[Selina Story] Memikirkan Tawaran

Cerita sebelumnya di sini.

Selina mengerutkan keningnya. Diletakkannya kembali sendok dan garpu yang ia gunakan untuk makan. Disandarkannya tubuhnya pada sandaran kursi yang ia duduki sekarang. Kedua tangannya kini disedekapkan di atas perutnya.

“Kau ingin menggunakan jasaku untuk menemukan pencuri di kantormu? Apakah kantormu tidak punya seksi keamanan?” tanya Selina kemudian. Entah kenapa ia agak kecewa mendengar permintaan Sony hal tersebut. Mungkin tanpa disadarinya ia telah menaruh sedikit harapan pada pria di hadapannya ini.

“Aku melakukan ini karena kurasa hanya kau yang bisa membantuku.”

“Apa maksudmu hanya aku yang bisa membantumu?” tanya Selina kemudian.

“Bukankah sudah kukatakan? Kami tak dapat menemukan pencurinya.”

“Memangnya di kantormu tidak ada CCTV?”

“Pencurinya tidak terekam dalam CCTV.”

“Wow. Pencuri itu pasti sangat ahli,” kata Selina lagi usai mendengar jawaban Sony. “Apakah dia memutuskan kabel CCTV-nya?” tanyanya kemudian. Setahu Selina, agar tidak terekam dalam kamera CCTV, seorang pencuri pasti mengetahui letak kabel kamera dan memutusnya, atau bisa juga ia memindah posisi kamera perekam sehingga sosoknya tak terekam kamera.

“Tidak. Posisi kamera juga tidak mengalami perubahan.”

Selina terdiam sejenak. Pikirannya berusaha mencerna kalimat yang diucapkan Sony padanya. Kemudian, tepat saat Selina akan bersuara, Sony berkata lagi.

“Aku curiga pencurinya adalah orang dengan kemampuan sepertimu, Selina. Karena itulah aku memerlukan bantuanmu.”

***
Hampir dua jam sudah Selina duduk di hadapan laptopnya. Namun bukannya mengunduh gambar-gambar terbaru pada blognya, ia malah menghabiskan waktunya dengan melamun dan memikirkan pembicaraannya dengan Sony tadi siang. Selama dua tahun karirnya sebagai seorang pengintai, rasanya baru kali ini ia mendapatkan kasus pencurian, dan dengan pelaku yang bukan orang biasa.

“Kurasa sebaiknya aku bertanya pada ibu tentang hal ini,” kata Selina kemudian pada dirinya sendiri. Sebagai seorang Auralis senior, ibunya pasti banyak memiliki kenalan sesama Auralis di negeri mereka. Selain itu ibunya juga memiliki kemampuan yang lebih baik dari dirinya untuk mengenali kemampuan Auralis lain. Tak seperti dirinya yang –seperti yang dikatakannya ibunya- kurang pergaulan dengan sesama.

“Tapi apa tidak menyalahi kode etik jika aku menerima kasus ini?” tanyanya lagi. Selama ini setahu Selina ada sebuah peraturan yang menyatakan kalau sesama Auralis tidak boleh saling mengganggu meski mereka mengetahui kekuatan masing-masing.

Tentang kemampuan sendiri, ada banyak jenis kemampuan yang dimiliki kaum Auralis. Ada yang memiliki kemampuan menggerakkan barang, berpindah tempat, menghentikan waktu, hingga membaca pikiran orang. Kemampuan ini juga tidak selalu sama antara ibu dengan anaknya. Selina, misalnya. Ia dianugerahi kemampuan menghilang sementara sang ibu memiliki kemampuan berpindah tempat. Sebuah kemampuan yang sejujurnya membuat Selina merasa iri dengan ibunya tersebut.

Biasanya, semakin bertambah usia seorang Auralis, maka kemampuannya juga akan semakin meningkat. Selina sendiri, setelah beberapa waktu menjalani profesi sebagai pengintai kini semakin bisa mengendalikan kemampuannya. Ia tak lagi cepat kehabisan energi jika harus menghilang dalam waktu yang lama. Ia juga tak perlu merasa khawatir energinya akan terserap jika harus berhadapan dengan pria yang tampan.

Kaum Auralis sendiri biasanya memiliki beberapa ciri khusus yang membuat mereka mudah dikenali. Kulit yang berwarna putih pucat dan rambut yang berwarna mencolok merupakan dua ciri yang paling mudah dikenali dari seorang Auralis. Namun untuk saat ini, agak sulit untuk memastikan apakah seseorang tersebut adalah Auralis atau bukan. Beberapa Auralis yang dikenal Selina lebih memilih menyembunyikan identitas mereka, entah itu dengan mengecat rambut terang mereka, atau menggelapkan kulit mereka. Yah, meski bukan termasuk sebagai kaum yang terlarang, namun sebagian dari kaum Auralis merasa kekuatan yang mereka miliki bukan hal yang perlu dibanggakan dan diperlihatkan. Kecuali untuk beberapa alasan, seperti yang dilakukan Selina dengan jasa pengintainya.

***
Ibunya mengangkat telepon setelah dering ketiga. Suaranya terdengar serak dan mengantuk. “Kau tahu jam berapa ini, Selina? Kau mengganggu jam tidurku,” jawab ibunya di ujung telepon.

Selina melirik bagian kanan bawah laptopnya. Pukul sebelas kurang lima. Yah, sebenarnya memang agak terlalu malam untuk menghubungi seseorang di jam seperti ini. Namun Selina tak ambil pusing. Toh yang ia hubungi ibunya sendiri.
“Ada sesuatu yang harus kutanyakan pada Ibu.”

“Begitu pentingnya sampai mengganggu jam tidurku?”

“Ini tentang Sony,” jawab Selina lagi sambil berharap jawaban ini bisa mengurangi kekesalan ibunya.
“Ah, akhirnya kau mau melanjutkan perkenalanmu dengannya?” tanya ibunya lagi. Kali ini ada nada senang dari suara ibunya. Selina tersenyum kecil mengetahui siasatnya berhasil.

“Begitulah. Tapi yang akan kutanyakan ini sebenarnya bukan tentang Sony.”

“Lalu apa?”

Selina kemudian menceritakan pertemuannya dengan Sony siang harinya, tentu juga dengan percakapan yang terjadi dalam pertemuan tersebut. Ibunya, secara tiba-tiba sangat bersemangat mendengarkan cerita Selina. Bahkan ibunya juga dengan senang hati memberikan pandangan dan masukannya seputar kasus yang sedang Sony hadapi.

“Hmm.. tentu saja ada orang-orang yang akan menggunakan kemampuannya untuk hal-hal yang buruk. Tak semua orang berhati malaikat,” kata ibunya setelah Selina selesai dengan ceritanya.

“Lalu apakah aku harus menerima kasus ini? Ibu mengerti bukan maksudku?”

“Ya ya. Tentu saja aku mengerti. Tapi tetap saja kejahatan adalah kejahatan. Kurasa akan ada toleransi untuk kasus semacam ini. Aku juga jadi penasaran siapa orang itu. Sepertinya dia memiliki kemampuan yang cukup tinggi.”

“Lalu apakah Ibu bisa membantuku menemukan orang itu? Maksudku, Ibu kan banyak kenalan.”

“Kalau untuk hal itu, mungkin sebaiknya kau cari sendiri saja, Selina.”

Mendengar jawaban ibunya itu, Selina pun tersenyum kecut di kursinya.
***

5 pemikiran pada “[Selina Story] Memikirkan Tawaran

  1. Ping balik: [Selina Story] Investigasi Pertama | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s