[Cerpen] Bukan Cinderella

Pangeran Erick menatap sepatu perempuan yang kini ada di tangannya. Berbentuk high heels dengan warna putih dan ornameh kristal pada bagian depannya, sepatu tersebut ditemukannya di lantai balkon istana saat pesta dansa berlangsung tadi malam. Sambil memutar-mutar sepatu tersebut, diketuk-ketukkannya jarinya ke sandaran kursi yang ia duduki sekarang.

“Menurutmu apa maksud gadis itu meninggalkan sebelah sepatunya, Ren?” tanya pangeran pada Ren, pengawal setia sekaligus sahabatnya yang sejak pagi sudah menemaninya.

“Kurasa jelas sekali. Dia ingin Anda mencarinya,” jawab Ren dari tempatnya berdiri.

“Maksudmu aku harus mengadakan sayembara dan meminta para gadis di kota ini mencoba sepatu ini? Hah! Kalau begitu caranya mungkin aku akan mendapatkan puluhan gadis yang kakinya pas dengan sepatu in,” kata Pangeran Erick, masih sambil memandangi sepatu di tangannya.

“Atau bisa juga Anda memanggil kembali para gadis yang datang tadi malam dan menanyakan sepatu apa yang mereka kenakan pada pesta tadi malam. Saya rasa itu akan lebih efektif.”

Mendengar jawaban Ren, serta merta Pangeran Erick menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kita tak mungkin melakukan itu. Ada begitu banyak gadis yang datang malam itu. Mereka akan sangat kecewa jika dikumpulkan hanya untuk ditanyai sepatu apa yang mereka kenakan,” katanya kemudian.

Ren terdiam sejenak. Tak lama ia berkata lagi. “Saya bisa mengecek toko sepatu yang ada di kerajaan. Siapa salah satu pemilik toko tersebut ada yang mengenali sepatu tersebut.”

“Ah, benar sekali idemu, Ren. Baiklah kalau begitu segeralah kau pergi ke toko sepatu yang ada di seluruh kerajaan ini. Semoga saja dengan begitu kita bisa mengetahui siapa gadis itu sebenarnya.”

Setelah mendapat instruksi tersebut, Ren segera beralih dari posisinya dan memberi anggukan hormat pada Pangeran Erick. “Baiklah. Kalau begitu saya segera berangkat,” katanya kemudian.

***

Usai Ren meninggalkan ruangannya, Pangeran Erick mengingat kembali pertemuannya dengan gadis yang meninggalkan sebelah sepatunya tersebut. Malam sebelumnya, pihak kerajaan mengadakan pesta dansa untuk seluruh pemuda dan pemudi di kota ini. Meski dinamakan pesta dansa, acara ini sebenarnya bertujuan untuk mencari pasangan, terutama untuk Pangeran Erick yang tahun ini berusia dua puluh dua tahun. Sebagai pewaris tunggal kerajaan, sudah waktunya baginya menemukan pendamping.

Malam itu, berpuluh-puluh gadis di kota datang menghadiri pesta dansa yang diadakan di aula istana. Rata-rata dari mereka adalah putri para pejabat dan orang-orang kaya di kerajaan. Layaknya sebuah pesta dansa, para gadis tersebut mengenakan gaun terbaik mereka, dengan riasan yang secantik mungkin. Selain para gadis, para pemuda putra para pejabat juga tak ketinggalan memeriahkan pesta dansa tersebut. Mengingat bagaimana ketatnya pergaulan di lingkungan kerajaan, jelas takkan ada yang mau melewatkan kesempatan bertemu dan berkenalan dengan orang-orang sebayanya dalam acara pesta dansa tersebut.

Pangeran Erick sendiri menyadari keberadaan si gadis ketika dirinya sedang beristirahat sejenak sembari menyesap minuman yang disediakan para pelayan istana. Di antara puluhan gadis yang datang ke pesta dansa, hamya gadis itu terlihat seperti anak yang tersesat. Dia berdiri sendiri di salah satu pojokan, dengan secangkir minuman di tangannya. Gaunnya berwarna biru pucat, dengan rambut berwarna madu yang digelung ke atas sehingga memperlihatkan keindahan leher jenjangnya. Beberapa kali Pangeran Erick melihatnya tersenyum kaku pada gadis-gadis yang berpapasan dengannya. Penasaran, Pangeran Erick kemudian mendekati gadis tersebut.

“Sendirian saja, Nona?” Tanya Pangeran Erick ketika tubuhnya berada di samping gadis tersebut.

“Pangeran! Sungguh sebuah kehormatan anda menyapa saya,” jawab gadis tersebut sembari menyeka bibirnya. Sapaan Pangeran Erick sebelumnya rupanya sempat membuatnya nyaris tersedak minumannya.

“Aku adalah tuan rumah acara ini. Tentu saja aku harus menyapa setiap tamu yang datang.”

Gadis itu hanya tersipu mendengar jawaban Pangeran Erick. Samar, Pangeran Erick bisa melihat semburat kemerahan menjalari kedua pipinya. Cantik, katanya dalam hati.

“Mau berdansa?” tanya Pangeran Erick sambil mengulurkan tangannya. Entah bisikan apa yang mendorongnya untuk mengajukan pertanyaan tersebut. Sesuai peraturan, pesta dansa hanya akan dimulai jika Pangeran sudah memilih pasangannya. Dan di antara puluhan gadis yang disapanya malam ini, Pangeran Erick malah memilih seorang gadis yang terlihat begitu kikuk di hadapannya ini. Sayangnya, belum lagi gadis tersebut menjawab ajakannya, Ren tiba-tiba muncul dan menyela percakapan. “Pangeran, ayah Anda ingin bicara dengan Anda,” kata Ren.

Dengan kecewa Pangeran Erick meninggalkan si gadis. Meski begitu sebelumnya ia sempat berpesan pada gadis tersebut untuk menunggunya kembali. Sayangnya, ketika ia kembali beberapa menit kemudian, Pangeran Erick tak menemukan lagi sosok.gadis tersebut. Sebagai gantinya ia malah menemukan bagian kiri dari sepatu yang diingatnya dikenakan sang gadis malam itu.

“Ah, aku bahkan belum sempat menanyakan namamu,” kata Pangeran Erick menutup lamunannya.

***

Toko Sepatu Bertha

Dua orang gadis tampak sibuk mengobrol di antara tumpukan sepatu yang akan dipajang di etalase. Gadis pertama, berkulit gelap dengan rambut ikal panjang berwarna hitam yang dikuncir kuda. Matanya besar dengan hidung berbentuk runcing dan bibir yang selalu terlihat tersenyum. Adapun gadis kedua, berkulit putih susu dengan rambut sewarna madu, juga dikuncir seadanya. Matanya berbentuk almond dengan bibir mungil dan pipi yang merona. Keduanya merupakan pegawai kepercayaan di toko sepatu nyonya Bertha.

“Aku masih tak habis pikir dengan apa yang kau lakukan tadi malam. Meninggalkan sepatu di pesta dansa? Astaga, Ellis! Beginilah akibatnya kalau kau kebanyakan membaca dongeng. Memangnya kau pikir Pangeran akan peduli pada sebuah sepatu yang tergeletak di lantai?” tanya Marja sambil meletakkan sepatu-sepatu yang ada di lantai ke rak etalase yang telah disediakan.

Ellis, yang sedari tadi sibuk mengecek sepatu-sepatu yang ada di hadapannya kini mengalihkan perhatiannya pada Marja, gadis hitam manis yang sudah dua tahun menjadi rekan kerjanya di toko sepatu tersebut.

“Aku tak punya pilihan lain, Marja. Aku tak mungkin menitipkan pesan pada gadis-gadis di tempat itu. Mereka takkan mungkin menyampaikannya. Lagipula Pangeran memintaku menunggunya. Jadi kurasa dia akan tahu kalau aku sengaja meninggalkan sepatu itu untuknya.”

“Itu kalau dia ingat untuk menemuimu kembali. Bagaimana kalau Pangeran tiba-tiba bertemu dengan gadis lain dan lupa padamu? Sepatu itu akan teronggok sia-sia di lantai. Bahkan mungkin para pelayan takkan sungkan-sungkan membuangnya. Lagipula kenapa kau tidak menunggu sampai pestanya selesai saja?”

“Dan aku harus pulang jalan kaki karena kehabisan bus, maksudmu?”

Marja hanya mengedikkan bahunya. “Atau mungkin Pangeran bersedia mengantarmu pulang. Kau tidak tahu, bukan? Selalu ada dua kemungkinan,” katanya kemudian.

Ellis terdiam sejenak mendengar jawaban Marja. Sahabatnya itu ada benarnya. Kenapa tadi malam ia tidak berpikir sampai ke situ? Entah kenapa dia langsung panik begitu menyadari jam di dinding sudah menunjukkan angka sepuluh. Pikiran kalau dia akan ketinggalan kereta dan angkutan umum begitu menguasainya sehingga tanpa pikir panjang ia langsung meninggalkan pesta. Karena tak membawa apa-apa, Ellis memutuskan meninggalkan sebelah sepatunya di tempatnya berdiri sebagai pesan untuk Pangeran. Beruntung malam itu ia membawa sepatu cadangan yang disembunyikannya di taman dekat istana, sehingga ia tak perlu pulang tanpa alas kaki

“Daripada menyesali keputusanmu itu, lebih baik kau memikirkan masalah yang lain. Pikirkan bagaimana caranya agar nyonya Bertha tidak tahu kalau sepatunya menghilang,” suara Marja memecahkan lamunan Ellis, sekaligus mengingatkannya akan status sepatu yang dikenakannya tadi malam.

Sambil menghela nafas, Ellis kemudian berkata, “Yah, semoga saja dia tidak mengecek sepatu-sepatu yang datang minggu ini. Dengan begitu dia tidak tahu kalau salah satu sepatunya kupinjam.”

***

Satu minggu telah berlalu sejak Pesta Dansa diadakan. Meski sudah disibukkan dengan kegiatan rutinnya, namun sebenarnya Pangeran Erick masih menyimpan rasa penasaran tentang sepatu yang ditinggalkan gadis berambut madu yang ditemuinya malam itu. Apalagi hingga saat ini Ren juga belum berhasil menemukan sepatu dengan model yang dikenakan gadis tersebut. Entah karena sepatu yang ditinggalkan tersebut, atau memang dirinya yang telah jatuh dalam pesonanya sehingga Pangeran Erick tak bisa berhenti memikirkan gadis tersebut.

“Ren, kurasa aku ingin berjalan-jalan di kota. Tolong siapkan mobil,” kata Pangeran Erick usai makan siangnya di kantor istana. Sosoknya kini telah mengenakan jas luar panjang dan topi fedora yang menjadi favoritnya jika ingin berjalan-jalan di luar istana.

“Baik, Pangeran,” dengan sigap Ren beranjak tempatnya berdiri.

“Oya, pilih mobil yang biasa saja. Aku tak ingin mengundang perhatian,” kata Pangeran Erick lagi mengingatkan.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berwarna putih susu tampak menyusuri sebuah jalan mungil di sudut kerajaan. Di hadapan setir, Ren mengemudikan mobil dengan perlahan. Sementara di belakangnya, tampak Pangeran Erick duduk sambil memandangi sisi jalanan. Ketika melewati deretan pertokoan, tiba-tiba saja Pangeran Erick berseru, “Berhenti, Ren!”

Ren, yang sudah bertahun-tahun menjadi pengawal setia sekaligus supir pribadi Pangeran Erick serta merta menginjak pedal rem di kakinya. Dalam hatinya ia berharap semoga pengemudi yang ada di belakang mobil tidak menggerutu karena tindakannya tersebut.

“Aku sepertinya pernah melihat gaun yang dipajang di butik itu. Kau parkirlah mobil, aku akan turun sebentar.”

Tanpa pikir panjang Pangeran Erick langsung keluar dari mobil dan berlari menuju sebuah butik yang berada di deretan pertokoan yang mereka lewati. Selama beberapa saat, Pangeran Erick berdiri di hadapan etalase butik tersebut untuk memastikan penglihatannya. Setelah yakin kalau memang gaun itu adalah yang ia cari, ia pun mendorong pintu masuk butik yang bernama Kayla tersebut .

“Selamat datang, Tuan Muda. Ada yang bisa kami bantu? Apakah Anda ingin membeli gaun untuk kekasih anda?” Seorang pramuniaga bertubuh mungil langsung menyapanya begitu memasuki butik. Senyuman ramah tersungging dari bibir mungilnya.

“Gaun yang dipajang itu, apakah ada yang pernah meminjamnya beberapa waktu yang lalu?” tanpa basa-basi Pangeran Erick langsung bertanya pada gadis tersebut.

Gadis tersebut kemudian mengalihkan pandangannya pada gaun yang dimaksud Pangeran Erick. Ia kemudian melangkahkan kaki ke manekin yang mengenakan gaun tersebut. “Yang ini maksud, Anda?” tanyanya lagi sambil memegang lengan gaun tersebut, “Ah, iya. Beberapa waktu yang lalu seorang gadis meminjamnya untuk sebuah acara.”

Jantung Pangeran Erick langsung berdetak cepat begitu mendengar jawaban gadis tersebut. “Kau masih ingat ciri-cirinya? Rambutnya, apakah berwarna madu?” tanyanya kemudian.

“Benar sekali.”

“Kau tahu di mana gadis itu tinggal?” tanya Pangeran Erick lagi.

Gadis itu menggeleng pelan. “Sayangnya saya tidak mengetahuinya. Tapi seingat saya dia bekerja di toko sepatu Bertha di ujung jalan ini.”

Mendengar jawaban tersebut, tanpa pikir panjang (bahkan tanpa mengucapkan “Terima kasih”) Pangeran Erick segera meninggalkan butik Kayla. Setengah berlari ia menuju Ren dan mobilnya yang terparkir tak jauh dari butik.

“Cepat, Ren! Kita harus ke toko sepatu Bertha di ujung jalan.”

Tanpa banyak bertanya Ren menyalakan mesin mobil. Dalam perjalanan yang singkat itu, berbagai pikiran berkecamuk di kepala Pangeran Erick. Gadis itu akhirnya bisa kutemukan. Tapi benarkah dia hanya seorang penjaga toko sepatu? Bagaimana aku harus menghadapinya nanti? Dan apakah aku bisa mengenalinya? Begitu tanya Pangeran Erick dalam hati.

Ketika tiba toko sepatu tersebut, Pangeran Erick langsung disambut oleh seorang gadis. Kulitnya putih bersih dengan mata berbentuk almond dan rambut sewarna madu. Mata gadis tersebut melebar sesaat ketika menyadari siapa yang ada di hadapannya. Namun kemudian ia tersenyum dan berkata. “Selamat datang, Pangeran. Ada yang bisa saya bantu? Anda ingin mencari sepatu untuk anda? Atau mungkin untuk kekasih Anda?”

Tersenyum, Pangeran Erick kemudian berkata, “Aku ingin mencari pasangan dari sepatu yang ditinggalkan seorang gadis padaku.”

***

NB : Lama banget nggak bikin cerpen. Cerpen ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas tugas membuat versi lain dari dongeng Cinderella. Alhamdulillah bisa selesai juga cerpennya.

22 pemikiran pada “[Cerpen] Bukan Cinderella

  1. aah mb yana ini.. selalu meninggalkan kesan tanda tanya di akhir cerpennya.. mungkin biar kita bisa berimajinasi sndri2 yaak hehehehee.. tapi aku selalu suka sm cerpen2mu mb 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s