[Fiksi] Deria dan Ular Gota

Hingga satu minggu yang lalu, Deria tak pernah mengerti mengapa beberapa minggu terakhir ibunya selalu melarangnya mendekati di sungai yang mengaliri desa tempat mereka tinggal. Di saat teman-temannya tertawa sambil mencipratkan air ke wajah masing-masing, Deria hanya bisa menatap dari pinggir sungai. Ia tak mungkin ikut bergabung karena ibu akan langsung meneriakinya dari bagian dapur rumah mereka. Deria sendiri merasa heran dari mana ibunya tahu dirinya bermain air padahal ibunya berada di dalam rumah. Pernah satu kali Deria nekat ingin menceburkan dirinya ke air. Baru saja kakinya tercelup, sosok sang ibu sudah berada di pinggir sungai dengan tongkat di tangannya. Tanpa banyak bicara Deria terpaksa berdiri kembali dan berjalan mengikuti ibunya pulang ke rumah.

Alasan dari larangan ibu itu akhirnya Deria ketahui beberapa hari yang lalu. Saat itu, ia baru saja tiba di rumah setelah menghabiskan setengah harian di kediaman Levia, sahabat karibnya. Saat itu ibu sedang berada di dapur ditemani Mak Kaja, salah satu tetangga mereka. Mungkin karena ibunya terlalu asyik mengobrol sehingga tidak menyadari kehadiran Deria. Deria pun langsung masuk ke kamarnya. Saat dirinya hendak melepaskan pakaian yang dikenakannya, sayup-sayup didengarnya pembicaraan ibunya dengan Mak Raudah.

“Mak Niah, sudah dengar kabar terbaru belum? Si ular Gota muncul lagi!” tanya Mak Kaja pada ibunya.

“Benarkah?” tanya ibu kemudian.

Baca lebih lanjut

Cerpen Ekskul Penulis Cilik

“Ustadzah, gimana kalau kita adakan lomba antar teman-teman di sini? Nanti yang menang dapat hadiah coklat,” begitu kata Syahla tiba-tiba di tengah ekskul menulis yang saya pegang setahun terakhir. Syahla adalah salah satu siswa kelas V yang mengikuti ekskul menulis. Tulisannya sebenarnya bagus namun kadang dia lebih senang berbicara ketimbang menulis.

“Wah, boleh juga. Kakak tunggu naskah kalian sampai akhir semester ya,” jawab saya dengan antusias. Maklum saja. Selama satu semester memegang ekskul menulis di salah satu SD IT di Banjarmasin, jarang sekali saya temukan adik-adik kecil ini begitu semangat untuk menulis.

“Baiklah. Nanti ceritanya ulun ketik dulu baru dikumpul,” kata Syahla kemudian.

“Yang lain ikutan juga, kan?” Saya bertanya kepada Penulis Cilik yang lain.

Baca lebih lanjut

Saat Ibu Tak Ada di Rumah

 

“Ibu akan pergi selama 2 hari. Kalian jangan buat rumah berantakan, ya,” kata ibu Jung Hwan kepada suami dan kedua anak lelakinya, Jung Hwan dan Jung Bong. Beberapa saat sebelumnya ia mendapat telepon dari salah satu saudaranya. Sebelum berangkat, Ibu Jung Hwan kemudian memberikan beberapa arahan kepada ketiga lelaki tersebut. Bagaimana mengganti briket, apa yang akan dimakan untuk makan malam, hingga bagaimana mengatasi toilet yang mampet.

Karena dalam keluarga tersebut hanya ada satu sosok perempuan, bisa ditebak apa yang akan terjadi jika ibu sedang tidak ada. Ya. Para lelaki tersebut dengan leluasa melakukan segala hal. Hanya dalam waktu beberapa jam, rumah yang mulanya rapi sudah berubah menjadi kapal pecah.

Satu hari berlalu. Saat ketiganya masih menikmati masa bebas tanpa ibu, tiba-tiba telepon berbunyi. “Ibu sudah di terminal,” begitu kata Jung Hwan yang mengangkat telepon. Mendengar kabar tersebut, spontan ayah dan kedua anaknya berlarian membersihkan rumah yang tak keruan lagi bentuknya.

Baca lebih lanjut

Diskon Lebaran

Beberapa hari jelang akhir Ramadhan, saya dan anggota keluarga berkunjung ke satu-satunya mal di kota kami. Seperti yang selalu terjadi di tahun-tahun sebelumnya, di penghujung bulan Ramadhan, pusat perbelanjaan pasti dipenuhi oleh mereka-mereka yang ingin berbelanja keperluan hari raya (termasuk juga saya). Memang tidak dipungkiri rayuan diskon besar-besaran selalu menjadi magnet yang sulit untuk ditolak.

Saat itu, sambil menunggu antrian di kasir sayup-sayup saya mendengar suara dari speaker di departmen store tersebut.

“Yak, untuk urutan pertama sementara dipegang oleh Bapak X dengan total belanjaan 3 juta rupiah. Ayo siapa lagi yang ingin mengikuti jejak Bapak X dan mendapat voucher belanja senilai 1 juta rupiah!”

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar pengumuman tersebut. Belanja apa ya kira-kira si Bapak sampai berjuta-juta begitu? Tanya saya dalam hati. Memang sih ada beberapa merk pakaian yang harga satu lembarnya saja hampir satu juta. Tapi kalau saya sih kayaknya tidak akan terbeli baju semahal itu. Belum lagi biasanya voucher yang diberikan itu hanya bisa digunakan untuk hari itu juga. Itu artinya, si pembeli harus segera membelanjakan voucher dengan syarat dan ketentuannya berlaku itu.

Baca lebih lanjut

Tulisan Dimuat di Reader’s Digest Indonesia

Hari Jum’at lalu, sepulang kerja saya menemukan sebuah paket kiriman dii depan televisi. Saya cek alamat pengirim, ternyata dari Femina Grup. Ah, apakah ini surat konfirmasi Femina dari cerpen saya yang dimuat? tanya saya dalam hati setelah mengetahui pengirim paket. Namun anehnya, untuk sebuah surat, paket tersebut terlalu tebal. Ah, apakah Femina sekarang mengirimkan bingkisan majalah bagi penulis yang tulisannya dimuat? tanya saya lagi.

Saya pun kemudian membuka paket tersebut. Tepat seperti dugaan saya, isinya adalah majalah. Reader’s Digest Indonesia, begitu judul majalah tersebut. Pikiran saya melayang. Saya ingat pernah mengirim sebuah tulisan untuk rubrik Humoria pada majalah tersebut. Ah, apakah ini berarti tulisan itu dimuat?

Setengah tak sabar saya telusuri halaman demi halaman dari majalah Reader’s Digest Indonesia. Saya sempat kecewa ketika mengetahui tidak ada tulisan saya di rubrik Humoria. Namun kemudian saya sadar ada beberapa rubrik humor di majalah RDI. Dan akhirnya saya menemukan tulisan saya pada rubrik Tawa di Tempat Kerja. Hoho, senangnya!

Baca lebih lanjut