Menuju Tangerang

Sebuah pesan BBM masuk ke ponsel saya di akhir bulan Februari. Pengirimnya adalah adik ipar yang tinggal di Tangerang sana.

“Kak, kemarin pas nikah biaya sewa baju sama make up-nya berapa ya?” tanya adik ipar yang usianya tak jauh berbeda dari adik perempuan saya.

Saya kemudian menyebutkan biaya salon saya saat menikah tahun lalu. Setelah itu, iseng saya tanyakan tanggal berapa adik ipar saya menikah.

“Tanggal 4 Maret, Kak. Walimahnya tanggal 26,” balas adik ipar masih lewat BBM.

Membaca balasan tersebut, saya kaget. Pasalnya baru malam sebelumnya saya bertanya pada suami apakah keluarga sudah memberi kabar perihal tanggal pernikahan adik ipar yang baru saja dilamar. Kala itu suami saya hanya mengatakan kemungkinan nikahnya beberapa bulan lagi.

“Wah, cepat banget ya, Dek. Kirain masih beberapa bulan lagi,” balas saya lagi.

“Iya, Kak. Biar nggak banyak godaannya. Kakak nanti datang kan nanti?”

“Insya Allah. Nanti Kakak ngomong dulu sama Kakakmu bagusnya datang tanggal berapa,” jawab saya menutup pembicaraan.

***

Baca lebih lanjut

Pantai Takisung yang Kini Berwarna

Ada yang menarik dari pemandangan di bibir pantai Takisung. Dari kejauhan bisa saya lihat pesisir pantai tampak berwarna-warni. Setelah didekati, ternyata warna-warni itu berasal dari payung-payung yang ditegakkan di tepian pantai. Di bawahnya, tampak beberapa orang sedang duduk bersantai sambil memandangi mereka yang asyik berenang.

“Mau sewa payung, Bu? Biar kada kepanasan. Tiga puluh ribu aja,” begitu kata seorang pemuda pada saya dan suami. Selain pemuda tersebut, beberapa pemuda lain juga menawarkan payung milik mereka. Rupanya di pantai ini, setiap payung memiliki pemilik yang berbeda-beda.

“Bentar, Mas. Saya mau nyari keluarga yang lain dulu,” balas saya pada si pemuda. Mata saya sibuk mencari-cari beberapa sosok yang sebelumnya membersamai kami dalam perjalanan menuju Pantai Takisung.

“Wah, kayaknya mereka sudah dapat payung duluan, Mas. Maaf, ya,” kata saya setelah menemukan sosok paman dan salah satu sepupu saya. Pemuda itu tampak tak keberatan dengan penolakan saya dan langsung berjalan menjauh. Setelahnya kami pun berjalan menuju anggota keluarga saya sedang duduk santai.

Baca lebih lanjut

Piknik Itu Penting

wpid-dsc_2814.jpg

“Kapan nih kita piknik? Masa divisi lain udah kemana-mana kita di sini-sini aja?” begitu tanya salah satu senior di kantor saat kami sedang berkumpul untuk rapat internal divisi.

Layaknya bom waktu, pertanyaan ini langsung mendapat sambutan dari semua orang yang berada di ruangan tersebut. Maklumlah, setelah setahun penuh bekerja tanpa henti, belum pernah sekalipun kami semua piknik bersama. Padahal piknik itu penting untuk bisa merelaksasi kembali otak yang jenuh karena bekerja.

“Enaknya ke mana? Taman Labirin? Atau ke pantai aja?” tanya salah satu rekan saya. Berhubung rencananya dadakan, maka otomatis tempat piknik yang dipilih hanya seputaran Banjarmasin dan kabupaten sekitarnya.

“Ke pantai aja. Batakan kayaknya asyik,” balas senior yang lain.

“Iya. Sudah lama juga tidak ke pantai,” saya menambahkan.

Baca lebih lanjut

Berburu Batu di Martapura

Batu, batu dan batu. Itulah yang akan kita saksikan jika mengunjungi pertokoan Cahaya Bumi Selamat di kota Martapura. Sebagai pusat penjualan batu dan permata, pertokoan ini menjadi tujuan utama para pelancong yang menjejakkan kakinya di provinsi Kalsel.Puluhan toko yang berjejer di sana menjual aneka macam hasil kerajinan batu. Tak hanya intan yang memang sudah menjadi ikon kota tersebut, namun juga batu-batu lainnya yang saat ini sedang boming di pasaran.

Saya dan tiga orang teman berangkat sekitar pukul sebelas dari kota Banjarmasin. Beberapa hari sebelumnya saya mendapat ajakan untuk ke Martapura. Karena memang tidak ada agenda apa-apa hari itu, saya pun menyetujui ajakan tersebut.

Terik matahari langsung menyambut kami begitu keluar dari mobil. Mungkin karena euforia batu akik yang masih melanda, suasana pertokoan CBS terasa sangat ramai hari itu. Puluhan mobil berjejer rapi di area parkir. Tak hanya dari kota tetangga, bisa jadi para pengunjung ini juga datang dari seberang pulau. Tujuan mereka hanya satu, membeli oleh-oleh berupa batu dari Kalimantan.

Baca lebih lanjut

Dari Gunung Kayangan ke Mandi Angin

“Kak, Sabtu sibuk, ngga? Kami mau jalan-jalan ke Taman Labirin,” tanya seorang adik pada saya beberapa waktu yang lalu. Mendengar nama Taman Labirin, sontak saya bersemangat. Taman Labirin merupakan sebuah tempat wisata baru di kabupaten Tanah Laut yang sedang booming beberapa bulan terakhir.

Sesuai rencana, Sabtu pagi kami bertujuh Untuk menuju ke Taman Labirin ini, kami menempuh perjalanan sekitar satu jam menuju Taman Agrowisata Tambang Ulang di kabupaten Tanah Laut. Sebelum menjejakkan kaki di Tambang Ulang, terlebih dahulu kami mampir di Gunung Kayangan, sebuah spot lain di kabupaten Tanah Laut yang juga cukup terkenal. Untuk masuk ke tempat ini setiap kepala dikenai iuran Rp. 5000,-

Pada bagian atas tempat ini, terdapat sebuah bangunan mirip musalla tempat orang biasanya mengambil foto. Ukiran Tanah Laut dalam huruf raksasa menjadi ikon utama dari tempat wisata ini. Sayang aneka macam coretan hiasan batu tempel ini berkurang keindahannya. Puas berfoto-foto di Gunung Kayangan, kami pun kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan kembali ke Tambang Ulang.

Baca lebih lanjut