Seseorang yang Menatap Punggungmu

Ketika memasuki bangku SMP, ada seorang teman sekelas yang saya sukai. Kulitnya coklat muda, rambut lurus, dan wajahnya tampan. Yah, setidaknya di mata saya. Saya ingat “jatuh cinta” pada sosok itu sejak pandangan pertama. Dan selama beberapa waktu, saya menghabiskan waktu untuk menatap dirinya yang asyik bercengkerama dengan teman-temannya. Kala itu, posisi saya yang duduk di bangku belakang memudahkan saya untuk memandangnya. Dari posisi tersebut, saya bisa dengan puas menikmati tawanya, wajahnya, dan segala macam kelakuannya tanpa ia ketahui.

Belasan tahun kemudian, saya menonton sebuah drama korea berjudul Reply 1994. Dalam drama tersebut, Chil Bong, salah satu pemeran pria digambarkan menyimpan cinta untuk Sung Na Jung, tokoh utama wanita. Dan karena menyimpan cinta itu, ia kerap mengambil posisi di belakang Na Jung agar bisa memandangnya tanpa diketahui.

Baca lebih lanjut

Love, Interrupted

Beberapa hari yang lalu saya baru saja menyelesaikan novel Love, Interrupted terbitan Gramedia yang baru selesai saya baca beberapa hari yang lalu. Setelah Mahogany Hill dan The Miracle of Touch, ini adalah novel ketiga Amore yang saya baca dimana isinya bercerita tentang pernikahan kontrak. Diceritakan Axel, seorang pemuda Minang yang harus menikah dengan Aisha karena orang tuanya tak setuju dengan gadis pilihannya. Sebelum menikah, keduanya membuat perjanjian. Axel hanya akan menikahi Aisha selama setahun untuk kemudian bercerai. Aisha, yang sejak lama mencintai Axel menyetujui perjanjian tersebut namun dengan tiga persyaratan. Syarat pertama, keduanya akan tidur terpisah dan Aisha tak wajib mengurusi pekerjaan rumah tangga. Syarat kedua, Axel harus menafkahi Aisha sesuai kemampuannya. Sedang syarat ketiga baru akan dituliskan jika pernikahan sudah berjalan setahun.
Baca lebih lanjut

Jadi Tante

Pagi itu, satu hari jelang Ramadhan, usai shalat subuh, sebuah panggilan terdengar dari ponsel saya. Setengah malas, saya pun beranjak dari sajadah untuk mengecek siapa gerangan yang menelpon.

“Apa, Bol?” tanya saya langsung ketika mengetahui adik saya yang menelpon.

“Aku ada di rumah sakit, nih,” jawab adik saya.

“Hah? Kenapa?” tanya saya tanpa bisa menyembunyikan keterkejutan setelah mendengar jawaban adik saya itu.

“Kayaknya sudah waktunya. Tadi air ketubannya pecah,” jawab adik saya lagi, yang sukses membuat saya terkejut.

Segera saya mendatangi ibu di kamarnya dan memberitahukan kabar tersebut. Sama seperti saya, ibu juga sangat terkejut mengetahui kalau adik saya berada di rumah sakit di minggu ke 32 kehamilannya.

Baca lebih lanjut