Catatan Hati

Di masa sekolah dulu, layaknya remaja yang lain, saya memiliki sebuah buku harian. Bersampul hitam, buku itu menjadi saksi perjalanan hidup saya di masa remaja hingga menuju dewasa. Hingga kemudian saya berkenalan dengan komputer, dan merasa perangkat ini lebih bersahabat bagi tulisan tangan saya yang jelek. Sejak saat itulah kemudian buku harian saya tinggalkan.

Di era pemakaian komputer, dokumen berekstensi word menjadi pilihan saya untuk menuliskan berbagai macam kejadian yang saya alami semasa kuliah. Ada cukup banyak cerita dalam dokumen tersebut, termasuk sebuah kisah cinta saya yang tak berbalas.

Lalu kemudian, saya bertemu dengan dunia blog. Di dunia maya inilah kini saya menuliskan berbagai hal yang ada di kepala saya. Entah itu pengalaman, pemikiran, atau sekadar cuap-cuap tak jelas. Satu hal yang menyenangkan dari rumah maya ini, saya bertemu dengan teman-teman baru yang turut membantu membuka pandangan saya akan berbagai hal.

Dan kini, entah mengapa saya merasa memerlukan sebuah buku harian kembali. Ya, benar-benar sebuah buku, tempat saya menuliskan segala curahan hati saya. Tanpa perlu disensor, juga tanpa perlu mengaburkan cerita. Di dalamnya saya bisa puas bercerita. Entah itu memaparkan kerinduan saya, atau menumpahkan kemarahan saya. Dua hal yang tidak bisa saya lakukan di rumah maya yang sederhana ini. Selain itu, dengan buku harian, mungkin akan bisa memperbaiki tulisan tangan saya yang semakin tak terbaca kian harinya.

12 pemikiran pada “Catatan Hati

  1. tempat saya menuliskan segala curahan hati saya. Tanpa perlu disensor, juga tanpa perlu mengaburkan cerita. Di dalamnya saya bisa puas bercerita. Entah itu memaparkan kerinduan saya, atau menumpahkan kemarahan saya -> Setuju banget
    Dulu saya juga punya n senang menulis di buku harian (diary) berwarna pink, tapi semenjak bukunya dibaca “seseorang” jadi malas nulis lagi … πŸ˜€

  2. saya nggak suka buku diary. dulu punya cuma isinya puisi. bukan catatan hati

    sekarang emang jarang nulis pake tangan. paling tanda tangan doank, lainnya diketik.

    • kalau diary saya dulu isinya ya tentang kejadian sehari-hari. kemarin nyari-nyari nggak nemu lagi 😦
      saya juga gara-gara makin jarang nulis jadinya tulisannya hampir nggak bisa dibaca lagi. bahkan sama saya sendiri πŸ˜€

  3. ih masak sih tulisan tangannya jelek? bagusan mana ama dokter?

    0ya ga semua anak muda jaman dulu punya diary lho. yg suka tulis2 aja keknya. dan akulah termasuk didalamnya.

  4. Ulun jua, Ka. Dah ada bukunya tapi malas nulisnya. Hehehe… Dulu waktu kuliah rajin banar nulis diary. Mungkin karena rancak sorangan di kamar kost, belum ada medsos, jadi bila sunyi2 nulis diary. Wahini koler banar sudah.

  5. Lantas sudah beli lagi yana..?
    aku ingat sampai sekarang pun aku punya buku harian namun bukan catatan cinta cintaan lagi. namun beberapa catatan apa saja yang aku temui dan aku lihat disekitar aku. bisa dikata bukan buku harian namun bisa dikata note n bolpen aja.

    • Nggak beli sih. Bongkar-bongkar agenda hadiah dari majalah yang nggak kepakai. Hihihi.
      Nah iya, aku juga maunya kayak gitu, ria. Pengen bikin kumpulan catatan spontan gitu πŸ™‚

      • iya makanya di tas ransel kerja aku selalau ada tas kecil buat tempat note gitu jadi pas mau tulis apa ngak bingung cari dan kecil aja ngak besar besar notenya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s