Kenangan Maba

Hari itu, hari terakhir masa orientasi kami di kampus. Rencananya, setelah acara ditutup kami semua akan langsung pulang ke indekos masing-masing. Namun, baru saja kaki kami menginjak halaman kampus, sebuah seruan terdengar dari belakang.

“Semua mahasiswa baru kumpul di lapangan!” begitu seru suara tersebut. Kami semua yang menengar seruan tersebut otomatis menghentikan langkah. Masih dalam kebingungan, tiba-tiba muncullah sosok-sosok senior kami di sekeliling halaman kampus. Wajah mereka tampak garang dan suara-suara lantang keluar dari bibir mereka. Seolah ingin menunjukkan kekuasaan mereka sebagai senior kampus.

Sesuai dengan seruan yang diberikan sebelumnya, kami semua pun mulai berbaris di halaman. Kayaknya bakal diospek nih, begitu kata saya dalam hati. Saat saya menjadi mahasiswa baru kala itu, ospek merupakan tema yang sangat sensitif. Ini mengingat di masa itu sedang hangat-hangatnya kasus mahasiswa yang meninggal karena mengikuti ospek di kampusnya. Karena itulah di masa saya jadi mahasiswa baru, ospek diminta untuk ditiadakan. Namun tentu saja para senior tidak langsung menurut dengan kebijakan tersebut.

Setelah semua mahasiswa baru terkumpul, salah satu kakak senior, yang saya ketahui sebagai ketua BEM pun memulai aksinya. Dengan lantang kakak senior tersebut mulai berorasi di hadapan kami semua, sementara kakak senior yang lain masih mengepung kami di belakang. Saya ingat hari itu cuaca cukup panas sehingga membuat suasana terasa semakin panas saja.

Belum lagi selesai sang ketua BEM menjalankan aksinya, tiba-tiba dari belakang muncul seorang dosen yang langsung menghentikan aksi senior tersebut. Sempat terjadi insiden dalam penghentian tersebut. Setelah rencana ospek benar-benar digagalkan, kami kemudian dibubarkan dan diminta langsung pulang ke kediaman masing-masing.

Sebagai akibat dari gagalnya ospek yang seharusnya kami jalani, angkatan kami kemudian dikenal sebagai angkatan yang tidak diakui oleh para senior. Tentu saja hal tersebut bukan hal yang menyenangkan. Kadang kami diacuhkan, kadang kami juga disindir karena kelakuan kami yang katanya kurang sopan pada senior. “Itu karena mereka nggak diospek makanya pada nggak sopan gitu,” begitu biasanya kata para senior pada kami.

Bahkan setelah tak lagi berstatus mahasiswa baru, cap sebagai angkatan tidak diakui masih melekat pada kami. Saya ingat ketika masa orientasi angkatan baru di bawah kami, para mahasiswa baru tersebut diminta mengumpulkan tanda tangan kakak-kakak senior kecuali angkatan kami. Lagi-lagi alasannya karena kami angkatan yang tidak diakui.

Meski begitu, tentunya tak semua senior tidak menyukai kami. Seiring berjalannya waktu kami berhasil menjalin hubungan yang cukup baik dengan beberapa senior. Aneka macam kegiatan kampus turut membantu dalam mencairkan ketegangan antara senior dan junior ini. Entah itu karena mengambil kelas yang sama, asistensi tugas besar, hingga praktikum. Tentunya juga tak ketinggalan adanya taksir-menaksir antara senior dengan junior.

Kini, bertahun-tahun sejak masa menjadi mahasiswa baru itu lewat saya mendadak terkenang kembali akan masa itu. Jika yang lain bercerita tentang bagaimana serunya masa ospek mereka, maka saya akan akan bercerita bagaimana kami menjadi angkatan yang tidak merasakan namanya ospek.

33 pemikiran pada “Kenangan Maba

  1. sy mah malah udah tegang duluan wktu daftar jd maba, soalnya males bgt sm ospeknya bikin tegang dan sebel tp klo diingat2 lucu juga sih,hihihi

  2. Ulun penasaran lawan kronologis kejadiannya yang pian kisahakan nih ka ae. Dulu batakun lawan kakak tingkat ky misterius ky itu. Kadada yang mau mangisahi atau bakisah tapi sedikit ja. Ulun takuni tadi ka Beny, sidin kdd di tempat kejadian jar. Jadi mandangar kaya itu ja. Kada detail jua 😀

  3. Dulu waktu di-ospek kan suruh bawa ini-itu, nah sebagai mahasiswa baru saya belinya lebih. Misalnya suruh bawa bawang putih. Saya beli banyak di pasar. Esoknya sengaja datang pagi-pagi di kampus sambil bilang, “Ini teman2 yg belum bawa, dijual bawang putih… bawang putih.” Hehehe

  4. Senangnya gak pakai ospek… Sampai sekarang saya paling nggak suka sama ospek2an semacam itu, masih banyak cara lain yang bisa ditempuh kalau tujuannya mengakrabkan diri dengan senior dan menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus 🙂

  5. Hooo saya ngalamin banget yang namanya ospek
    Rambuy dikepang2, pake baju dari karung, tas kantung kresek, topi bola yg dipotong setengah, jalan jongkok, push up sampai gigit kodok hahaha
    Ya klo sekarang pasti jadinya dianggap pelanggaran HAM tapi dulu rasanya kok lucu-lucu aja ya :))))

  6. Ospek itu ada bagus ada jeleknya. Banyak yang berkesan pastinya. Ditempat saya dulu kalo gak ngikutin ospek diangkatannya wajib ngikutin diangkatan dibawahnya.
    Setelah ospek selesai kita malah akrab dengan kakak tingkat yang mengospek. Gak ada dendam, seru-seru aja.
    Saya kalo ditanya, rugi orang yang gak ikut ospek, suer…

    *kangen Banjarmasin nih, pengen ikan haruan bakar, soto banjar, gulai itik gambut yang diseberang pom bensin, buah pempakin, tiwadak, banyak deh 🙂

      • Saya pernah tinggal di Banjarmasin selama lebih kurang delapan bulan. Dulu tinggal di deket pam, sebelah sana terminal pal enam. Tapi kerjaanya keliling, mulai Palangkaraya sampai Banjamasin, terus dari Banjarmasin sampai Muarakoman deket Tanjung sana.
        Lanjut lagi Pelaihari sampai perbatasan Tanah Grogot. Bolak-balik, tapi asik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s