Menikah di KUA? Kenapa tidak?

“Kenapa menikah di KUA?” begitu pertanyaan yang terlontar ketika saya mengabarkan rencana pernikahan saya berikut tempatnya kepada beberapa teman. Mereka seolah tak percaya kalau saya akan melangsungkan pernikahan di Kantor Urusan Agama, dan bukannya di rumah layaknya calon pengantin lainnya.

Mendengar pertanyaan tersebut, saya hanya tersenyum. “Kalau nikah di rumah bayar enam ratus ribu rupiah. Di KUA cuma lima puluh ribu rupiah,” jawab saya pada mereka.

“Oh, ya? Wah waktu aku nikah dulu nggak begitu,” kata teman yang lain lagi.

“Ya mungkin waktu itu peraturannya belum keluar,” jawab saya lagi sekenanya. Kalau boleh jujur, saya cukup capek menghadapi pertanyaan yang sama seputar menikah di KUA ini. Untungnya setelah mendengar jawaban tersebut teman saya tak bertanya lagi. Belakangan baru saya ketahui kalau peraturan tersebut dikeluarkan pada Juni 2014 lalu. Jadi memang tidak salah kalau banyak yang bingung dengan pernikahan di KUA ini.

Saya sendiri sebenarnya juga tak pernah berencana untuk menikah di KUA. Sejak dulu, saya selalu berniat untuk menikah di rumah orang tua saya. Terpilihnya KUA sebagai tempat pernikahan terjadi saat kami semua berusaha menemukan tanggal yang pas untuk pernikahan.

“Kalau nikahnya hari kerja mending di KUA aja, Kak. Gratis. Sekarang kalau nikah di rumah pada hari kerja bayar enam ratus ribu rupiah. Di sana juga sudah disediakan pelaminannya. Jadi tetap bisa berfoto usai pernikahan,” begitu saran salah satu kerabat saat diputuskan 20 Mei sebagai tanggal pernikahan kami. Tanggal 20 Mei ini dipilih karena bertepatan dengan tanggal 2 Sya’ban. Ibu saya memilihnya karena percaya tanggal tersebut baik untuk pernikahan.

Mendengar saran tersebut, ibu saya langsung tertarik dan setuju agar pernikahan saya dan suami diselenggarakan di KUA Banjarmasin Barat. Sebuah respon yang sebenarnya cukup mengagetkan jika mengingat bagaimana di pernikahan adik saya dahulu ibu sempat ngotot ingin anaknya menikah di rumah.

Kurang lebih satu bulan jelang pernikahan, saya dan calon suami mulai mengurus kelengkapan administrasi pernikahan kami. Mulai dari mengurus surat pengantar nikah ke RT, lanjut ke Kelurahan untuk meminta formulir N1-N7 dan kemudian meminta legalisir ke Kecamatan. Tak lupa sebelumnya saya ke Puskesmas untuk disuntik TT terlebih dahulu. Setelah semua urusan di Kelurahan hingga Kecamatan beres, kami pun berangkat menuju KUA Banjarmasin Barat.

Sesampai di KUA kami langsung mendaftarkan diri. Oleh salah satu pegawai sempat ditanya mau menikah di KUA atau di luar KUA. “Kalau di luar bayar ke negara enam ratus ribu. Kalau di sini ada aulanya dan bayar lima puluh ribu rupiah,” kata pegawai tersebut pada kami.

Kami pun meminta izin untuk melihat terlebih dahulu aula yang dimaksud. Ternyata aula tersebut berada tepat di samping ruang pendaftaran nikah. Ukurannya mungkin sekitar 4 x 4 meter dengan sebuah meja kecil dan pelaminan di salah satu sisi dindingnya. Saya kemudian mengambil foto dari bagian dalam aula tersebut. “Kita tanya Mama lagi, yak. Kali aja berubah pikiran,” kata saya pada calon suami.

Sepulang dari kantor, saya pun memperlihatkan foto aula tersebut pada ibu. Ternyata ibu tetap pada pendiriannya. Jadi sudah fix, saya akan menikah di KUA.

Tanggal 20 Mei, sekitar pukul 08.30 saya dan calon suami berangkat menuju KUA Banjarmasin Barat. Setiba di sana, ternyata sudah ada beberapa pasangan lain yang menunggu. Mereka semua mirip seperti saya, mengenakan kebaya pengantin lengkap dengan make up dan aksesorisnya. Padahal sebelumnya saya sempat berpikir untuk menikah dengan pakaian sederhana agar tidak terlalu ribet di KUA nanti. Untungnya rencana tersebut ditolak mentah-mentah oleh ibu dan saya pun sedikit bersyukur saat melihat calon pengantin wanita lain yang juga berdandan heboh seperti saya.

Tak perlu lama bagi kami untuk menunggu giliran pengucapan akad nikah. Setelah sepasang pengantin keluar dari KUA, rombongan kami dan satu rombongan lainnya dipersilakan memasuki aula. Berhubung saksi dari pihak kami belum lengkap, maka saya dan calon suami mendapat giliran kedua untuk pengucapan akad nikah.

Prosesi pernikahan sendiri berjalan cepat. Tak ada pembacaan ayat suci al qur’an dan khutbah pernikahan seperti kalau pernikahan dilangsungkan di rumah atau masjid. Untuk kami sendiri, pengucapan akad nikah sempat diulang karena suami terlalu cepat mengucapkan akadnya. Maksudnya belum lagi selesai penghulu mengucapkan kata “tunai”, eh suami langsung nyerocos melafalkan akadnya.

Penghulu pun mengulang kembali akad nikah. Alhamdulillah, kali ini akad dilafalkan dengan lancar. Setelahnya, suami menyerahkan mahar berupa uang tunai sebesar seratus ribu rupiah yang dihiasnya sendiri menjadi bentuk bunga matahari. Tak lupa pula suami menyematkan cincin kawin di jari manis saya. Prosesi pun selesai, dan kami semua kembali ke rumah untuk syukuran akad nikah. Untuk resepsi sendiri, insya Allah akan diselenggarakan pada 7 Juni nanti.

72 pemikiran pada “Menikah di KUA? Kenapa tidak?

  1. Alhamdulillah, selamat ya mb yana Barakallahu lakum..
    smg bahagia selalu dunia wal akhirat, dpt momongan yg lucu2 sholih n sholihah.. aamiin πŸ™‚
    akhirnya melepas lajang juga, hehe lama ga blogwalking hr ini buka reader kok nemu postingan ini surprise sekaligus ikut seneng deh mb..

  2. cantiknya…. :-), ternyata peraturan baru ya, soalnya pas saya daftar nikah awal januari 2014 gak di tanyain mau nikah di rmh atau di KUA mungkin krn memang belum berlaku peraturan itu

  3. Selamat yah Mbak :)) semoga menjadi keluarga yang bahagia dan rukun selalu :)).
    Di manapun menikah, yang penting esensi dan maknanya. Selama itu terpenuhi, menurut saya tidak ada yang salah. Berbagi kebahagiaan kan tidak harus mahal :hehe.

  4. Ahaaaay pengantinnya cantik
    Intinya menikah dimana saja yang paling penting saling mencintai, restu dari orang tua, kelengkapan semua syarat. Tempat khan bukan ukuran kebahagiaan kelak.

    Selamat yaaaaaaa
    Semoga bahagia selalu

  5. Subhanalloh, selalu ada kisah indah tentang sebuah pernikahan. Selamat ya kak Yana. Sekali lagi selamat. Senang rasanya melihat ka yan senyum bahagia berdampingan dengan sang imam. Semoga menjadi pasangan dunia – akhirat yang dilimpahi cintaNya, amin ^^
    .
    .
    .
    *peyuuuksjauuh*
    *Kiiiiiiiiiis jaoooh*

  6. Mbak Ayana, selamat menempuh hidup baru ya πŸ™‚
    Semoga jadi keluarga samara selalu …..

    dan ia mbak Ayana cantik …. πŸ™‚

  7. Selamat ya, semoga bahagia selalu.
    Kita punya tanggal pernikahan yang sama, 20 Mei, tapi aku tujuh tahun yg lalu, alasannya biar sama dgn hari kebangkitan nasional πŸ˜‰ hihihi

  8. Alhamdulillah, Adinda πŸ™‚

    Senangnya baca ini πŸ™‚

    Barakallahu laka, wa baaraka ‘alaika, wa jama’a bainakumaa fi khair πŸ™‚

    Bungas loh lakinya Yana, senang deh lihatnya.

    BTW, waktu aku maurus nikah wan Aa, kenapa sawat ditawari nikah di KUA oleh Pamanku ya? Kebetulan sidin penghulu di KUA.

    Hihihi, tapi Abah Mama tetap minta di rumah saja, sekalian satu waktu dengan resepsi.

    Yana pinanya balamak kah? πŸ˜€

    • kalau pas jaman pian belum berlaku klo ka peraturan itu. biasanya orang memang lebih nyaman nikah di rumah pang. makanya ulun awalnya jua rasa kyp tuh nikah di kua. heu. tapi ternyata banyak aja kawan pas hari nikah tu
      inggiiih ulun belamak lagi wahini 😦

  9. Alhamdulillah, saya ikut senang. Semoga jadi keluarga sakinah mawadah warohmah, aamin.
    Baarakallahu lak wa baaraka β€˜alayka wajama’a baynakuma fil khair.

  10. Kebiasaan di masyarakat yang membuat pernikahan di KUA jadi terasa “aneh” ya mbak Yana. Padahal asyik-asyik aja kan ya? πŸ™‚ aku inget tulisan mbak Retno yang nikahnya simpel banget. Pingin bisa gitu juga euy haha.

  11. Ping balik: Resepsi Pernikahan | SAVING MY MEMORIES

  12. Ping balik: Momen-momen di 2015 | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s