Pada Sebuah Pernikahan

Berita itu saya dapatkan dari murobbi. Seorang akhwat akan menikah dengan seorang jejaka pembuat antivirus -yang cukup ternama di kalangan pengguna komputer- dengan penghasilan sekian puluh juta per bulan. Saat itu, meski tanpa menyebut nama, entah mengapa saya langsung bisa menebak akhwat yang dimaksud murobbi saya kala itu.

Kepastian kemudian saya dapatkan saat berada di mahad tempat saya belajar menghafal qur’an. Salah seorang santri, (sebut saja Saras) yang dulunya rekan kerja saya dan juga merupakan sahabat dari akhwat yang dimaksud bercerita sedikit tentang proses kedua orang tersebut.

“Suami teman kami yang mengenalkan mereka. Teman kami itu pas ditanya juga sudah siap nikah. Jadi ya mereka ta’aruf. Nikahnya minggu ini.”

“Kenapa dikenalinnya sama si A, bukan sama kamu atau yang lain?” tanya saya lagi. Kebetulan di antara geng Saras masih ada tiga orang lagi yang belum menikah.

Baca lebih lanjut