Sebulan Berlayar

Jam di ruangan tengah menunjukkan angka lima tiga puluh. Di hadapan saya tampak bumbu dapur yang masih harus dihaluskan. Sementara pada kompor gas yang menyala seekor nila sedang dipanggang di atas wajan happycall. Di kompor yang lainnya, sebuah penggorengan sudah mulai memanas permukaannya.

Saya mulai panik! Sementara bumbu masih harus dihaluskan, saya juga harus menyiapkan teh panas untuk berbuka. Akhirnya saya pun berdiri. Sebelumnya saya kecilkan terlebih dahulu api kompor yang sedang menyala. Saya kemudian berjalan menuju kamar tengah. Di sana tampak suami saya sedang terlelap.

“Mas, tolongin aku,” kata saya pada suami yang sedang istirahat sore. Suami saya terbangun. Dilihatnya saya dengan tampang awut-awutan. Belum lagi suami saya beranjak dari tempat tidur, saya sudah setengah berlari kembali ke dapur.

Tak lama suami bergabung dengan saya di dapur. Sementara saya menyelesaikan sayur yang ingin dibuat, ia membantu menggoreng ikan seluang yang sudah saya bumbui beberapa jam sebelumnya. Tak lama kemudian, menu berbuka pun siap disajikan. Ikan nila bakar dengan sayur daun singkong santan plus ikan seluang goreng kering.

***

Baca lebih lanjut

Beli Rumah Di Mana?

Salah satu pembahasan yang cukup booming antara saya dan rekan kerja seangkatan adalah seputar rumah. Dengan usia yang rata-rata sudah matang dan status sebagai pegawai tetap seperti sekarang, keinginan untuk memiliki rumah sendiri jelas bukan hal yang aneh. Apalagi beberapa dari kami juga baru saja melepas masa lajang, jadilah topik berburu rumah menjadi salah satu bahan obrolan jika sudah bertemu.

Saya sendiri setelah menikah masih tinggal di rumah orang tua saya bersama ibu dan adik bungsu saya. Awalnya suami menginginkan agar kami mengontrak rumah terpisah setelah menikah. Namun karena berbagai pertimbangan akhirnya suami setuju untuk tinggal dulu di rumah orang tua saya hingga masa yang belum ditentukan.

Meski tinggal bersama orang tua, tentu saya juga tetap punya keinginan memiliki rumah sendiri. Rasanya lebih menyenangkan jika kita bisa menata rumah kita sendiri, bukan? Karena itulah, layaknya teman-teman yang lain, saya juga rajin berburu brosur perumahan. Dan berhubung departemen tempat saya bekerja sekarang sering melakukan survey untuk keperluan pemasangan pipa, maka bisa dibilang misi berburu rumah ini terasa lebih mudah.

Baca lebih lanjut

Selamat Jalan, Abah

“Bisakah kira-kira abah menjadi wali nikah di pernikahanku?” Itulah pertanyaan yang menggelayuti pikiran saya beberapa waktu jelang hari pernikahan saya. Pertanyaan ini muncul mengingat kondisi ayah saya yang semakin memburuk selama beberapa bulan terakhir. Beliau sudah tidak bisa mengenali kami lagi dan juga sangat sulit diajak berbicara.

“Waktu Sari (adik saya) nikah kemarin orang KUA-nya datang ke rumah kan buat pelimpahan wali?” kata ibu saya saat pertanyaan itu kemudian saya ajukan padanya. Pikiran saya melayang ke tahun 2013 saat adik saya menikah. Saat itu, untuk kelengkapan rukun pernikahan, petugas KUA datang ke rumah untuk melihat kondisi ayah. Saat itu, meski sama-sama tidak mengenali orang lagi, kondisi ayah saya bisa dibilang lebih baik ketimbang saat saya akan menikah. Beliau masih bisa berdiri dan bisa diajak berkomunikasi.

Saya dan suami pun berinisiatif menanyakan hal ini pada pihak KUA. Saat itu sekitar satu bulan jelang hari pernikahan saya. Saya ceritakan kondisi ayah saya yang sudah tidak bisa bicara juga tidak bisa mengenali orang lagi. Saya juga bertanya kemungkinan perwalian dialihkan kepada adik laki-laki saya.

Baca lebih lanjut

Tulisan Dimuat di Reader’s Digest Indonesia

Hari Jum’at lalu, sepulang kerja saya menemukan sebuah paket kiriman dii depan televisi. Saya cek alamat pengirim, ternyata dari Femina Grup. Ah, apakah ini surat konfirmasi Femina dari cerpen saya yang dimuat? tanya saya dalam hati setelah mengetahui pengirim paket. Namun anehnya, untuk sebuah surat, paket tersebut terlalu tebal. Ah, apakah Femina sekarang mengirimkan bingkisan majalah bagi penulis yang tulisannya dimuat? tanya saya lagi.

Saya pun kemudian membuka paket tersebut. Tepat seperti dugaan saya, isinya adalah majalah. Reader’s Digest Indonesia, begitu judul majalah tersebut. Pikiran saya melayang. Saya ingat pernah mengirim sebuah tulisan untuk rubrik Humoria pada majalah tersebut. Ah, apakah ini berarti tulisan itu dimuat?

Setengah tak sabar saya telusuri halaman demi halaman dari majalah Reader’s Digest Indonesia. Saya sempat kecewa ketika mengetahui tidak ada tulisan saya di rubrik Humoria. Namun kemudian saya sadar ada beberapa rubrik humor di majalah RDI. Dan akhirnya saya menemukan tulisan saya pada rubrik Tawa di Tempat Kerja. Hoho, senangnya!

Baca lebih lanjut

[Cerpen Femina] Dapur Nyonya Monika

Tempat itu bernama Dapur Nyonya Monika, sebuah restoran terbaik di kotaku. Pemiliknya adalah seorang wanita cantik akhir empat puluhan bernama Monika. Beliau membuka restoran tersebut dua puluh tahun yang lalu bersama almarhum suaminya. Setiap harinya restoran itu selalu penuh dengan pengunjung. Tak hanya dari kalangan atas, namun juga dari kalangan menengah ke bawah. Bahkan para tamu yang datang ke kota kami selalu menyempatkan diri untuk mencicipi masakan di Dapur Nyonya Monika.

Beberapa hari yang lalu, sebuah kabar tersiar. Dapur Nyonya Monika sedang mencari beberapa juru masak baru untuk dapur mereka. Kabarnya beberapa juru masak utama di restoran tersebut mengundurkan diri dari posisi mereka untuk membuka usahanya sendiri. Bagi para juru masak, ini tentu saja sebuah berita besar! Siapa coba yang tak ingin bekerja di Dapur Nyonya Monika?

“Kau sudah tahu dapur nyonya Monika sedang membutuhkan juru masak baru?”

“Tentu saja. Beritanya sudah menyebar ke seluruh kota.”

“Menurutmu apakah tesnya akan sulit?”

“Kudengar tesnya tidak terlalu sulit. Kau hanya perlu memasak telur mata sapi.”

“Telur mata sapi? Kau serius?”

“Tentu saja. Memangnya kau tidak pernah dengar? Nyonya Monika bisa tahu seseorang pandai memasak atau tidak hanya dari telur mata sapi yang dibuatnya.”

Baca lebih lanjut