Balada Lipstik Merah Terang

“Mbak, lihat lipstik yang itu, dong,” kata saya pada seorang pedagang kosmetik di pasar yang kerap saya singgahi. Wanita penjaga counter itu kemudian mengambil box lipstik yang saya maksud plus juga sampel warna dari lipstik-lipstik tersebut.

“Nomor 4 nya habis. Tinggal nomor-nomor yang ini aja,” katanya sambil menunjuk ke beberapa nomor. Rupanya lipstik nomor 4 dari merk ini lumayan banyak yang suka, sehingga Mbak penjual tersebut merasa perlu memberitahukannya pada saya.

Saya mulai memperhatikan sampel-sampel warna tersebut. Sebelumnya saya sudah memiliki satu buah merk lipstik lokal tersebut dan cukup suka dengan teksturnya yang agak matte. Karena harganya yang sangat murah (sepuluh ribua rupiah aja), maka saya berniat untuk membeli warna yang lain lagi.

“Hmm… warna yang mana, ya?” kata saya sedikit lirih. Jujur warna-warna yang ditawarkan agak kurang meyakinkan saya.

Baca lebih lanjut

[Fiksi] Deria dan Ular Gota

Hingga satu minggu yang lalu, Deria tak pernah mengerti mengapa beberapa minggu terakhir ibunya selalu melarangnya mendekati di sungai yang mengaliri desa tempat mereka tinggal. Di saat teman-temannya tertawa sambil mencipratkan air ke wajah masing-masing, Deria hanya bisa menatap dari pinggir sungai. Ia tak mungkin ikut bergabung karena ibu akan langsung meneriakinya dari bagian dapur rumah mereka. Deria sendiri merasa heran dari mana ibunya tahu dirinya bermain air padahal ibunya berada di dalam rumah. Pernah satu kali Deria nekat ingin menceburkan dirinya ke air. Baru saja kakinya tercelup, sosok sang ibu sudah berada di pinggir sungai dengan tongkat di tangannya. Tanpa banyak bicara Deria terpaksa berdiri kembali dan berjalan mengikuti ibunya pulang ke rumah.

Alasan dari larangan ibu itu akhirnya Deria ketahui beberapa hari yang lalu. Saat itu, ia baru saja tiba di rumah setelah menghabiskan setengah harian di kediaman Levia, sahabat karibnya. Saat itu ibu sedang berada di dapur ditemani Mak Kaja, salah satu tetangga mereka. Mungkin karena ibunya terlalu asyik mengobrol sehingga tidak menyadari kehadiran Deria. Deria pun langsung masuk ke kamarnya. Saat dirinya hendak melepaskan pakaian yang dikenakannya, sayup-sayup didengarnya pembicaraan ibunya dengan Mak Raudah.

“Mak Niah, sudah dengar kabar terbaru belum? Si ular Gota muncul lagi!” tanya Mak Kaja pada ibunya.

“Benarkah?” tanya ibu kemudian.

Baca lebih lanjut

Sepasang Cincin Batu Akik

Sepasang suami istri berjalan mendekati deretan penjual batu akik di pinggir jalan dekat rumah mereka. Penjual batu akik ini bermunculan ketika demam batu akik terjadi beberapa bulan sebelumnya. Meski kini demam batu akik mulai mereda, sepertinya para penjual di tempat tersebut masih berusaha bertahan dengan usaha mereka.

Sepasang suami istri ini menghampiri sebuah etalase dari salah satu penjual. Pada etalase tersebut terpajang beberapa macam batu akik juga emban dari batu akik yang terbuat dari besi. Sang suami kemudian meminta sang istri memilih salah satu emban yang pas dengan jarinya. Kebetulan ia memiliki sebuah batu berwarna merah kecoklatan yang dibelinya dari seorang penjual batu akik yang kehabisan ongkos pulang.

“Nggak ada yang pas, Mas,” kata sang istri setelah mencoba beberapa emban yang ada di etalase tersebut.

Baca lebih lanjut

Buku yang Terbaca di 2015

buku

Layaknya tahun-tahun sebelumnya, awal tahun saya isi dengan merekap jumlah bacaan yang berhasil saya tamatkan di tahun sebelumnya. Tahun 2015 kemarin saya menargetkan membaca 55 buku, sayangnya yang tercapai hanya 48 buku. Karena itulah akhirnya untuk tahun 2016 ini saya menurunkan target bacaan menjadi 40 buku saja. Pengennya sih lebih banyak baca buku-buku Islami tahun ini. Keinginan lainnya, saya bisa lebih sering membuat review dari buku-buku yang saya baca di blog buku saya di ayanabooks.wordpress.com.

Baca lebih lanjut