Delapan Tahun Setelah Wisuda

Waktu menunjukkan pukul 19. 20 ketika saya tiba di parkiran dalam Duta Mall Banjarmasin. Setelah memarkir motor di sela-sela ruang yang tersedia, saya meraih ponsel dari dalam tas dan menghubungi sebuah nomor. Satu kali, dua kali, terdengar nada tersambung. Di kali ke tiga, nada sambung terputus. Dan sebagai gantinya saya menerima panggilan dari nomor yang saya hubungi tadi. “Di AW, Tung,” begitu katanya saat panggilan saya jawab.

Lekas saya menuju tempat yang dimaksud. Begitu tiba AW, saya menemukan sosoknya di pojokan. Mengenakan kaos sweater hijau toska, tangannya melambai pada saya yang sempat kebingungan. Tersenyum, saya pun memasuki restoran fastfood dari negeri paman Sam tersebut dan mendatanginya. Sebelum saya duduk, ia memperkenalkan sosok lain yang menemaninya malam itu. Seorang gadis manis berjilbab bernama Galuh yang merupakan adik bungsunya.

Empat tahun tak bertemu, rasanya tak ada yang berubah dari keakraban kami berdua. Ia bercerita tentang kegiatan yang ia ikuti selama dua hari di Banjarmasin, dan saya bercerita tentang pekerjaan baru saya. Sesekali juga kami bertukar kisah tentang teman-teman kuliah kami dulu, yang mau tak mau membawa saya ke masa nostalgia.

Iing, begitu ia biasa dipanggil. Awal mula perkenalan saya dengannya adalah ketika kami mendapat asisten yang sama pada masa orientasi kampus. Kala itu pembagian asisten didasarkan pada nomor akhir dari NIM para mahasiswa baru. NIM saya adalah H1A102096. Sedang NIM Iing adalah H1A102106. Bersama-sama dengan para pemilik akhiran 6 yang lain, saya dan Iing pun menjalani sesi asistensi bersama seorang senior.

Seiring dengan kedekatan kami selama masa asistensi dan praktikum, saya pun berkesempatan untuk semakin mengenal sosoknya. Kami kerap makan siang bersama, mengerjakan tugas (juga skripsi) bersama, bahkan pulang ke Banjarmasin pun bersama-sama. Jika jam kuliah sedang kosong, saya kerap menghabiskan waktu di kosnya yang memang terletak tak jauh dari kampus.

Selain partner yang menyenangkan, Iing juga merupakan saingan terberat saya selama kuliah. Jika melihatnya belajar jelang ujian, saya kerap mengatakan pada diri saya. “Perbedaan terbesar antara Iing dan saya dalam meraih nilai adalah pada jam belajar kami. Jika Iing memerlukan waktu setengah jam untuk mengerti sebuah materi dan meraih nilai A pada mata kuliah tersebut, maka saya setidaknya perlu waktu dua kali lipatnya untuk meraih nilai yang sama.”

Kini, delapan tahun sejak hari wisuda, kami bertemu kembali untuk ketiga kalinya. Baik saya dan Iing masih sama-sama menapaki karir kami masing-masing dan masih melajang. Saya berharap semoga di pertemuan kami yang berikutnya nanti, kami berdua sudah sama-sama berganti status. Dan siapa tahu suatu saat nanti giliran saya yang beroleh rezeki mengunjunginya di bagian utara Pulau Kalimantan.

DSC00912

jaman kuliah, masih kurus 😀

IMG_20140529_004933

sembilan tahun kemudian

40 pemikiran pada “Delapan Tahun Setelah Wisuda

  1. Wah senangnya ketemu teman lama 🙂
    teman aku paling lama samapoi sekarang sejak SMP yah kira kira udah 17 tahun kita bersama walau beda kota.
    Wajahnya cantik sekarang 😛
    ( kabuuurrrr takut di jitak )

    • hahaha, alhamdulillah kalau sekarang dibilang cantik 😀
      kalau aku sebenarnya nggak banyak teman yang umurnya lama banget, Ria. yang teman sma cuma 1 dan yang teman kuliah cuma 2. itu pun pada terpisah jauh tempat tinggalnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s