Delapan Tahun Setelah Wisuda

Waktu menunjukkan pukul 19. 20 ketika saya tiba di parkiran dalam Duta Mall Banjarmasin. Setelah memarkir motor di sela-sela ruang yang tersedia, saya meraih ponsel dari dalam tas dan menghubungi sebuah nomor. Satu kali, dua kali, terdengar nada tersambung. Di kali ke tiga, nada sambung terputus. Dan sebagai gantinya saya menerima panggilan dari nomor yang saya hubungi tadi. “Di AW, Tung,” begitu katanya saat panggilan saya jawab.

Lekas saya menuju tempat yang dimaksud. Begitu tiba AW, saya menemukan sosoknya di pojokan. Mengenakan kaos sweater hijau toska, tangannya melambai pada saya yang sempat kebingungan. Tersenyum, saya pun memasuki restoran fastfood dari negeri paman Sam tersebut dan mendatanginya. Sebelum saya duduk, ia memperkenalkan sosok lain yang menemaninya malam itu. Seorang gadis manis berjilbab bernama Galuh yang merupakan adik bungsunya.

Baca lebih lanjut

Ketemu Desi dan Fatah

Grand City Surabaya sejatinya adalah tempat pertama yang saya kunjungi saat pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya (selain rumah Nabila dan hotel). Tempat ini menjadi pilihan Fatah untuk mempertemukan saya dan Desi yang kebetulan hari itu juga tiba dari Yogyakarta. Pertimbangannya kala itu, Grand City terletak di dekat stasiun Gubeng sehingga akan memudahkan Desi untuk mendatangi kami setelah dia tiba di stasiun.

Rencana awal sendiri, kami akan bertemu sekitar pukul 3-4 sore. Namun rencana berubah karena ternyata begitu tiba di Surabaya, kami bertiga tidak langsung diantar mencari hotel, melainkan mampir dulu ke rumah orang tua Nabila, sang pengantin perempuan. Yah, namanya juga numpang mobil orang jadi harus ngikut yang bawa mobil dong. Masih mending juga kami dijemput. Hehe. Di rumah Nabila, kami makan siang, shalat dan istirahat sebentar sebelum akhirnya berangkat lagi menuju pusat kota dalam rangka mencari hotel.

Karena kediaman orang tua Nabila terletak di daerah Djuanda, maka perlu waktu satu jam (lebih?) untuk tiba di hotel. Untungnya setelah berkomunikasi lewat whatsapp dan sms, baik Desi maupun Fatah menyebutkan kalau mereka akan berada di Grand City sampai malam, jadi saya tak perlu khawatir kopdar pertama kami akan gagal 🙂

Baca lebih lanjut

Akhirnya Muse ke Banjarmasin!

Jika ada yang menanyakan kopdar manakah yang paling berkesan dari semua kopdar yang pernah saya ikuti, mungkin jawabannya adalah kopdar dengan empat orang ex-MPer di kota Bogor 22 September 2012 lalu.

Ada banyak cerita yang ingin selalu saya ingat dari kopdar hari itu. Mulai dari ketemu sama Muse di gerbong kereta, hal yang dulu sempat membuat saya penasaran. Lalu melihat sendiri bagaimana kegilaan Muse dan Yas saat berkaraoke, dan tentunya suara emasnya Ancha.

Saya juga tak bisa melupakan suasana hangat makan malam kami di Macaroni Panggang. Saat saya nyaris kejengkang ketika mendengar sendiri cerita Ancha soal pengalaman berkeretanya.  Lalu juga pembicaraan kami di dalam angkot seusai makan malam tersebut. Hingga akhirnya kami menjadi manusia-manusia kelelahan yang menguasai gerbong kereta menuju Jakarta.

Baca lebih lanjut

Kopdar + bukber ex. MP-er di Banjarbaru

Senin pagi, sebuah pesan masuk ke ponsel saya. “Mba Ay, ini April. Ini nomorku. Ke Bjb-nya mau ke daerah mana?” begitu isi pesan tersebut. Pengirimnya adalah April aka Bundanya Maxy yang sekarang sedang berada di Banjarbaru dalam rangka mudik.

Membaca pesan tersebut, saya teringat pada Yanti yang juga katanya akan ada di Banjarbaru pada hari itu. Segera saya menghubungi Yanti untuk mengatur jadwal pertemuan. Dan setelah melakukan sedikit diskusi, akhirnya diputuskan untuk kopdar sekalian bukber pada hari itu juga. Baca lebih lanjut

[catatan perjalanan] Precious Moments

Salah satu momen yang paling berkesan bagi saya saat melakukan perjalanan singkat ke Jakarta minggu lalu (21-23 September) mungkin adalah ketika kami berlima sedang menikmati malam di Macaroni Panggang. Saat itu, kami semua sedang asyik berbincang (saya lupa topiknya apa), dan tiba-tiba terdengar suara dari belakang saya.

“Maaf, apakah di sini ada yang merokok?”

Rupanya sang penanya adalah seorang SPG rokok. Mendengar pertanyaan tersebut, secara serempak tiga laki-laki yang ada di meja kami langsung menjawab, “Tidak.” Sebuah jawaban singkat yang langsung membuat saya merasa menemukan berlian di tengah hutan.

Baca lebih lanjut