Belajar tentang Usaha Memberi ASI dari Adik

Minggu, 29 Juni 2014, adik saya melahirkan putra pertamanya. Saat itu usia kandungannya sebenarnya masih belum genap 9 bulan. Kondisi fisik yang kelelahan karena bolak-balik ke rumah sakit saat ayah sakit mungkin menjadi penyebab kelahiran sebelum waktunya ini. Dengan kelahiran prematur, keponakan pertama saya lahir ke dunia. Fathan Al Farisi, begitu dia kemudian diberi nama.

Kondisinya prematur membuat Faris harus menginap di inkubator rumah sakit selama beberapa minggu. Ibunya sendiri di awal-awal kelahiran harus berjuang dengan ASI yang ternyata tak kunjung keluar. Pihak Rumah Sakit (perawat) sendiri sempat beberapa kali menawarkan untuk memberikan susu formula kepada Faris. Adik saya menolak awalnya. Namun karena ASI tak kunjung keluar, dengan terpaksa adik saya merelakan putra pertamanya diberi minum susu formula.

Untungnya adik saya tidak menyerah dengan kondisinya. Setelah diizinkan pulang ke rumah, adik saya berusaha keras agar ASI-nya bisa keluar dengan lancar. Berbagai cara pun dicoba. Mulai dari diurut, hingga mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang bisa meningkatkan produksi ASI. Alhamdulillah dengan usaha yang sungguh-sungguh, akhirnya adik saya bisa memberikan ASI-nya kepada Faris. ASI tersebut disimpan ke dalam botol untuk kemudian diberikan kepada Faris yang masih menginap di Rumah Sakit.

Baca lebih lanjut

Pertemuan Mingguan

Ina melirik pergelangan tangannya. Pukul dua lewat tiga puluh menit. Ah, sial! Telat! Rutuknya dalam hati. Kalau saja Ina tidak merebahkan diri dahulu usai salat dzuhur tadi, mungkin dia takkan setergesa ini. Segera saja ia mengambil kunci motor yang tergeletak di atas meja dan berpamitan pada ibunya yang sedang berada di dapur.

Ina memacu motornya dengan kecepatan penuh. Hari ini seharusnya ia bertemu dengan beberapa temannya. Karena tertidur, dia jadi terlambat. Tak sampai tiga puluh menit, akhirnya Ina tiba di tempat tujuan. Masjid Raya Sabilal Muhtadin, sebuah masjid yang terletak di pusat kota Banjarmasin. Masjid itu merupakan salah satu masjid terbesar di kota tempat Ina tinggal. Beberapa tahun lalu masjid tersebut direnovasi oleh pemerintah dan menghasilkan bangunan yang terlihat lebih megah dan menawan dari yang sebelumnya.

Setelah memarkir motor, Ina menyempatkan diri memeriksa penampilannya. Diperbaikinya kerudung yang terlihat berantakan dan rok yang terlihat kusut. Dirasa oke, Ina pun berjalan cepat menuju teras masjid, berharap ia tak banyak ketinggalan. Dari jauh, dilihatnya enam orang gadis berjilbab yang duduk melingkar dan seorang wanita paruh baya sedang berbicara. Ina tersenyum. Ah, inilah yang selalu Ina tunggu setiap minggunya. Pertemuan dengan para sahabatnya dalam mendalami agama.

***

Jumlah kata : 192 kata

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis : 1001 Kisah Masjid”

Doa dan Cinta dalam Sentuhan

Beberapa hari setelah resepsi pernikahan, saya mengalami sebuah kecelakaan kecil. Saat itu, kami sekeluarga baru pulang dari mengunjungi kediaman nenek saya di Aluh-aluh. Menggunakan motor, saya dan suami masing-masing membonceng ayah ibu mertua kami. Saya bersama ibu mertua, sedang suami bersama ayah dan adik bungsunya. Saat sedang asyik berkendara, tiba-tiba saya melihat ada seorang pria yang hendak menyeberang jalan. Spontan saya cengkeram rem kanan motor matic saya. Akibatnya bisa ditebak, alih-alih menghindari kecelakaan, saya dan ibu mertua malah jatuh bersama dari motor.

Setiba di rumah, saya langsung diminta mengurut kaki yang sakit akibat jatuh tersebut. Saat itu suami dengan sigap mengurut-urut pelan pergelangan kaki saya yang sakit. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya jatuh dari motor. Beberapa bulan sebelumnya, saya juga mengalami 2 kali kecelakaan kecil yang berakibat cedera pada kaki saya. Beberapa kali juga kaki saya diurut untuk menghilangkan sakit di bagian kaki. Hasil urutnya sih lumayan oke, tapi kadang-kadang masih muncul sedikit rasa nyeri di kaki saya. “Yah, moga lama-lama nyerinya hilang,” begitu pikir saya.

Sayangnya perkiraan saya salah. Tambahan kecelakaan baru yang saya alami kala itu rupanya secara diam-diam menambah “luka” di kaki saya. Puncaknya terjadi saat saya dan suami pergi piknik ke pantai bersama beberapa rekan kantor. Sepanjang perjalanan, tak ada tanda-tanda saya akan mendapat masalah. Namun begitu tiba di pantai, saat akan turun dari mobil, tiba-tiba saya merasakan nyeri yang amat sangat pada pergelangan kaki kanan saya. Nyeri seperti ditusuk yang membuat saya sulit menjejakkan kaki di tanah.

Baca lebih lanjut

Bertemu Eksibisionis yang Suka Pamer

“Tahu, nggak? Katanya ada orang gila di jalan samping lapangan softball,” kata salah seorang teman kuliah pada saya dan teman-teman lain yang sedang berkumpul di depan kelas.

“Oh ya? Orang gilanya yang gimana?” salah seorang teman bertanya.

“Itu, dia bisa ngeluarin anunya,” jawab teman saya tadi dengan wajah

Kami yang mendengar jawabannya itu langsung berjengit.

“Hah! Ngeluarin anunya? Hii ngerii!”

“Iya. Makanya nanti kalian kalau lewat jalan itu hati-hati aja. Kalau ada orang aneh mending balik arah,” saran teman saya itu kemudian.

Tak lama setelah percakapan tersebut terjadi sebuah undangan mampir ke telinga kami.

Baca lebih lanjut

Kenangan Mr. Radio Rusak

Saat itu saya duduk di kelas 3. Entah mengapa ada sosok teman satu kelas yang menarik perhatian saya. Sebut saja namanya B. Rambutnya cepak dengan wajah manis. Dia duduk di bangku di hadapan saya. Kalau boleh dikata si B ini termasuk dalam deretan cowok gaul di sekolah kami.

Karena sifat saya yang tertutup, saya tak memiliki banyak teman di SMA. Baik itu laki-laki atau perempuan. Pun dengan si B ini saya tak terlalu banyak berinteraksi. Mungkin satu-satunya alasan saya menyukai dia adalah karena kelakuannya yang agak gila di mata saya.

Saya pun menceritakan ketertarikan saya pada sahabat sekaligus teman sebangku. Dia jelas terkejut dengan pengakuan saya. “Ya ampun! Kok bisa kamu naksir dia. Suaranya cempreng gitu. Kayak radio rusak,” begitu kata sahabat saya.

Saya tertawa mendengar komentar sahabat saya. “Haha. Bisa aja kamu nyebut dia Radio Rusak,” kata saya.

“Eh tapi kayaknya lucu juga kalau kita nyebut dia Radio Rusak. Jadi nggak ada yang ngeh siapa yang kutaksir,” kata saya lagi setelah berpikir sejenak. Maka sejak saat itu kami sepakat menyebut cowok gebetan saya dengan nama Radio Rusak atau R2.

Baca lebih lanjut