[FF] Pertemuan Rahasia

“Jangan dekati suamiku lagi,” begitu kata perempuan di hadapanku. Wajahnya bulat telur, bermata sendu. Rambutnya lurus sebahu, dibiarkan tergerai. Ia mengenakan blouse warna biru muda dan celana berwarna khaki. Ayu, begitu aku menyebut penampilannya hari ini.

“Kau tahu kan aku tidak ada hubungan apa-apa dengan suamimu?” jawabku atas permintaannya tersebut.

“Ya, aku tahu. Namun aku merasa keberadaanmu membahayakan pernikahan kami,” jawabnya lagi. Kali ini terdengar ketegasan dalam nada bicaranya. Menandakan bahwa dia tidak ingin dikalahkan.

Aku pun akhirnya menghela nafas. “Baiklah kalau itu maumu. Mulai sekarang aku tidak akan menghubungi suamimu.”

“Kuharap kali ini kau serius dengan janjimu. Jangan lupa kau sudah membohongiku dua kali.”

Baca lebih lanjut

Lebaran 2014

Tahun ini, pertama kalinya kami melewati Ramadhan tanpa sosok adik perempuan saya yang tahun lalu menikah. Sejak resmi menjadi seorang istri, dia memang tinggal di rumah mertuanya dan sesekali berkunjung ke rumah. Tahun ini pula, keluarga kami dianugerahi seorang anggota baru tepat di hari pertama Ramadhan. Muhammad Fathan Al Farisi, begitu nama yang akan diberikan adik saya dan suaminya kepadanya.

Bicara tentang Ramadhan, saya sangat bersyukur karena untuk tahun ini berhasil memenuhi target khatam qur’an. Seumur-umur, baru kali ini saya berhasil menyelesaikan 30 juz al qur’an selama 29 hari. Dan ternyata, untuk bisa mencapai target ini, saya harus menyelesaikan 2 juz per harinya agar saat saya dapat jatah libur, saya tidak keteteran.

Berat? Buat saya sangat berat. Dan jujur saya masih terkagum-kagum dengan mereka yang berhasil menyelesaikan 3-4 juz per harinya. Untungnya, sebelum Ramadhan saya sudah mengikuti kelas persiapan yang bernama ODOJ. Meski terasa berat, harus diakui komunitas ini berhasil memaksa saya untuk meluangkan total waktu satu jam setiap harinya untuk menyelesaikan 1 juz dari al qur’an.

Baca lebih lanjut

[Selina Story] Memikirkan Tawaran

Cerita sebelumnya di sini.

Selina mengerutkan keningnya. Diletakkannya kembali sendok dan garpu yang ia gunakan untuk makan. Disandarkannya tubuhnya pada sandaran kursi yang ia duduki sekarang. Kedua tangannya kini disedekapkan di atas perutnya.

“Kau ingin menggunakan jasaku untuk menemukan pencuri di kantormu? Apakah kantormu tidak punya seksi keamanan?” tanya Selina kemudian. Entah kenapa ia agak kecewa mendengar permintaan Sony hal tersebut. Mungkin tanpa disadarinya ia telah menaruh sedikit harapan pada pria di hadapannya ini.

“Aku melakukan ini karena kurasa hanya kau yang bisa membantuku.”

“Apa maksudmu hanya aku yang bisa membantumu?” tanya Selina kemudian.

“Bukankah sudah kukatakan? Kami tak dapat menemukan pencurinya.”

“Memangnya di kantormu tidak ada CCTV?”

“Pencurinya tidak terekam dalam CCTV.”

Baca lebih lanjut

Galeri Buka Puasa

Akhir tahun lalu, saya diterima bekerja di sebuah BUMD di kota Banjarmasin. Setelah sembilan bulan bekerja, inilah pertama kalinya saya melewati Ramadhan di kantor baru ini. Dan karena berada di lingkungan baru, makan dibandingkan tahun lalu, ada cukup banyak acara buka puasa bersama yang saya ikuti.

Mungkin ada beberapa yang beranggapan buka puasa bersama lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Namun untuk saya sendiri, jika masih bisa diikuti akan saya ikuti. Apalagi jika yang mengajak teman-teman sendiri. Alhamdulillah juga beberapa dari acara buka bersama ini diadakan saat saya sedang libur puasa, jadi saya bisa mengikuti acara buka bersama dengan tenang. Berikut sedikit foto dari acara buka bersama yang saya ikuti.

Bromance

Ketika menonton 21 Jump Street sekitar dua tahun yang lalu, saya tak memiliki ekspektasi apa-apa atas film yang diangkat dari serial tahun 80-an ini. Saya bukan penggemar Channing Tatum, pun belum pernah melihat akting Jonah Hill. Versi serial aslinya pun saya belum pernah menontonnya. Bekal saya kala itu hanyalah beberapa review mengatakan kalau film ini bagus dan sangat menghibur.

Setelah akhirnya menonton filmnya, saya serta merta setuju dengan pendapat para reviewer film itu. Channing Tatum dan Jonah Hill sukses membangun chemistry sebagai sepasang polisi bersahabat yang bertugas melakukan penyamaran di sebuah SMA. Aksi-aksi yang ditawarkan dalam film tersebut juga cukup menghibur. Dengan kata lain, di mata saya 21 Jump Street adalah sebuah film yang pas takarannya.

Berbekal dari kesuksesan film pertamanya memikat hati saya, maka ketika 22 Jump Street dilempar ke pasaran, tanpa pikir panjang saya pun langsung menontonnya. Bersama dengan beberapa rekan kantor, dan masih dengan pakaian kerja, kami berbondong-bondong menonton film ini. Awalnya, ada sedikit kekhawatiran di hati saya jika ternyata teman-teman kantor saya tak menyukai film ini. Namun kemudian, kekhawatiran saya segera menghilang ketika teman-teman dan penonton bioskop lainnya tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kegilaan Schmidt dan Jenko.

Baca lebih lanjut