya seperti perumahan lain pada umumnya.

Baca lebih lanjut

Pulau Bromo

Pulau Bromo, itulah nama lokasi yang kami kunjungi hari itu. Entah dari mana nama tersebut berasal. Daerah ini terletak di kelurahan Mantuil, sebuah kawasan yang dulunya merupakan salah satu pusat pengolahan kayu di Banjarmasin. Saya sendiri mengenang Mantuil sebagai tempat persinggahan saat akan berkunjung ke rumah nenek beberapa tahun lalu. Entah itu untuk membeli bensin dari klotok yang kami gunakan, atau untuk membeli keperluan lainnya.

Meski saat ini sudah tak terlihat lagi rumah-rumah lanting, namun di sepanjang pesisir sungai masih bisa kita temukan rumah-rumah yang berdiri dengan tiangnya yang menancap di sungai. “Jika angin ribut menyerang, maka rumah ini akan bergoyang,” begitu kata salah satu pemilik rumah yang kami singgahi hari itu. Sebuah titian panjang juga dibangun sebagai sarana penghubung daerah ini dengan dunia luar. Jujur saya sulit membayangkan motor bisa melewati titian kayu tersebut. Namun nyatanya, hari itu saya melihat sendiri bagaimana sebuah motor dengan santainya berlari di atas titian. Yang lebih mengejutkan lagi, ibu di rumah tersebut juga mengatakan kalau hingga tengah malam titian tersebut tak pernah sepi dilewati kendaraan bermotor. “Biasanya sih mereka yang baru pulang dari jalan-jalan di kota,” begitu kata ibu tersebut.

Kedatangan kami ke Pulau Bromo sendiri dalam rangka survey lokasi untuk sebuah proyek di kantor. Meski terletak di dekat sungai, daerah Pulau Bromo ini termasuk wilayah yang masih mengalami kesulitan dalam pengadaan air bersih. Sulit di sini dalam artian tak ada sambungan langsung ke rumah-rumah yang ada di wilayah tersebut. Untuk mendapatkan air bersih, mereka biasanya membeli dari rumah-rumah di seberang yang sudah memiliki sambungan air bersih. Dengan adanya proyek ini, diharapkan tahun 2014 nanti warga Pulau Bromo sudah tak lagi kesulitan dalam mendapatkan air bersih.