[Cerpen] DINNO DAN DHIRA

Matahari mulai menyeruak masuk ke kamar Dhira. Sementara pemiliknya masih bersembunyi di balik selimut tebalnya. Dhira tidak sadar kalau sedari tadi ada sesosok tubuh yang berdiri tepat di depan kasur empuknya dan memandang tajam ke arahnya.

“Bangun Tuan Putri! Ini sudah jam 10. Mau sampai kapan lo tidur?!”

Dhira membuka matanya demi mengetahui siapa yang berani mengganggu tidurnya. Dan ketika dilihatnya wajah tampan Dinno, dia kembali menutup matanya. Dinno terlihat mulai gemas. Ditariknya selimut yang menutupi tubuh Dhira dan dilemparkannya ke lantai.

Dhira langsung terbangun begitu sadar tubuhnya sudah tidak ditutupi selimut lagi. “Dinno! Kok selimutnya diambil sih? Dingin tahu!” Dhira lalu berdiri dan mengambil selimutnya kembali.

“Dhir, lo sudah gila ya? Hari begitu cerah gini lo bilang dingin. Bangun dan cepat mandi gih. Heran deh, cewek kok bangunnya kalah cepat sama matahari, nggak baik tahu!”

“Enak aja. Aku udah bangun sebelum azan subuh. Cuma abis shalat subuh aku tidur lagi. Kamu tuh yang nggak sopan. Masuk kamar cewek nggak minta izin dulu.”

“Habis siapa suruh tidur nggak ngunci pintu. Untung yang masuk gue, coba cowok lain, bisa bahaya.”

“Apa bedanya lo sama cowok lain? Udah sana keluar! Gue mau mandi.”

“Ok, gue tunggu lo di bawah. Setengah jam lo harus sudah siap. Dasar! Kemarin ngajakin gue jalan, pas didatangin taunya masih tidur.” Dan Dinno pun beranjak dari kamar Dhira.

Akhirnya satu jam kemudian Dhira dan Dinno keluar dari pintu gerbang rumah Dhira menuju rumah Dinno yang tepat berada di samping rumah Dhira untuk mengambil motor Dinno. “Gila aja lo. Masa tadi motor lo nggak dibawa sih? Ujung-ujungnya kita harus ke rumah lo lagi. Gue nunggu di sini aja deh, Din,” kata Dhira ketika mereka berada tepat di depan gerbang rumah Dinno.

“Tumben lo nggak mau masuk ke rumah gue. Napa ? Takut sama bokap ?”

“Yee, bukannya gue takut sama bokap lo. Gua takutnya begitu gue ketemu sama bokap lo, gue diajak ngomong terus sama bokap lo, terus gue ketemu nyokap lo dan dia ngajakin gue bantu dia masak buat makan siang dan akhirnya kita nggak jadi berangkat. Lo kan tau gua anak kesayangan bokap nyokap lo.”

“Idih, GR banget sih lo.”

“Biarin. Udah cepet ambil motor lo sana. Panas nih, bisa item gue.”

“Siapa suruh bangun siang.”

***

Dhira menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya. Badannya lelah sekali setelah hampir seharian naik motor dengan Dinno. Mana banyak salah jalannya lagi. Masa mau Gramedia aja sampai harus muter-muter gitu. Dhira yang hari itu emang niat ngerjain Dinno terang aja kena semprot habis-habisan.

“Elo ini kok ga bilang-bilang sih kalo kita salah jalan!? Lo tau kan kalo gue udah setahun ga tinggal di sini! Pake belagak bego lagi!” Omel Dinno setelah akhinya mereka sampai di depan Gramedia.

“Biarin. Biar lo capek bawa motornya. Lagian siapa juga yang tadi bilang masih ingat jalan-jalan disini. Makanya jangan sok tau. Setahun itu cukup lama untuk melakukan perubahan.” Balas Dhira dengan entengnya waktu itu.

Dhira senyum-senyum sendiri kalo ingat tampang Dinno waktu mengantarnya pulang. Tampangnya jutek banget. Mulutnya manyun sampai 5 senti. Tapi tetap aja tidak mengurangi ketampanannya. Dasar orang cakep, mau diapain juga tetap aja keliatan cakep. Batin Dhira.

Dhira kini bangkit dari tempat tidurnya menuju meja belajarnya. Dinyalakannya komputer, lalu Dhira membuka file bertuliskan ‘my diary’ dan mulai mengetik huruf demi huruf di layar komputer.

My Diary,

Hari ini gue puas banget bisa jalan bareng lagi sama Dinno. Maklumlah sudah setahun gue nggak ketemu orang gila itu gara-gara dia harus ikut ortunya yang harus pindah tugas ke Balikpapan.And ternyata, Dinno ga berubah sama sekali ! Dia masih suka ngambek, suka nyela gue, suka masuk kamar gue tanpa permis idulu, manjanya nggak ilang-ilang lagi. Maklumlah anak semata wayang.Dan Dinno masih tetap nganggap gue sebagai sahabatnya.

Tadi sewaktu kami jalan naik motornya dia nggak henti-hentinya nanyain tentang Rini,cewek yang sejak kelas satu sudah ditaksirnya tapi nggak dapat-dapat.Heran juga, cowok secakep dia kok bisa-bisanya ditolak sih ? Tapi wajar aja sih kalo Rini waktu itu nolak Dinno. Habis Rini kan waku itu sudah punya pacar, Dan sekarang, waktu Dinno nanyain Rini ke gue ya gue bilang aja kalo Rini udah putus dan sekarang lagi ngejomblo. Waktu dia dengar itu, dia keliatan senang banget. “Akhirnya gue bisa dapetin Rini!” Katanya waktu itu dengan penuh semangat.

Dhira berhenti sejenak. Disandarkannya punggungnya ke kursi. Matanya sudah mulai terpejam ketika sebuah suara mengejutkannya.

“Dhira, telpon!!” terdengar suara ibunya dari lantai bawah.

“Iya Ma,” jawab Dhira seraya beranjak dari kursinya.

“Halo,” sapa Dhira.

“Dhir, ini gue Rika.”

“Oh, napa Rik ?”

“Tadi siang gue nelpon lo dan katanya lo jalan sama Dinno ya ? Emang Dinno sudah balik Dhir?”

Dhira terdiam sejenak mendenganr pertanyaan Rika. Cepat juga beritanya tersebar, kata Dhira dalam hati.

“Dhir, lo masih disana kan?” Tiba-tiba suara Rika mengagetkan Dhira.

“Eh, iya Rik. Iya tadi gue jalan sama Dinno. Dia baru pulang beberapa hari yang lalu.”

“Gila ya lo Dhir. Kok Dinno pulang nggak ngasih tau teman-teman sih? Bisa diamukin lo tau nggak.”

“Dinno kok yang pengen kepulangannya dirahasiakan dulu. Biar surprise katanya. Besok dia ke sekolah buat ngurus kepindahannya ke sekolah kita lagi.”

“Asyik Pangeran Angkatan kita udah balik. Gue mau kasih tau teman-teman lain ah.”

“Eh jangan, Rik,” belum selesai Dhira berkata-kata ternyata Rika sudah menutup teleponnya.

Pangeran Angkatan? Dhira tersenyum sendiri saat teringat julukan Rika pada Dinno dan sambil tetap tersenyum dia kembali menaiki tangga menuju ke kamarnya.

***

Dhira sedang asyik mencatat di mejanya ketika Dinno menghempaskan tubuhnya ke kursi di samping Dhira. “Fuih, akhirnya gue bisa lepas dari para fans gue,” katanya.

Dhira berhenti menulis dan memandang cowok di sampingnya itu dengan kening agak berkerut, lalu dia tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.

“Lho, ini benar lho Dhir. Tadi waktu gue mau ke kelas lo hampir di tiap kelas yang gue lewati ada yang manggil gue. ‘Dinno cakep, kesini dong’ kata mereka. Bahkan si Irma, waktu ketemu gue tadi terang-terangan bilang kalo dia ngefans berat sama gue,” protes Dinno ketika melihat reaksi Dhira tadi.

“Iya, iya, kayak gitu aja ngambek,” jawab Dhira sambil tetap menulis.

Dinno diam sejenak dan memperhatikan Dhira yang sedang menulis. “Dhir, lo kok nggak pernah bilang ke gue sih kalo lo udah punya pacar ?”

Kali ini Dhira kembali berhenti menulis dan kembali memandang Dinno dengan kening berkerut. “Pacar ? Kata siapa gue udah punya pacar?” Kali ini Dhira balik bertanya pada Dinno.

“Tadi waktu gue lagi ngobrol sama Erwin dia ada bilang kalo lo udah jadian sama Yudi seminggu yang lalu.”

“Gosip tuh. Gue belum jadian kok sama Yudi.”

“Belum? Maksudnya?”

“Iya, seminggu yang lalu dia nembak gue. Trus gue minta waktu buat mikirin jawabannya. Rencananya sih hari ini gue mau jawab.”

Dinno kembali terdiam sambil terus memandangi Dhira yang mulai kembali menulis. Merasa diperhatikan, Dhira agak jengah dan berhenti menulis untuk sesaat.

“Eh Din, udah ketemu Rini belum? Katanya kangen.” Akhirnya suara Dhira memecahkan kesunyian yang ada.

“Eh, apa? Rini? Oh iya, tadi gue sempat ketemu dia. Tambah cakep ya,” Dinno yang kaget agak gelagapan menjawab pertanyaan Dhira.

“Dhir, perasaan Yudi dulu juga pernah nembak lo kan waktu masih kelas satu dulu?” Kali ini Dinno mulai bertanya lagi.

“Iya.”

“Trus waktu itu lo tolak kan ?”

“Iya.”

“Kalo sekarang bakalan lo tolak lagi atau malah lo terima?”

“Yee itu sih terserah gue. Mau tau amat sih. Udah ah, ke kantin yuk. Lapar nih,” Dhira berdiri dari kursinya dan menarik lengan baju Dinno berjalan menuju ke luar kelas.

***

Suasana kantin sekolah siang itu agak sepi. Maklum bel pulang sudah berbunyi sejak 30 menit yang lalu. Di dalam kantin itu terlihat seorang cowok sedang duduk di salah satu kursi di sana. Wajahnya yang hitam manis dihiasi dengan kacamata yang bertengger di hidungnya plus rambut cepak ala tentara cukup untuk membuat cowok itu dikatakan cakep. Dengan segelas es jeruk yang sisa setengah di depannya menandakan kalau dia sedang menunggu seseorang.

“Duh sorry, Yud, kelamaan ya nunggunya? Tadi gue ada urusan, jadi ya telat deh datangnya.” Suara Dhira memecahkan lamunan cowok yang ternyata bernama Yudi itu.

“Nggak papa, Dhir. Gue juga baru 15 menit disini.”

“Eh gue pesan minum dulu, ya.” Dhira lalu berjalan menuju penjaga kantin dan memesan segelas teh es dan membawanya ke meja Yudi.

“Yud, gue tau lo udah lama ngejar-ngejar gue dan gue bukannya nggak mikirin perasaan lo,” Dhira membuka pembicaraan setelah beberapa menit mereka sama-sama terdiam.

“Jadi, kayaknya lo harus berhenti mengejar gue, soalnya…” Dhira berhenti sejenak. Dilihatnya wajah Yudi yang tampak sangat kecewa, dan menarik nafas Dhira mulai berbicara lagi, “Soalnya gue udah mutusin buat nerima lo.” Dhira menunduk saat mengucapkan kalimat itu. Dan saat dia mengangkat kepalanya kembali dillihatnya Yudi yang melongo memandang wajahnya.

“Lo, lo, serius Dhir?” Tanyanya setelah beberapa saat bengong mendengar jawaban Dhira.

Dhira cuma tersenyum.

“Yes!! Akhirnya gue diterima. Bu kantin! Saya diterima Bu!” Yudi berteriak-teriak sambil melompat-lompat seperti anak kecil dalam kantin yang isinya cuma dia, Dhira dan ibu kantin itu. Sedang Dhira cuma bisa tersenyum melihat kelakuan cowok hitam manis itu.

Malam itu Dhira berdiam di kamarnya sambil menikmati musik yang mengalun dari radio kesayangannya. Di layar komputenya terlihat tulisan yang baru saja diselesaikannya.

My Diary,

Tadi siang gue resmi jadian sama Yudi. Keputusan ini gue ambil setelah seminggu berpikir. Gue pikir nggak ada salahnya gue menerima dia karena selama yang gue tau cuma dia yang menyayangi gue apa adanya.Dia tau kalo gue suka sama orang lain, tapi dia tetap setia nunggu gue selama dua tahun. Dan walaupun dia tau gue nggak bakalan bisa menyayangi dia sebesar sayang dia ke gue, dia tetap mau menerima gue. Lagipula, selama setahun ini dia sudah cukup berhasil membuat gue sayang sama dia. Jadi nggak salah dong kalo gue akhirnya memutuskan untuk menerima dia jadi pacar gue? Gue yakin gue nggak salah ngambil keputusan dan gue yakin gue bakal bahagia.

Tulisan itu diketik Dhira beberapa menit yang lalu dan saat ini dia sedang berpikir kalimat apa lagi yang akan diketiknya.

“Tok, tok, tok,” terdengar pintu kamar Dhira diketuk dari luar.

“Siapa ?”

“Gue.”

Dhira segera menutup file yang baru diketiknya bagitu tahu siapa yang di luar kamarnya.

“Masuk Din, nggak dikunci kok.”

Pintu pun terbuka dan terlihat sosok Dinno yang berdiri di depan kamar Dhira. Dinno melangkah masuk ke kamar Dhira sementara Dhira duduk menhadap Dinno.

“Gimana tadi siang ? Lo jadian ya ?”

“Iya.”

Dinno diam sejenak, lalu dia duduk di tempat tidur Dhira bersandarkan bantal yang direbahinya tadi. “Kalo mau jujur, sebenarnya gue nggak rela lo punya pacar Dhir,” katanya sambil membalik-balik majalah yang ada di tempat tidur Dhira.

“Lho kenapa ?” Dhira agak kaget mendengar kata-kata Dinno.

“Habis kalo lo punya pacar lo pasti bakal lupain gue. Lo tau kan teman gue yang paling dekat itu adalah elo. Lo udah kayak sodara buat gue Dhir. Kita besar sama-sama, masin sama-sama, sekolah juga sama-sama. Dan elo juga satu-satunya orang yang paling ngerti gue.”

“Trus apa masalahnya kalo gue pacaran ?”

“Ya kayak yang gue bilang tadi. Lo pasti bakal lupain gue. Lo bakal lebih mentingin pacar lo ketimbang gue. Lo bakal lebih milih jalan sama pacar lo ketimbang gue and malam minggu gue nggak bakal bisa ke rumah elo lagi karena pacar elo udah ngapel duluan.”

Dhira terdiam sejenak mendengar ocehan Dinno. Sejenak dia merasa kalo yang berbicara di depannya kini adalah seorang anak kecil yang takut ditinggal ibunya. Ternyata lo benar-benar nggak berubah Din, batin Dhira.

“Din, lo jangan mikir sejauh itulah. Mana mungkin sih gue lupain elo cuma karena gue udah punya pacar. Udah ah bangun, temani gue jalan ke depan kompleks. Gue pengen makan nasi goreng nih,” Dhira menarik tangan Dinno yang masih bersandar di tempat tidurnya dan Dinno menurut saja.

“Kalau Rini tau lo sebenarnya anak mami banget and manja, gue jamin dia ga bakalan mau sama elo, Din,” kata Dhira ambil menunjuk-nunjuk hidung Dinno yang sedang berjalan di sampingnya.

“Yee, gue kan kayak gini di depan lo aja,” protes Dinno.

“Gue sayang banget sama lo Din.”

“Apa ?”

“Nggak papa. Udah jalan cepat.”

***

Catatan:

Saya menemukan cerpen ini saat membongkar-bongkar file di komputer. Dari data terakhir, saya ketahui cerpen ini diselesaikan pada 22 Februari 2004, yang artinya saat saya masih duduk di tingkat 2 kuliah.

31 pemikiran pada “[Cerpen] DINNO DAN DHIRA

  1. Ping balik: Curhat (yang ngakunya) Penulis – SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s