[Selina Story] Investigasi Pertama

Cerita sebelumnya di sini.

“Kuharap ini tidak berlebihan,” ujar Selina saat menatap bayangannya di cermin. Hari ia terlihat cantik dengan atasan warna pink dan celana jeans putih yang membungkus kaki jenjangnya. Rambut merahnya -yang semakin- panjang diikat ekor kuda dengan menyisakan poni di keningnya. Memberikan kesan energik pada sosoknya. Tak lupa juga ia berikan sedikit sapuan make up pada wajahnya. Sedikit bedak, sedikit lipstik, dan pemulas mata, membuat wajahnya terlihat lebih segar. Setelah cukup puas dengan penampilannya tersebut, Selina meraih tas selempang dari tempat tidurnya, memasukkan dompet dan ponsel ke dalamnya, kemudian langsung beranjak meninggalkan kamarnya.

Hari ini tepat satu minggu setelah pertemuannya dengan Sony. Meski tak ada komunikasi antara keduanya selama satu minggu tersebut, namun selama satu minggu tersebut, tak henti-hentinya Selina memikirkan kasus yang dialami Sony. Ia merasa ada sebuah magnet yang membuatnya begitu tertarik pada kasus Sony. Terlepas dari apakah memang Sony perlu bantuannya atau kasus ini sekadar cara untuk bisa mendekatkan mereka (Selina masih sedikit yakin ibunya berperan dalam semua ini).

Dan setelah memikirkan masak-masak, gadis itu akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Sony di kantornya. Kebetulan alamatnya sendiri didapatkannya tepat di hari pertemuannya dengan Sony beberapa hari yang lalu. Rupanya pemuda itu cukup yakin Selina akan menerima tawarannya sehingga ia memberikan kartu namanya pada Selina usai makan siang mereka berakhir.

“Cantik amat, Kak,” sapa Dania saat mendapati Selina turun dari lantai dua ruko yang ia tempati. Dari gelagatnya, sepertinya gadis itu baru saja tiba di toko.

Mendengar pujian asistennya itu, mau tak mau Selina tersipu. Kalau boleh jujur, memang Selina memerlukan waktu yang cukup lama hanya untuk memutuskan pakaian yang akan ia kenakan. Sebelum akhirnya puas dengan atasan pink dan celana putihnya, Selina sudah mencoba berbagai pakaian yang berbeda. Mulai dari pakaian bernuansa formal seperti blus dengan paduan blazer, hingga pakaian santai seperti kaos dengan paduan jeans. Seolah-olah ini adalah pertemuan penting baginya. Bahkan saat pertemuan pertama kemarin, aku tidak seribet ini, kata Selina dalam hati saat berada di kamarnya.

“Iya, aku mau pergi sebentar. Untung kamu sudah datang. Jagain toko yak!” balas Selina tanpa perlu berpanjang lebar. Ia tak ingin Dania bertanya lebih lanjut tentang tujuan kepergiaannya pagi ini.

***

Sekitar pukul sembilan, Selina tiba di kantor Sony yang terletak di salah satu komplek perumahan di sisi barat kota mereka. Berbentuk rumah dua lantai, Selina mendapati cukup banyak karyawan yang bekerja di perusahaan yang diberi nama Sonic Entertainment tersebut. Saat ia tiba, sekretaris Sony yang bertubuh mungil memintanya untuk menunggu sebentar di salah satu sofa yang disediakan. “Pak Sony sedang ada tamu,” begitu kata sang sekretaris, yang dari nametag-nya bernama Susan. Selina tersenyum kecil dan langsung mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa. Sebelumnya ia sudah menghubungi Sony untuk memberitahukan maksud kedatangannya hari itu.

Setengah jam menunggu, akhirnya Sony keluar dari ruangannya. Lagi-lagi pemuda itu terlihat keren dengan kemeja dan dasi yang dikenakannya. Saat beradu tatapan dengan Selina, Sony langsung tersenyum dan mempersilakan Selina masuk ke ruangannya.

“Jadi kau bersedia membantuku?” tanya Sony seraya duduk di kursinya.

“Tidak. Belum. Aku ke sini untuk melihat-lihat kantormu. Itu saja.” Selina memberikan jawaban diplomatis. Meski sebenarnya maksud kedatangannya adalah untuk menerima kasus Sony, namun ia tak mau terburu-buru mengatakannya pada pemuda tersebut.

“Begitu rupanya. Lalu, bagaimana pendapatmu tentang kantorku?”

“Hmm.. kantormu cukup menarik. Aku suka desain interiornya. Terkesan sangat nyaman,” ujar Selina sembari mengingat kembali bagian dalam kantor Sony. Bagian dindingnya dicat berwarna biru muda dengan tambahan ornamen di beberapa bagiannya. Meja dan kursi para karyawan dipilih berwarna pastel dengan posisi sedemikian rupa sehingga tidak saling mengganggu satu sama lain. Pada bagian tengah ruangan, terdapat sebuah meja bundar yang cukup besar yang diduga Selina sebagai tempat makan siang mereka.

Ruangan Sony sendiri terletak di lantai dua rumah tersebut. Sama seperti lantai bawah, dinding pada lantai dua juga dicat dengan warna biru muda. Sebuah sofa dan meja diletakkan tepat di depan ruangan Sony. Sementara meja sang sekretaris terletak tepat di depan pintu ruangan. Sebuah meja berbentuk panjang juga terdapat di lantai dua, mungkin untuk rapat. Selain ruangan Sony, terdapat dua ruangan lagi di lantai dua terebut. Selina menduga selain berfungsi sebagai kantor, tempat ini juga menjadi kediaman Sony.

“Aku sengaja memilih rumah ini untuk menjadi kantorku. Kurasa untuk bidang pekerjaan ini akan lebih nyaman jika kondisinya dibuat seperti rumah,” ujar Sony seolah bisa membaca pikiran Selina. Selina sendiri hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Sony tersebut.

“Kau ingin melihat rekaman CCTV dari kejadian hari itu? Siapa tahu itu bisa membuatmu semakin tertarik dengan kasus ini,” Sony akhirnya mengembalikan topik mereka ke jalur yang sebenarnya.

Selina berpikir sebentar. “Boleh juga. Tapi kurasa sebaiknya aku menghilang terlebih dahulu,” jawabnya kemudian.

“Kenapa memangnya?”

“Yah, kurasa kau tak ingin tahu, kan, kalau aku sedang menyelidiki kasus ini?”

“Hmm… benar juga. Baiklah kalau itu maumu. Lagipula aku juga jadi penasaran bagaimana caramu menghilang,” Sony menjawab sambil tersenyum. Dari wajahnya jelas sekali terlihat ia sangat tertarik dengan kemungkinan menyaksikan langsung aksi Selina menghilangkan dirinya.

Selina pun tersenyum. Ia kemudian mengambil posisi di samping Sony dan mulai memejamkan matanya untuk berkonsentrasi.

***

Sony kemudian mengajak Selina ke pusat informasi. Pusat informasi yang dimaksud Sony adalah sebuah kubikel yang diisi seorang pemuda dengan rambut berantakan. Saat Sony dan Selina tiba di kubikelnya, pemuda tersebut tampak sibuk mengutak-atik bahasa pemprograman pada salah satu monitor di hadapannya. Pada monitor yang lain, tampak tampilan rekaman dari beberapa sudut kantor.

Sony kemudian meminta pemuda –yang bernama Robi- tersebut untuk memutar rekaman pada hari kejadian sementara Selina berdiri tepat di sampingnya (tak kasat mata tentunya). Pemuda itu kemudian membuka sebuah folder di komputernya, dan memilih sebuah folder bertanggal kejadian pencurian. Selama beberapa menit, baik Selina, Sony maupun Robi dengan serius mengamati tampilan yang diperlihatkan monitor di hadapan mereka.

Kau yakin berkas itu benar-benar ada di sana? Selina mengangsurkan layar ponselnya ke hadapan Sony untuk bertanya seputar rekaman yang dilihatnya. Pada layar yang dilihatnya nyaris tak ada gerakan sama sekali pada ruangan yang dimaksud.

Sony terdiam sejenak. Ia kemudian meminta Robi untuk memutar rekaman beberapa jam sebelumnya. Pada layar kini terlihat salah satu karyawan menyimpan berkas ke dalam lemari penyimpanan yang berada di ruangan arsip kantor tersebut. Dilihat dari rekaman, berkas yang dimaksud berupa sebuah amplop coklat tertutup dengan logo perusahaan di bagian depannya.

Lalu kapan tepatnya kalian mengetahui berkas itu dicuri? Selina bertanya lagi melalui layar ponselnya.

“Robi, coba perlihatkan rekaman pukul tujuh malam,” ujar Sony lagi pada Robi.

Jika pada rekaman sebelumnya nyaris tidak ada gerakan berarti dalam ruangan arsip, maka untuk kali ini terlihat seorang pemuda memasuki ruangan arsip. Dilihat dari penampilannya, sepertinya ia adalah pemuda yang sama yang menaruh berkas tersebut pagi harinya.

Dalam rekaman tersebut, pemuda itu terlihat sedang membuka lemari tempat dia meletakkan amplop tersebut pagi harinya. Tak lama kemudian dia terlihat kebingungan karena tak menemukan berkas yang dicari dalam lemari tersebut. Pemuda kemudian mengeluarkan barang-barang di lemari tersebut satu persatu, namun sepertinya ia tetap tidak menemukan berkas yang ingin diambil. Chandra kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang.

Apakah dia sedang menghubungimu? tanya Selina kembali, yang dibalas Sony dengan anggukan.

Setelah merasa cukup puas dengan rekaman yang diperlihatkan padanya, Selina kemudian mengajak Sony untuk kembali ke ruangannya. Ada beberapa hal yang harus ia sampaikan.

13 pemikiran pada “[Selina Story] Investigasi Pertama

  1. hmm…. kalau semua barang yang melekat di tubuh selina menghilang… bagaimana caranya selina memperlihatkan layar handphone kepada sony? apa selina punya kemampuan memperlihatkan sebagian diri atau barangnya dan menyembunyikan yang lain?

  2. Ping balik: [Selina Story] Investigasi Pertama – part 2 | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s