Balada Kue Kering

img_20160703_154631.jpg

Di masa kecil, saya dan adik perempuan kerap membantu ibu kami membuat kue kering jelang lebaran. Kala itu dengan penuh semangat saya dan adik mencetak adonan-adonan yang sudah dibuat ibu sebelumnya. Ada yang berbentuk bunga, hati juga kemiri dengan isian selai. Biasanya prosesi pembuatan kue kering ini berlangsung 1-2 hari sebelum lebaran.

Tahun berlalu, ibu saya mulai malas membuat kue kering. Alasan utamanya karena kebanyakan kue kering yang dibuat itu ujung-ujungnya tidak habis dimakan. Tak banyak memang tamu yang berkunjung ke rumah kami jika lebaran tiba. Apalagi makin ke sini saya selalu merasa lebaran semakin kehilangan keseruannya. Hingga akhirnya, kebiasaan membuat kue kering pun menghilang di keluarga saya.

Tahun ini, memasuki Ramadhan kedua bersama suami, saya memutuskan untuk membuat kue kering untuk lebaran. Pengalaman berkali-kali menggunakan oven milik ibu membuat saya cukup percaya diri akan berhasil dengan proyek ini. Apalagi suami juga mendukung dan berjanji akan membantu dalam membuat kue kering ini. Jadilah saya semakin bersemangat dengan rencana saya.

“Jadinya kita mau bikin apa hari ini?” tanya suami di Minggu siang. Baca lebih lanjut

Doa dan Cinta dalam Sentuhan

Beberapa hari setelah resepsi pernikahan, saya mengalami sebuah kecelakaan kecil. Saat itu, kami sekeluarga baru pulang dari mengunjungi kediaman nenek saya di Aluh-aluh. Menggunakan motor, saya dan suami masing-masing membonceng ayah ibu mertua kami. Saya bersama ibu mertua, sedang suami bersama ayah dan adik bungsunya. Saat sedang asyik berkendara, tiba-tiba saya melihat ada seorang pria yang hendak menyeberang jalan. Spontan saya cengkeram rem kanan motor matic saya. Akibatnya bisa ditebak, alih-alih menghindari kecelakaan, saya dan ibu mertua malah jatuh bersama dari motor.

Setiba di rumah, saya langsung diminta mengurut kaki yang sakit akibat jatuh tersebut. Saat itu suami dengan sigap mengurut-urut pelan pergelangan kaki saya yang sakit. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya jatuh dari motor. Beberapa bulan sebelumnya, saya juga mengalami 2 kali kecelakaan kecil yang berakibat cedera pada kaki saya. Beberapa kali juga kaki saya diurut untuk menghilangkan sakit di bagian kaki. Hasil urutnya sih lumayan oke, tapi kadang-kadang masih muncul sedikit rasa nyeri di kaki saya. “Yah, moga lama-lama nyerinya hilang,” begitu pikir saya.

Sayangnya perkiraan saya salah. Tambahan kecelakaan baru yang saya alami kala itu rupanya secara diam-diam menambah “luka” di kaki saya. Puncaknya terjadi saat saya dan suami pergi piknik ke pantai bersama beberapa rekan kantor. Sepanjang perjalanan, tak ada tanda-tanda saya akan mendapat masalah. Namun begitu tiba di pantai, saat akan turun dari mobil, tiba-tiba saya merasakan nyeri yang amat sangat pada pergelangan kaki kanan saya. Nyeri seperti ditusuk yang membuat saya sulit menjejakkan kaki di tanah.

Baca lebih lanjut

Setahun Pertama

Tanggal 20 Mei sekarang memiliki arti tersendiri bagi saya dan suami. Tanggal itu, setahun yang lalu saya resmi menyempurnakan separuh agama saya. Menjadi seorang istri dari seorang pria yang dipilihkan Allah untuk saya.

Layaknya pasangan pengantin, ada banyak rencana di kepala saya untuk memperingati momen tersebut. Mulai dari menginap di salah satu hotel yang ada di kota kami (saya bahkan sudah survey-survey via aplikasi), hingga makan malam di beberapa tempat makan pilihan.

Sayangnya rencana kami untuk memperingati ulang tahun pernikahan dengan romantis tersebut tidak terealisasi. Tidak ada honeymoon di kamar hotel, juga dinner romantis di rumah makan mahal. Yang terjadi kami berdua hanya menghabiskan waktu di rumah tanpa melakukan kegiatan berarti.

Baca lebih lanjut

Sepasang Cincin Batu Akik

Sepasang suami istri berjalan mendekati deretan penjual batu akik di pinggir jalan dekat rumah mereka. Penjual batu akik ini bermunculan ketika demam batu akik terjadi beberapa bulan sebelumnya. Meski kini demam batu akik mulai mereda, sepertinya para penjual di tempat tersebut masih berusaha bertahan dengan usaha mereka.

Sepasang suami istri ini menghampiri sebuah etalase dari salah satu penjual. Pada etalase tersebut terpajang beberapa macam batu akik juga emban dari batu akik yang terbuat dari besi. Sang suami kemudian meminta sang istri memilih salah satu emban yang pas dengan jarinya. Kebetulan ia memiliki sebuah batu berwarna merah kecoklatan yang dibelinya dari seorang penjual batu akik yang kehabisan ongkos pulang.

“Nggak ada yang pas, Mas,” kata sang istri setelah mencoba beberapa emban yang ada di etalase tersebut.

Baca lebih lanjut

Pernak-Pernik Resepsi Pernikahan

“Yana, badan kamu menghadap ke suami, terus tatap mata suaminya. Suaminya pegang tangan istrinya, lalu menatap mata istrinya,” begitu kata wanita dengan tutup kepala itu pada saya dan suami. Tubuhnya sejak tadi bergerak-gerak mengarahkan saya dan suami, sementara sang partner (yang juga suaminya) mengambil setiap angle yang telah dianggap menarik.

Saya, yang beberapa jam sebelumnya sudah resmi menyandang status istri hanya bisa menahan tawa sambil mengikuti instruksi yang diberikan. Saya bukanlah orang yang gemar difoto. Pria yang menjadi suami saya baru delat dengan saya lima bulan sebelumnya. Jelas rasanya cukup aneh jika kami harus berpose mesra seperti itu.

Beberapa minggu kemudian, saya dan suami menerima hasil foto dari hari pernikahan kami. Saya tatap foto saya berdua suami yang gayanya diarahkan oleh ibu fotografer. Di sana wajah saya terlihat cantik dan kami benar-benar terlihat seperti raja dan ratu. Memang sih saya agak gemuk. Lalu ada juga beberapa editan yang kurang halus. Namun secara keseluruhan foto tersebut tak terlalu mengecewakan 🙂

Baca lebih lanjut