Malam Jum’at di Kota Mekkah

Adzan Magrib selesai berkumandang saat kami tiba di depan pelataran Masjidil Haram. Di sekitar kami, puluhan jamaah dari berbagai negara melangkahkan kaki mereka secepat mungkin menuju mesjid. Masih dengan ponsel menempel di telinga, sayup-sayup saya dengar suara ibu bertanya dari belakang. “Katanya ketemu di mana, Yan?” tanya ibu pada saya. Banyaknya orang di sekitar cukup membuat kami kesulitan mengenali orang yang hendak kami temui kala itu.

“Di depan KFC. Tapi kayaknya kadada urangnya, nah,” jawab saya sambil mematikan ponsel. Kemudian, tepat saat kami memutuskan untuk bergabung dengan jamaah lain di barisan belakang, dua sosok datang menghampiri. Pakaian mereka berwarna hitam, dengan cadar menutupi wajah mereka. Saat kami menatap bingung kedua sosok tersebut, salah satunya kemudian membuka cadarnya dan berkata pada ibu saya, “Acil, ini Ijah, keponakan pian.”

Menyadari siapa yang sedang berdiri di hadapannya, sontak ibu saya memeluk sosok tersebut. Ijah sendiri kemudian mengenalkan sosok yang menemaninya sore itu. Sebut saja nama beliau acil Isah. Beliau merupakan teman sekampung yang mengajak Ijah merantau ke tanah Arab, dan tentunya banyak membantu Ijah selama berada di negara tersebut. Tanpa banyak bicara, kami pun kemudian bergegas mencari tempat yang kosong di antara ratusan jamaah yang berkumpul di pelataran Masjidil Haram.

Baca lebih lanjut