5 Barang Impian dari Lazada

Wanita dan belanja adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Mau itu sekadar belanjang sayur ke pasar atau pakaian baru di mall, setiap wanita pasti dengan senang melakukannya. Bahkan ada yang menyebutkan kalau belanja adalah terapi untuk menghilangkan stress. Yah, kalau untuk saya sih, mungkin lebih memilih window shopping di mal atau pusat perbelanjaan online. Meski tidak membeli, namun cukup senang rasanya melihat barang-barang yang ditampilkan di sana.

Dengan semakin majunya teknologi, belanja kini tak perlu lagi dilakukan. Salah satu tempat belanja online yang kerap saya kunjungi adalah Lazada. Di dengan adanya sistem penjualan online yang semakin memudahkan para wanita dan belanja. Tak perlu capek-capek ke pasar, kita bisa membeli barang-barang yang kita inginkan. Tinggal klik sana sini, tunggu beberapa hari, dan barang yang diinginkan pun sampai di tangan.

Salah satu tempat belanja online yang kerap saya kunjungi adalah Lazada. Ada cukup banyak barang yang saya taksir di Lazada. Maklum saja, di Lazada ini banyak sekali diskon yang diberikan. Berikut adalah barang-barang yang saya inginkan dari Lazada:

Pertama, satu set pemotong sayuran. Sebagai seorang istri, salah satu kebiasaan baru yang saya lakoni sehari-hari adalah memasak. Nah, agar tidak rempong dalam menyiapkan makan suami, tentu diperlukan peralatan potong-memotong yang lengkap. Alhamdulillah di Lazada saya menemukan Nicer Dicer Set Pemotong ini. Dalam satu set Nicer Dicer Pemotong ini saya lihat alat yang disediakan cukup lengkap, plus warnanya hijau. Hoho. Saya kebetulan suka warna hijau jadi paslah dengan keinginan saya.

pemotong Baca lebih lanjut

Tiga Model Mukena

Saat diajak umrah oleh orang tua beberapa tahun lalu, sebuah pemandangan membuka mata saya. Saat itu, layaknya jamaah umrah yang lain saya dan keluarga melaksanakan salat di Masjid Nabawi. Dari hotel saya sudah mengenakan bagian atas mukena sementara untuk bagian bawah saya mengenakan celana longgar dan tak lupa juga mengenakan kaos kaki. “Rok bawahan mukena tak perlu dibawa karena toh kita sudah pakai kaos kaki jadi bisa dipakai salat,” begitu kata ibu saya pada saya dan adik.

Nah, selama periode salat di Masjid Nabawi inilah saya jadi tahu kalau mukena bukanlah pakaian yang umum digunakan untuk salat. Seperti yang kita tahu syarat dari salat itu adalah menutup aurat. Jadi pakaian apapun asal sudah menutup aurat kita sudah bisa dibawa untuk salat asalkan bersih dari najis. Dari sinilah kemudian saya melihat bagaimana jamaah wanita dari Arab langsung salat dengan mengenakan gamis hitam yang mereka kenakan. Lalu ada jamaah Iran yang mengenakan kain lebar (seperti seprai) yang diselimutkan ke tubuh mereka saat melaksanakan salat. Jamaah India dengan Salwar Kameez dan kerudung yang dililit di kepala. Lalu bagaimana dengan mukena? Ternyata (mungkin) hanya jamaah Indonesia dan Malaysia yang mengenakannya.

Meski saat ini sudah banyak wanita muslimah yang mengenakan gamis dalam kesehariannya, namun ada juga yang masih tetap memakai mukena saat melaksanakan salat. Mungkin mereka merasa kurang afdol kalau salat tidak mengenakan mukena. Nah, berhubung mukena ini merupakan pakaian yang lazim dikenakan oleh wanita Indonesia saat melaksanakan salat, maka sudah pasti ada banyak model yang muncul seiring perkembangan jaman.

Baca lebih lanjut

Belajar Parenting Lewat Sabtu Bersama Bapak

Di antara teman-teman kantor, saya dikenal (atau mem-branding diri) sebagai seorang pecinta buku. Di dalam tas ransel yang saya kenakan, bisa dipastikan ada sebuah buku di dalamnya. Bahkan jika harus keluar dari kantor untuk sebuah urusan, saya selalu membawa buku yang akan saya baca sebagai pengisi waktu saat menunggu. Ini sendiri saya lakukan karena saya tak pernah mengalokasikan waktu khusus untuk membaca.

Nah, karena dikenal suka membaca dan membawa buku ini, beberapa teman sering bertanya ada novel yang baru tidak pada saya. Biasanya sih saya akan menyodorkan novel yang saya sewa di rental langganan. Namun tak jarang juga saya meminjamkan novel koleksi pribadi. Tentunya ini disesuaikan dengan genre kesukaan si peminjam novel.

Salah satu novel pribadi yang paling sering saya rekomendasikan pada teman-teman kantor adalah Sabtu Bersama Bapak. Novel ini merupakan novel keempat dari Adhitya Mulya yang berhasil saya tamatkan. Tiga novel lainnya, yakni Jomblo, Gege Mengejar Cinta dan Tralveler’s Tale sudah lahap bertahun-tahun sebelumnya.

Baca lebih lanjut

Hujan yang Dinanti

“Saya ini sudah bayar tiap bulan tapi air nggak mengalir di rumah saya selama berhari-hari. Dasar perusahaan payah!”

Suara Bapak berkumis di hadapan Linda terdengar sayup-sayup di telingaku. Setidaknya sudah ada tiga orang hari ini yang melaporkan hal yang sama di bagian pelayanan. Sebagai customer service, tak ada pilihan lain bagi Linda selain mendengarkan omelan orang-orang tersebut.

“Huh, akhirnya pergi juga tuh Bapak. Sampai lapar aku dengerin dia ngomel-ngomel. Makan yuk,” kata Linda setelah tak ada lagi pelanggan yang menghampiri mejanya.

Sejak kemarau melanda beberapa bulan terakhir, perusahaan tempatku bekerja memang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih bagi pelanggan. Kondisi sungai yang terkena intrusi air laut membuat air tak bisa didistribusikan secara normal dan merata.

Baca lebih lanjut

Pernak-Pernik Resepsi Pernikahan

“Yana, badan kamu menghadap ke suami, terus tatap mata suaminya. Suaminya pegang tangan istrinya, lalu menatap mata istrinya,” begitu kata wanita dengan tutup kepala itu pada saya dan suami. Tubuhnya sejak tadi bergerak-gerak mengarahkan saya dan suami, sementara sang partner (yang juga suaminya) mengambil setiap angle yang telah dianggap menarik.

Saya, yang beberapa jam sebelumnya sudah resmi menyandang status istri hanya bisa menahan tawa sambil mengikuti instruksi yang diberikan. Saya bukanlah orang yang gemar difoto. Pria yang menjadi suami saya baru delat dengan saya lima bulan sebelumnya. Jelas rasanya cukup aneh jika kami harus berpose mesra seperti itu.

Beberapa minggu kemudian, saya dan suami menerima hasil foto dari hari pernikahan kami. Saya tatap foto saya berdua suami yang gayanya diarahkan oleh ibu fotografer. Di sana wajah saya terlihat cantik dan kami benar-benar terlihat seperti raja dan ratu. Memang sih saya agak gemuk. Lalu ada juga beberapa editan yang kurang halus. Namun secara keseluruhan foto tersebut tak terlalu mengecewakan 🙂

Baca lebih lanjut