Celoteh Abdullah

Hari itu, seperti biasa saya hadir di ma’had Umar bin Khattab untuk menyetorkan hafalan. Ada sekitar delapan orang yang hadir pada pertemuan hari itu. Jumlah yang mungkin hanya separuh dari jumlah seluruh peserta kelas tahfidz yang kami ikuti.

Seperti biasa, ustadzah Ihsan datang dengan mengajak serta putri bungsunya yang berusia delapan belas bulan. Turut serta pula si sulung Abdullah, yang kini telah menginjak usia tujuh tahun. Sembari sang ibu menerima setoran hafalan dari para santri, Abdullah juga tampak sibuk menjaga adik bungsunya yang tak pernah bisa diam.

Karena tak banyak yang menyetor, setengah jam jelang jam pulang ustadzah Ihsan memutuskan mengadakan kuis menyambung ayat. Jadi dalam pelaksanaannya, ustadzah akan membacakan sebuah potongan ayat dan menunjuk seorang santri untuk menyambung lanjutan ayat tersebut. Kuis ini sesekali diadakan dalam rangka mengetes hafalan kami semua yang mengikuti kelas tahfidz.

Untuk hari itu, juz yang dipilih adalah juz 30. Meski sebenarnya rata-rata peserta kelas tahfidz sudah menyelesaikan juz tersebut, namun jika metode kuis ini dilakukan, tetap saja ada yang sedikit tergagap dalam melanjutkannya (termasuk saya). Karena pada praktiknya memang lebih mudah membaca hafalan dari ayat pertama sampai selesai ketimbang menyambung dari tengah atau pilihan random.

Nah, ketika kami semua dengan gugup menanti giliran, sesekali terdengar celetukan Abdullah yang menyambung sendiri ayat yang dibacakan ibunya, bahkan juga membetulkan bacaan salah satu dari kami. Ya, di usianya yang baru tujuh tahun, bocah kecil yang tampan ini telah berhasil menghafalkan juz 30. Yah, tidak heran tentunya mengingat sang ibu juga seorang hafidzah.

Penasaran, ketika sosoknya berada di dekat saya, saya pun kemudian bertanya kepada Abdullah perihal hafalannya.

“Abdullah sekarang menghafal juz berapa?” tanya saya.

“Juz 29, Ka.”

“Wah keren!”

Abdullah hanya tersipu sembari bermain-main bersama adiknya. Membalas ucapan saya, ia kemudian berkata, “Kakak nanti cari Abi-nya (suami) yang hafal Qu’an juga dong. Biar bisa kayak aku.”

Untuk kali ini, saya yang hanya bisa tersenyum mendengar balasan Abdullah tersebut.

Β 

13 pemikiran pada “Celoteh Abdullah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s