Stripes Crochet Bag

DSC_2247a

Alhamdulillah kemarin berhasil menyelesaikan sebuah tas rajut lagi. Menggunakan benang poly, motif tas ini terinspirasi dari stripes bag yang beberapa waktu lalu sempat nge-trend. Awalnya sendiri saya berencana membuat tas selempang. Namun kemudian saya menyadari bagian dasar tas terlalu lebar untuk dijadikan tas selempang. Akhirnya, setelah menyelesaikan separo rajutan, saya putuskan menjadikannya tote bag saja. Kebetulan juga saya tidak memiliki tote bag untuk diajak jalan-jalan. Dan karena saya mengerjakannya sesuai mood, maka tas ini baru jadi setelah hampir tiga bulan.

Tentang merajut sendiri, saya sudah mengenalnya sejak duduk di bangku kelas dasar. Seingat saya seorang tetangga memamerkan rajutannya yang membuat saya sangat tertarik. Ia kemudian dengan murah hati mengajari saya teknik dasar merajut. Tak perlu waktu lama bagi saya untuk bisa menguasai teknik merajut ini. Dalam waktu singkat saya berhasil membuat ikat rambut, taplak meja mungil, hingga pakaian untuk boneka barbie saya. Waktu itu belum ada buku pola seperti sekarang. Jadi rajutan yang saya buat kala itu murni imajinasi sendiri atau mencontoh rajutan yang sudah ada.

Baca lebih lanjut

Dari Menara Pandang hingga Kawasan Wisata Kuliner

“Kita ke Menara Pandang, yuk!” Ujar saya pada Nita dan Herlin, dua teman kental saya selama bekerja di kantor baru. Saat itu pukul empat lewat sepuluh, beberapa menit lepas jam kerja kami usai.

Kedua teman saya -yang sudah siap untuk pulang- itu berpikir sejenak, kemudian berkata, ” Oke. Tapi kami salat dulu ya, Kak.” Saya pun mengangguk sembari membereskan meja. Tak lupa saya hubungi Nora untuk mengajaknya serta dalam jalan-jalan sore hari itu.

Usai salat Ashar, kami berempat melaju menuju jalan Piere Tendean. Menara Pandang yang akan kami datangi merupakan sebuah bangunan baru yang dibangun di kawasan siring Piere Tendean. Dengan konstruksi tiga lantai, tempat ini bisa menjadi sebuah tempat hang out baru sambil memandangi sungai Martapura.

Begitu tiba di lokasi, tampak beberapa mobil terparkir di halaman depan Menara Pandang. Sebuah poster besar bertajuk Lomba Masak juga tertempel di bagian dinding lantai bawah Menara. Di bagian siring sendiri, tampak beberapa orang berlalu lalang menghabiskan sore yang cukup panas hari itu. O ya, selain Menara Pandang, hal yang menarik dari Siring Piere Tendean ini adalah adanya pojok wifi id di beberapa tempat, serta para penjual jagung bakar yang mulai buka sore hari.

Baca lebih lanjut

Lebaran 2014

Tahun ini, pertama kalinya kami melewati Ramadhan tanpa sosok adik perempuan saya yang tahun lalu menikah. Sejak resmi menjadi seorang istri, dia memang tinggal di rumah mertuanya dan sesekali berkunjung ke rumah. Tahun ini pula, keluarga kami dianugerahi seorang anggota baru tepat di hari pertama Ramadhan. Muhammad Fathan Al Farisi, begitu nama yang akan diberikan adik saya dan suaminya kepadanya.

Bicara tentang Ramadhan, saya sangat bersyukur karena untuk tahun ini berhasil memenuhi target khatam qur’an. Seumur-umur, baru kali ini saya berhasil menyelesaikan 30 juz al qur’an selama 29 hari. Dan ternyata, untuk bisa mencapai target ini, saya harus menyelesaikan 2 juz per harinya agar saat saya dapat jatah libur, saya tidak keteteran.

Berat? Buat saya sangat berat. Dan jujur saya masih terkagum-kagum dengan mereka yang berhasil menyelesaikan 3-4 juz per harinya. Untungnya, sebelum Ramadhan saya sudah mengikuti kelas persiapan yang bernama ODOJ. Meski terasa berat, harus diakui komunitas ini berhasil memaksa saya untuk meluangkan total waktu satu jam setiap harinya untuk menyelesaikan 1 juz dari al qur’an.

Baca lebih lanjut

Galeri Buka Puasa

Akhir tahun lalu, saya diterima bekerja di sebuah BUMD di kota Banjarmasin. Setelah sembilan bulan bekerja, inilah pertama kalinya saya melewati Ramadhan di kantor baru ini. Dan karena berada di lingkungan baru, makan dibandingkan tahun lalu, ada cukup banyak acara buka puasa bersama yang saya ikuti.

Mungkin ada beberapa yang beranggapan buka puasa bersama lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Namun untuk saya sendiri, jika masih bisa diikuti akan saya ikuti. Apalagi jika yang mengajak teman-teman sendiri. Alhamdulillah juga beberapa dari acara buka bersama ini diadakan saat saya sedang libur puasa, jadi saya bisa mengikuti acara buka bersama dengan tenang. Berikut sedikit foto dari acara buka bersama yang saya ikuti.

Delapan Tahun Setelah Wisuda

Waktu menunjukkan pukul 19. 20 ketika saya tiba di parkiran dalam Duta Mall Banjarmasin. Setelah memarkir motor di sela-sela ruang yang tersedia, saya meraih ponsel dari dalam tas dan menghubungi sebuah nomor. Satu kali, dua kali, terdengar nada tersambung. Di kali ke tiga, nada sambung terputus. Dan sebagai gantinya saya menerima panggilan dari nomor yang saya hubungi tadi. “Di AW, Tung,” begitu katanya saat panggilan saya jawab.

Lekas saya menuju tempat yang dimaksud. Begitu tiba AW, saya menemukan sosoknya di pojokan. Mengenakan kaos sweater hijau toska, tangannya melambai pada saya yang sempat kebingungan. Tersenyum, saya pun memasuki restoran fastfood dari negeri paman Sam tersebut dan mendatanginya. Sebelum saya duduk, ia memperkenalkan sosok lain yang menemaninya malam itu. Seorang gadis manis berjilbab bernama Galuh yang merupakan adik bungsunya.

Baca lebih lanjut