I Hear Your Voice

Selama bertahun-tahun aku membayangkan pertemuanku dengan cinta pertamaku. Dia adalah seorang gadis yang kutemui sepuluh tahun yang lalu. Wajahnya cantik dan  pemberani. Dengan keberaniannya, ia telah menyelamatkan hidupku dan memberi keadilan atas kematian ayahku.

Setiap hari aku menyusuri jalan di Yeon Ju sambil berharap bisa menemukan sosoknya kembali. Sosoknya terekam dalam tiap lembaran buku harian yang mengiringi perjalanan kehidupanku selama sepuluh tahun terakhir. Dan meski sepuluh tahun telah berlalu sejak pertemuan kami, aku yakin akan bisa langsung mengenalinya.

Sayangnya saat hari pertemuan itu akhirnya tiba, aku dihadapkan pada kenyataan pahit. Cinta pertamaku ternyata tak seperti yang kubayangkan. Dia masih cantik seperti dulu, dan kini bekerja sebagai pengacara publik di Yeon Ju. Namun alih-alih menjadi pengacara hebat, dia malah menjelma menjadi seorang pengacara payah yang bahkan tak mau berusaha untuk membela kliennya. Selain itu ada sisi lain dari dirinya yang belakangan kuketahui, yang membuat diriku harus banyak mengurut dada.

Baca lebih lanjut

My Love From Another Star

Perlu waktu tiga tahun hingga akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan sosoknya. Di tengah puluhan wartawan dan kamera mereka yang berkilat sosoknya tiba-tiba muncul. Tak ada yang berubah dari dirinya. Masih jangkung dan tampan, tak bertambah tua sedikitpun. Dengan mantap ia berjalan menuju ke arahku, melewati orang-orang yang berdiri membeku. “Aku sudah bilang jangan keluar pakaian terbuka, ” katanya setelah menyampirkan jas luarnya ke punggungku yang terbuka.

Aku menyentuh wajahnya. Masih tak percaya dengan sosoknya yang kini berada di hadapanku. Ini jelas bukan ilusi, seperti yang pernah kualami tiga tahun yang lalu, saat menunggunya di menara Namsan di hari keseratus kebersamaan kami. Sosoknya benar-benar nyata. Tanpa sadar air mata menetes dari mataku.

“Kau kembali,” kataku masih tak percaya

“Ya, ini aku,” jawabnya.

Baca lebih lanjut

[Movie Scene] Kahaani

Kalighat Metro Stasiun tampak ramai seperti biasanya. Anak-anak yang pulang dari sekolahnya, ibu-ibu muda dengan anak mereka, serta para laki-laki dengan pakaian kerja mereka. Semuanya berlalu-lalang di salah satu stasiun metro bawah tanah kota Kolkata tersebut dengan tujuan mereka masing-masing. Mereka mengantri tiket, menuruni tangga, hingga akhirnya berebut memasuki gerbong kereta. Arup Basu merupakan satu diantara orang-orang tersebut.

Pintu kereta secara otomatis tertutup ketika Arup Basu berhasil memasuki gerbong kereta. Terlambat satu detik saja ia pasti akan ketinggalan kereta tersebut. Sambil menghela nafas, refleks matanya mengitari orang-orang di sekelilingnya. Gerbong kereta yang dimuatinya kini tampak penuh. Sayup-sayup Arup Basu bisa mendengarkan pembicaraan orang-orang tersebut.

Tepat ketika Arup Basu mulai melangkahkan kakinya di dalam gerbong kereta, telepon genggamnya berbunyi.

Baca lebih lanjut