Bromance

Ketika menonton 21 Jump Street sekitar dua tahun yang lalu, saya tak memiliki ekspektasi apa-apa atas film yang diangkat dari serial tahun 80-an ini. Saya bukan penggemar Channing Tatum, pun belum pernah melihat akting Jonah Hill. Versi serial aslinya pun saya belum pernah menontonnya. Bekal saya kala itu hanyalah beberapa review mengatakan kalau film ini bagus dan sangat menghibur.

Setelah akhirnya menonton filmnya, saya serta merta setuju dengan pendapat para reviewer film itu. Channing Tatum dan Jonah Hill sukses membangun chemistry sebagai sepasang polisi bersahabat yang bertugas melakukan penyamaran di sebuah SMA. Aksi-aksi yang ditawarkan dalam film tersebut juga cukup menghibur. Dengan kata lain, di mata saya 21 Jump Street adalah sebuah film yang pas takarannya.

Berbekal dari kesuksesan film pertamanya memikat hati saya, maka ketika 22 Jump Street dilempar ke pasaran, tanpa pikir panjang saya pun langsung menontonnya. Bersama dengan beberapa rekan kantor, dan masih dengan pakaian kerja, kami berbondong-bondong menonton film ini. Awalnya, ada sedikit kekhawatiran di hati saya jika ternyata teman-teman kantor saya tak menyukai film ini. Namun kemudian, kekhawatiran saya segera menghilang ketika teman-teman dan penonton bioskop lainnya tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kegilaan Schmidt dan Jenko.

Selain aksi kocak yang mengundang tawa, sebenarnya ada hal lain yang saya dapatkan dari seri franchise Jump Street ini. Di film pertamanya, Schmidt dan Jenko digambarkan sebagai dua siswa SMA dengan kelas yang berbeda. Schmidt adalah si anak pintar yang nerd, sementara Jenko adalah siswa populer namun memiliki nilai pas-pasan. Satu hal yang membuat keduanya bernasib sama, keduanya tak bisa datang ke prom night SMA mereka dengan alasannya masing-masing. Beberapa tahun kemudian, tak disangka Jenko dan Schmidt bertemu kembali di akademi kepolisian. Azas simbiosis mutualisme menjadikan keduanya menjalin persahabatan, yang berlanjut hingga keduanya berstatus sebagai polisi.

Layaknya hubungan yang lainnya, persahabatan Jenko dan Schmidt juga mengalami ujian. Pada 22 Jump Street misalnya, ujian muncul dalam bentuk Jenko yang bertemu dengan orang yang benar-benar klop dengannya. Hal ini tentu saja membuat Schmidt mulai tersisih dari kehidupan Jenko. Belum lagi penyamaran yang terbongkar mengakibatkan Schmidt harus terlebih dahulu meninggalkan kampus sementara Jenko semakin menikmati dunia barunya. Untungnya, berkat chemistry yang kuat antara keduanya, persahabatan yang terjalin selama bertahun-tahun tersebut bisa tetap bertahan. Bisa jadi karena karakter keduanya yang saling melengkapilah yang pada akhirnya membuat keduanya tidak bisa berpisah lama-lama.

Bromance, begitu biasanya persahabatan antara dua orang pria disebut. Selain duo Jenko dan Schmidt ada juga pasangan Holmes dan Watson yang begitu terkenal. Yah, meski untuk sekarang kadang persahabatan antara dua orang pria sekarang ini lebih sering mengarah pada hal yang “negatif”, namun di mata saya, tetap saja adalah sebuah hal yang menarik menyaksikan bagaimana interaksi antara dua orang pria yang bersahabat. Layaknya pasangan suami istri, bahkan dalam persahabatan pun ada jodohnya, bukan?

20 pemikiran pada “Bromance

  1. baru tahu istilah bromance

    saya lupa udah nonton yang 21 jump Street… cuma waktu serialnya diputar, saya kurang suka… mungkin karena nggak ngerti sama jalan ceritanya πŸ˜€

  2. kayaknya iya deh, ada mekanisme jodoh dalam hubungan persahabatan.
    *duh jadi inget bromancenya Finn & Archie
    #abaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s