Jadi Tante

Pagi itu, satu hari jelang Ramadhan, usai shalat subuh, sebuah panggilan terdengar dari ponsel saya. Setengah malas, saya pun beranjak dari sajadah untuk mengecek siapa gerangan yang menelpon.

“Apa, Bol?” tanya saya langsung ketika mengetahui adik saya yang menelpon.

“Aku ada di rumah sakit, nih,” jawab adik saya.

“Hah? Kenapa?” tanya saya tanpa bisa menyembunyikan keterkejutan setelah mendengar jawaban adik saya itu.

“Kayaknya sudah waktunya. Tadi air ketubannya pecah,” jawab adik saya lagi, yang sukses membuat saya terkejut.

Segera saya mendatangi ibu di kamarnya dan memberitahukan kabar tersebut. Sama seperti saya, ibu juga sangat terkejut mengetahui kalau adik saya berada di rumah sakit di minggu ke 32 kehamilannya.

“Pasti dia kecapekan bolak-balik rumah sakit waktu abah sakit kemarin,” kata ibu kemudian yang segera saya angguki. Satu hari sebelumnya, ayah saya baru saja pulang setelah dirawat selama enam hari di rumah sakit. Adik saya, dengan kondisi perut yang membesar secara rutin mengunjungi ayah di rumah sakit.

“Ya sudah, nanti jam sepuluh kita ke rumah sakit,” kata ibu lagi menutup pembicaraan kami.

Sekitar pukul sebelas, ibu dan saya tiba di rumah sakit tempat adik saya berada. Selain suaminya, ibu mertua dan dan beberapa sepupu dari pihak suaminya tampak menemani adik saya di kamarnya. Segera kami menghampiri adik saya yang terbaring dengan selang infus di lengannya.

“Dokter sedang berusaha mempertahankan kehamilan sampai usianya 9 bulan,” jawab adik saya ketika saya tanyakan apakah dia akan melahirkan hari itu.

“Memang bisa? Apa tidak bahaya?” Tanya saya lagi. Setahu saya kalau air ketuban sudah pecah itu berarti sudah waktunya melahirkan.

“Bisa. Asal banyak minum air. Tapi ini masih ditunggu soalnya sudah pembukaan,” jawab adik saya lagi.

“Terus sudah ada tanda-tanda akan melahirkan belum?”

“Belum.”

Saya hanya menganggukkan kepala mendengar jawabannya. Karena harus menebus resep obat ayah saya, akhirnya saya tinggalkan ibu bersama adik di rumah sakit. Belakangan saya ketahui ibu saya juga memutuskan pulang karena belum juga ada tanda-tanda adik saya akan melahirkan.

Keesokan paginya, saat sedang berada di kediaman guru ngaji, adik ipar mengirimkan pesan yang mengabarkan kalau adik saya akan melahirkan. “Sudah bukaan tiga. Harus dilahirkan hari ini,” begitu tulisnya dalam pesannya. Membaca pesan tersebut, segera saya menghubungi ibu di rumah. Segera juga saya berkemas untuk kembali ke rumah dan mengantarkan ibu ke rumah sakit.

Setiba di rumah sakit, saya lihat orang-orang sudah berkumpul di depan ruang bersalin. Rupanya ketika kami dalam perjalanan menuju rumah sakit, kondisi adik saya sudah sangat siap untuk melahirkan. Dan karena usia kehamilan yang masih prematur, tidak diperbolehkan bagi suaminya untuk menemani di ruang bersalin. Kami semua pun menunggu dengan harap-harap cemas di luar.

Setelah beberapa belas menit menunggu, dari luar tampak seorang suster membawa keluar seorang bayi. Bayi tersebut kemudian dibersihkan, ditutupi tubuhnya, dan kemudian dibawa masuk kembali ke ruang bersalin untuk diperdengarkan adzan di telinganya. Sayang karena kondisinya yang masih prematur, bayi tersebut masih belum bisa mendapatkan ASI pertamanya. Bayi tersebut juga harus tinggal dalam inkubator untuk bisa menguatkan fungsi-fungsi tubuhnya.

Meski khawatir, namun kebahagiaan jelas sedang meliputi keluarga kami.Β  Alhamdulillah, pada hari Minggu, 29 Juni 2014, yang bertepatan dengan 1 Ramadhan 1435 H, sekitar pukul 10.45 telah lahir keponakan laki-laki saya. Semoga sehat selalu dan menjadi anak yang saleh ya, nak πŸ™‚

image

42 pemikiran pada “Jadi Tante

  1. Waaaaahhh, selamat menjadi tante ya Ayana ^_^

    Pasti nanti pas lebaran sudah bisa digendong kemana2 dan bikin gemas siapa saja yg melihatnya

  2. Aya selamat ya, selamat juga buat adiknya…

    wah aku juga belum jadi tante, semoga adik aku segera hamil juga amin amin.

    wah anak yang kuat aya ponakan kamu, ehmmm jadi penasaran nanti dikasih nama siapa..?

  3. Alhamdulillah, seneng bacanya. Suka mengharu biru klo denger proses melahirkan, mungkin Karena punya pengalaman melahirkan yang ‘special’ (betul betul dlm tanda petik😁) sampe hrs dirawat 2 bulan di rumah sakit dan koma dua minggu lamanya, jadi suka terharu klo Denger ibu ibu yang bercerita tentang moment pertama memeluk bayinya. aku baru bisa liat mereka setelah mereka berumur satu bulan. So selamat jadi tante

      • Ooh, ponakan pertama tho? Wah, pasti perasaannya seru banget ya sekarang. Rasanya kaya anak sendiri lah yg baru lahir. Soalnya saya dulu gitu pas keponakan pertama lahir. Dan baru tau rasanya kalo sayang ama ponakan itu beda dengan sayang sama anaknya temen atau tetangga (tanpa mengecilkan arti anaknya temen atau anaknya tetangga, pastinya). Lebih gimana gitu. Beda deh. Silakan merasakannya sendiri.
        Dan keponakan saya yg pertama itu sekarang udah gede. Udah 18 tahun. jauh lebih tinggi dari saya dan kekar pula, plus udah ada cewenya. Hahahah… ah, I sound like a proud dad ya? :))

      • bener banget, mas tijee. berasa kayak anak sendiri yang lahir. asiknya ponakannya sekarang udah gede. bisa diajak jalan bareng dong. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s