5 Hotel yang Ingin Saya Kunjungi di Banjarmasin

Akhir-akhir ini cukup sering saya membaca postingan review hotel dari para rekan blogger. Review hotel ini entah karena ada urusan pekerjaan, sekadar staycation, hingga memang kerja sama dengan pihak hotel. Sebagai pembaca, tentu saja saya langsung tertarik (ngiler) membaca review-review tersebut. Apalagi kalau hotel yang direview tersebut termasuk hotel yang berkelas.

Nah, berhubung masih belum ada rezeki untuk menikmati fasilitas hotel, maka saya putuskan untuk membuat list hotel yang ingin saya kunjungi di kota saya, Banjarmasin. Untuk mengetahui informasi dari hotel-hotel ini, saya menggunakan aplikasi Traveloka. Sebenarnya saya juga sempat mencoba beberapa aplikasi lain. Tapi kayaknya saya lebih condong ke Traveloka untuk urusan pesan-memesan pesawat dan hotel online ini.

Di Banjarmasin sendiri, saat ini sudah cukup banyak hotel yang berdiri. Berhubung hotelnya di dalam kota sendiri, maka pastilah saya ingin mengunjungi hotel yang benar-benar menarik untuk dikunjungi. Entah itu dari segi lokasi atau juga fasilitasnya. Nah, berikut adalah daftar hotel yang ingin saya kunjungi di Banjarmasin.

Baca lebih lanjut

Universitas Terbuka dan Jodoh

Saya memiliki kenangan tersendiri tentang Universitas Terbuka. Saat itu, saya menjadi salah satu pengawas untuk pembangunan kantor Universitas Terbuka di Banjarmasin. Untuk keperluan pencairan, saya harus terbang menuju Jakarta. Itu adalah untuk pertama kalinya saya mengunjungi kota Jakarta sendirian. Untungnya selama di Jakarta saya mendapat bantuan dari pihak kontraktor. Mereka meminjamkan kantor untuk saya bekerja, juga mengantarkan saya menuju Pondok Cabe tempat Universitas Terbuka berada.

Karena kenangan inilah, saya begitu bersemangat ketika suami mengatakan rumah orang tuanya ada di daerah Pondok Cabe. Dalam hati saya berkata, Wah, apakah ini tempat yang mengaitkan aku dan si Mas? Ya, saya selalu yakin bahwa siapapun yang menjadi jodoh kita pastilah memiliki kaitan dengan kita di masa lalu. Entah itu melalui tempat, keluarga, hingga momen tertentu. Dan untuk saya, selain FLP, ternyata UT juga menjadi tempat yang mengaitkan kami.

“Di mananya UT?” Tanya saya kemudian pada suami.

Baca lebih lanjut

Menuju Tangerang

Sebuah pesan BBM masuk ke ponsel saya di akhir bulan Februari. Pengirimnya adalah adik ipar yang tinggal di Tangerang sana.

“Kak, kemarin pas nikah biaya sewa baju sama make up-nya berapa ya?” tanya adik ipar yang usianya tak jauh berbeda dari adik perempuan saya.

Saya kemudian menyebutkan biaya salon saya saat menikah tahun lalu. Setelah itu, iseng saya tanyakan tanggal berapa adik ipar saya menikah.

“Tanggal 4 Maret, Kak. Walimahnya tanggal 26,” balas adik ipar masih lewat BBM.

Membaca balasan tersebut, saya kaget. Pasalnya baru malam sebelumnya saya bertanya pada suami apakah keluarga sudah memberi kabar perihal tanggal pernikahan adik ipar yang baru saja dilamar. Kala itu suami saya hanya mengatakan kemungkinan nikahnya beberapa bulan lagi.

“Wah, cepat banget ya, Dek. Kirain masih beberapa bulan lagi,” balas saya lagi.

“Iya, Kak. Biar nggak banyak godaannya. Kakak nanti datang kan nanti?”

“Insya Allah. Nanti Kakak ngomong dulu sama Kakakmu bagusnya datang tanggal berapa,” jawab saya menutup pembicaraan.

***

Baca lebih lanjut

Killer Soft Bread

Ibu saya adalah pembuat kue. Sehari-hari beliau berkutat dengan tepung terigu, gula, telur dan aneka bahan lainnya yang diperlukan untuk membuat kue. Kegiatan ini sudah dilakoninya sejak saya masih duduk di bangku SMA. Kegiatan yang bagi saya melelahkan karena sangat menyita waktu tidur malam dan memakan jatah bersama anak di siang hari. Hal inilah yang kemudian membuat saya bertekad untuk tak mengikuti jejak beliau membuat kue-kue.

Namun setelah menikah, saya mulai berubah. Dimulai dari keberhasilan membuat pizza, saya pun mulai menemukan kesenangan dalam memasak beberapa jenis roti. Obsesi roti, begitu kata mbak Endang dalam blog JTT miliknya. Alhamdulillah-nya, suami ternyata menggemari roti bikinan saya. Jadilah selama beberapa waktu terakhir, hari Sabtu dan Minggu saya habiskan untuk mencoba membuat beberapa jenis roti seperti pizza, roti manis, roti burger, dan yang terbaru killer soft bread.

Untuk Killer Soft Bread ini sendiri, saya membacanya di blog Bunda Nina. Berikut adalah resep yang disebutkan di blog tersebut:

Baca lebih lanjut

Sejenak Mengenanng Bandung

Tahun 1992 adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di kota Bandung. Saat itu almarhum Abah mendapat kesempatan untuk belajar di kota kembang tersebut selama kurang lebih sembilan bulan. Karena tak ingin terpisah jauh dari keluarga, Abah memboyong serta istri dan kedua anaknya.

Sebuah rumah di jalan Suka Ati menjadi tempat kami tinggal selama di Bandung. Selain kami ada beberapa keluarga lain juga yang indekos di rumah itu. Pemiliknya sendiri merupakan seorang wanita paruh baya yang kerap kami sebut Emak. Di rumah itu, emak tinggal bersama beberapa putranya yang kemudian sudah kami anggap seperti keluarga sendiri.

Masa-masa saya tinggal di Bandung sendiri terbagi dalam dua periode. Periode pertama adalah tahun 1992 seperti yang saya sebutkan di atas. Adapun untuk periode kedua saya jalani saat Abah saya kembali melanjutkan studi Metrologinya di tahun 1995. Saat itu lagi-lagi kami tinggal di kontrakan yang sama dan komplek sekolahan yang sama yang yang saya masuki sebelumnya, yakni SD Pasir Kaliki.

Baca lebih lanjut