Mencoba Beras Merah di Rumah Makan Lauku

Usai menyetorkan hafalan di ma’had Umar bin Khattab, saya dan dua orang teman kerap berkumpul kembali untuk saling bercerita sekaligus makan malam. Biasanya tempat makan yang kami pilih tak jauh-jauh dari lokasi ma’had yang terletak di jalan Gatot Subroto. Entah itu Ayam Wong Solo atau Ayam Goreng Kudus, yang kebetulan menyediakan tempat untuk shalat di dalamnya.

Namun untuk minggu kemarin, saya dan Nisa memutuskan mencoba suasana baru. Rumah makan Lauku menjadi pilihan kami hari itu. Kebetulan saya juga sudah cukup lama penasaran dengan rumah makan yang menyediakan beras merah ini. Tambahan lagi, letaknya juga sejalur dengan arah rumah kami.

Usai melaksanakan shalat magrib di mesjid raya Sabilal Muhtadin, saya dan Nisa langsung melajukan motor kami menuju rumah makan yang letaknya tak jauh dari mesjid raya tersebut. Beberapa anak muda tampak sudah mengisi kursi-kursi kayu bersandaran tinggi yang ada di rumah nakan tersebut. Kami pun mulai memesan. Ayam ras untuk saya dan ayam kampung untuk Nisa, keduanya dengan beras merah. Dua menu ini merupakan menu paketan dengan harga Rp. 25.000,00 per porsinya.

Baca lebih lanjut

Jum’at Sore di Coffee Toffee

Jum’at lalu, saya dan seorang teman kantor berencana menonton film 99 Cahaya Langit di Eropa. Sayangnya, karena antrian yang panjang (kami berencana menggunakan poin telkomsel) akhirnya rencana tersebut harus ditunda. Dan sebagai gantinya, kami pun mengalihkan tempat hang out kami ke Coffee Toffee, sebuah tempat minum kopi yang baru dibuka beberapa bulan lalu.

Coffee Toffee merupakan sebuah franchise kedai kopi yang terletak di kawasan Taher Square Banjarmasin, jalan Piere Tendean No. 25. Sejak pertama kali dibuka beberapa bulan lalu, kedai kopi yang satu ini cukup berhasil menarik minat para anak muda di kota Banjarmasin. Letaknya yang cukup strategis bisa jadi menjadi salah satu faktor yang membuat Coffee Toffee laris manis. Ini tentunya juga di luar dari faktor kedai kopi ini sudah punya nama sebelumnya.

Saya sendiri datang ke kedai tersebut dalam rangka menuntaskan rasa penasaran. Suasana masih cukup sepi saat kami tiba di lantai 2 tempat kedai berada. Ini mungkin karena saat itu masih jam kerja. Tak seperti kafe pada umumnya, pemesanan langsung dilakukan di kasir dan bayar di tempat.

Baca lebih lanjut

Sasirangan

image

Ada empat macam seragam kantor yang dikenakan para karyawan di kantor tempat saya sekarang bekerja. Seragam dengan logo perusahaan di hari Senin, blazer biru tua di hari Selasa, blazer hijau toska untuk Rabu, dan sasirangan untuk hari Kamis. Khusus untuk Jum’at, karena paginya diisi dengan senam bersama, maka para karyawan dibolehkan mengenakan pakaian olahraga untuk bekerja.

Saya sendiri (bersama dua teman perempun lain) baru bisa mengenakan blazer biru tua untuk hari Selasa. Seragam untuk hari Senin masih dijahit, dan untuk blazer hijau toska, kabarnya akan dihapuskan dan diganti dengan seragam Senin. Jadilah selain hari Selasa, Kamis dan Jum’at, saya dan teman-teman kembali mengenakan seragam putih hitam yang warnanya sudah mulai berubah itu.

Untuk sasirangan sendiri, karena tidak ditetapkan motif khusus, maka kami pun berinisiatif membelinya di salah satu pusat penjualan kain sasirangan yang terletak di km 3 jalan A. Yani. Kami memilih membeli di toko tersebut karena koleksi pakaian jadinya yang cukup lengkap. Sebenarnya cukup banyak gerai penjual sasirangan di kota Banjarmasin. Namun rata-rata gerai tersebut hanya menjual kain sasirangan dan sedikit sekali yang menyediakan pakaian jadi untuk wanita. Entah jika kami mencari di kampung sasirangan yang ada di Kampung Melayu. Bisa jadi koleksinya lebih lengkap.

Baca lebih lanjut