It’s Okay It’s Love

 

“Kekasihmu menderita skizofrenia,” begitu kata seniorku saat aku tiba di klinik pribadinya. Selain dirinya, hadir juga seorang wanita lain yang merupakan rekan kerjaku di rumah sakit.

Aku terdiam. Berusaha mencerna kalimat yang baru diterima telingaku. Beberapa menit yang lalu, aku baru saja pulang dari kencanku bersama kekasihku. Telepon dari kedua orang inilah yang akhirnya membawaku ke tempat ini. “Ada hal penting yang ingin kukatakan,” begitu katanya dalam telepon.

“Apa gejala aktifnya,” kataku setelah berdehem, membersihkan kerongkonganku.

“Lihatlah video yang ada di laptopku. Kau akan mengerti.”

Aku berjalan menuju meja yang terletak di salah satu sudut ruangan. Laptop itu menyala dengan sebuah video yang masih belum diputar. Kutekan tombol play yang ada di monitor. Pelan tapi pasti adegan itu pun mulai hadir di hadapanku.

Baca lebih lanjut