[Selina Story] Broken Date

Cerita sebelumnya di sini.

Selina menatap daftar menu di tangannya. Entah sudah berapa kali ia membolak-balik lembaran kertas tersebut, namun belum juga ia bisa memutuskan menu apa yang akan ia pilih. Padahal pada lembaran-lembaran kertas berwarna yang dilaminasi tersebut terdapat aneka jenis makanan yang sangat menggugah selera (yah, setidaknya dari foto yang ditampilkan). Mulai dari cemilan ringan seperti kentang goreng, aneka pasta kesukaan Selina, hingga es krim aneka rasa. Bahkan jika Selina hanya ingin meminum jus sekalipun, daftar menu yang diberikan tak kalah panjang dengan daftar makanannya.

Masih sambil membolak-balik daftar menu, Selina melirik ke arah pria yang duduk di hadapannya. Pria itu tampak masih sibuk mengetikkan sesuatu pada ponsel miliknya. Sejak mereka menginjakkan kaki di kafe tersebut, pria di hadapannya ini tak bisa lepas dari ponselnya. Entah apa saja yang diketiknya pada layar benda segi empat panjang tersebut. Jika tidak mengingat ini adalah pertemuan pertama mereka, mungkin sudah sejak beberapa menit yang lalu Selina mengambil ponsel tersebut dari tangan si pria, dan melemparkannya sejauh mungkin.

Selina kini menghela nafasnya. Sudah sepuluh menit berlalu, dan pria di hadapannya masih saja sibuk dengan ponselnya. Ini takkan berhasil, katanya dalam hati. Siapapun pasti takkan merasa nyaman jika kehadirannya tak dipedulikan, apalagi jika orang itu sudah susah payah mempersiapkan dirinya untuk pertemuan ini. Akhirnya Selina pun menutup daftar menu di tangannya. Pada pramusaji yang sejak beberapa menit lalu menunggunya, ia berkata, “Maaf, Mbak. Sepertinya saya tidak jadi makan di sini.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Selina pun meninggalkan mejanya. Dia bahkan tak mau repot-repot berpamitan pada pria yang sebelumnya duduk di hadapannya.

***

Semua berawal setelah pernikahan Adam dan Tiara usai beberapa bulan yang lalu. Seperti yang diketahui, Selina harus menghadapi kenyataan pahit kalau sahabat yang dicintainya itu memutuskan menikah dengan gadis yang baru dikenalnya di London. Meski sempat bersedih, namun layaknya sahabat yang baik, Selina pun membantu pernikahan yang masa persiapannya hanya dua minggu tersebut. Selina bahkan juga berkenalan dan menjalin hubungan baik dengan Tiara, gadis mungil bermata sipit yang telah berhasil mendapatkan hati sahabatnya.

Usai resepsi pernikahan, Adam dan Tiara langsung kembali ke London, tempat cinta mereka bersemi. Tiga bulan berlalu, tak banyak yang berubah dari sikap Adam pasca pernikahannya tersebut. Seperti biasa, setiap bulannya selembar kartu pos (atau mungkin lebih tepat disebut fotopos) tiba di meja Selina yang mengabarkan kabar terbaru dari Adam. Anehnya, entah mengapa Selina malah merasa kiriman kartu pos dari Adam setelah ia menikah lebih banyak membuatnya bersedih ketimbang senang seperti masa-masa sebelumnya.

Kartu pos pertama, misalnya. Adam mengirimkan kartu pos yang dikirim dari Paris, tempat ia dan Tiara berbulan madu. Pada bagian depan kartu pos itu, terdapat gambar menara Eiffel. Sedangkan pada bagian belakangnya, tertempel foto Adam dan Tiara yang sedang berpelukan mesra. Entah karena cemburu atau memang tak terbiasa melihat Adam berpamer kemesraaan, Selina hampir saja melemparkan kartu pos tersebut ke tempat sampah saat pertama kali melihatnya.

Lalu, kartu pos kedua, merupakan foto dari bagian dinding flat baru yang ditinggali Adam dan Tiara. “Setelah berhari-hari berkeliling kota, akhirnya kami menemukan tempat yang nyaman untuk kami berdua,” begitu yang tertulis pada bagian belakang kartu pos tersebut. Dulu, jika Selina dikirimkan foto interior seperti ini, dia akan merasa sangat senang mengingat bagaimana tergila-gilanya dirinya dengan interior. Namun ketika Selina mengingat Adam menempati flat tersebut bersama Tiara, mendadak ia merasa tak ingin lagi melihat foto tersebut.

Sedang untuk kartu pos terakhir, sebuah berita gembira dikirimkan Adam melalui foto alat pengetes kehamilan dengan dua garis. Untuk kali ini, perlu waktu beberapa hari bagi Selina untuk bisa bersikap normal kembali setelah ia menerima kartu pos itu. Ya, kartu pos terakhir yang dikirimkan Adam tersebut sukses membuat Selina meledak dan berujung pada ditutupnya toko selama satu hari penuh.

Selina sendiri tak mengerti mengapa baru setelah Adam dan Tiara pergi rasa cemburu dan sakit hati melanda dirinya. Mengapa tidak pada saat Adam memberitahukan tentang rencana pernikahannya ia bertingkah menyebalkan seperti sekarang? Tanyanya dalam hati. Ia juga bahkan tak habis pikir bagaimana dulu ia bisa tersenyum dan berkawan baik dengan Tiara kala itu. Lihatlah bagaimana palsunya dirimu, Selina, katanya lagi dalam hati.

Di lain pihak, Adam dan Tiara juga tak bisa disalahkan atas rasa sakit yang dialami Tiara setelah pernikahan mereka. Adam, sahabatnya itu itu terlalu buta untuk bisa mengetahui perasaan Selina padanya. Atau bisa juga Adam mengetahui perasaannya namun tak ingin memberikan harapan berlebih pada Selina. Sedangkan Tiara, ah gadis itu bahkan jauh lebih baik dari yang diperkirakan Selina. Dia mengetahui kalau Selina menyimpan perasaaan pada Adam dan memutuskan menjaga perasaan Selina dengan tak banyak bercerita tentang hubungannya dengan Adam selama beberapa bulan terakhir. Benar-benar gadis yang manis!

Namun rupanya luka yang tertahan pada akhirnya akan terasa juga sakitnya. Dan dengan kondisi emosinya yang tak stabil selama beberapa bulan terakhir, maka tentunya bukan hal yang aneh jika akhirnya sang ibu pun memutuskan turun tangan. Selina masih ingat saat itu ia dan ibunya sedang makan malam bersama saat topik itu muncul.

“Kurasa sudah waktunya kau mencari teman laki-laki, Selina,” kata ibunya di sela-sela makan malam mereka. Seperti biasa, dua kali dalam seminggu Selina akan menginap di di rumah ibunya untuk sekadar memberi kabar.

“Kenapa tiba-tiba Ibu membahas hal ini? Aneh sekali,” tanya Selina sembari mengunyah spageti buatannya.

“Kenapa? Kurasa tak ada yang salah. Usiamu sudah dua puluh lima tahun, Selina. Setiap ibu pasti akan membahas hal yang sama jika mengetahui putrinya hingga usia tersebut tidak memiliki teman dekat laki-laki.”

“Aku belum merasa perlu pendamping, Bu. Aku masih ingin mengembangkan bisnisku.”

“Ya, aku tahu. Kau selalu mengatakannya sejak bertahun-tahun yang lalu. Tapi kurasa untuk saat ini kau perlu teman baru untuk berbagi ide bisnismu. Terutama setelah Adam menikah.”

Nyaris tersedak Selina mendengar ucapan ibunya tersebut. Seperti biasa, ibunya selalu berhasil memojokkannya dengan pilihan kalimatnya. Percuma saja jika kali ini Selina berusaha membela diri. Akhirnya Selina pun memilih diam sambil memain-mainkan garpunya.

“Dengar. Seorang rekan bisnisku memiliki putra yang usianya tak jauh denganmu. Mungkin aku bisa mencoba mengenalkan kalian…”

“Bu, tidakkah ini sedikit berlebihan? Kuakui aku memang sedikit kacau. Tapi bukan berarti aku harus meminta bantuan orang lain untuk mencarikan teman laki-laki,” potong Selina sebelum ibunya sempat menyelesaikan kata-katanya. Dia tahu, ibunya selalu berusaha untuk mengatur kehidupannya. Sayanganya, ide tentang perjodohan merupakan sebuah hal yang tak bisa ia terima hingga saat ini.

“Ayolah, Selina. Tidak ada salahnya mencoba, bukan? Aku toh hanya ingin kalian berkenalan. Kau tak harus menjalin hubungan dengannya. Bahkan kalau kau kau tak suka dengannya, kau bisa meninggalkannya kapan pun kau mau.”

Selina terdiam sejenak. Jika mengingat tabiat ibunya, jelas tak ada kemungkinan baginya untuk menghindar dari pertemuan tersebut. Ibunya selalu memiliki cara untuk bisa memaksakan kehendak padanya. Satu-satunya cara yang memungkinan adalah menyetujui rencana sang ibu namun dengan beberapa persyaratan.

“Jadi, kalau misalnya aku tak menyukainya setelah perkenalan kami, ibu takkan memaksaku lagi untuk mencari teman laki-laki?” tanya Selina kemudian.

“Ya.”

Mendengar jawaban ibunya, Selina pun tersenyum. “Baiklah kalau begitu. Ibu silakan atur pertemuannya. Aku akan menemui pria yang ibu maksud itu.”

***

Selina baru saja tiba di kamarnya saat ponsel di tasnya berdering. Bahkan tanpa mengecek ke layar ponsel, ia tahu siapa yang saat ini sedang menghubunginya. Sambil menyalakan laptop miliknya, Selina kemudian mengangkat panggilan tersebut.

“Mengapa kau meninggalkan Sony?” tanya sang ibu di seberang sana.

“Aku tak menyukainya, Bu,” jawab Selina pendek.

“Apa maksudmu kau tidak menyukainya? Hanya karena ia sibuk dengan ponselnya saat kau memilih menu? Kurasa itu bukan alasan yang tepat.”

Selina tersenyum mendengar kalimat ibunya tersebut. Seperti yang diperkirakannya, sang ibu berusaha memata-matainya saat pertemuan tadi. Entah siapa yang dikirim ibunya untuk memata-matainya hari ini. Bisa jadi salah satu dari pengunjung café, atau malah salah satu pramusaji yang ada di kafe tersebut.

Selina sendiri awalnya memiliki rencana sendiri untuk menggagalkan pertemuannya dengan Sony beberapa saat yang lalu tersebut. Namun ternyata kali ini ia cukup beruntung mendapati Sony yang terlalu sibuk dengan ponselnya. Meski sempat kesal dengan tingkah laku Sony tersebut, namun setidaknya ia tak harus mencari-cari alasan untuk menggagalkan pertemuan tersebut.

“Apapun alasannya, yang jelas aku tak menyukainya. Ibu juga tahu kalau aku tak pernah suka jika diacuhkan. Lagipula, seingatku sebelumnya Ibu sendiri yang berkata kalau aku bisa meninggalkan Sony jika aku tak menyukainya. Aku sudah memenuhi permintaan ibu untuk menemui Sony dan aku tidak menyukainya. Jadi sekarang, bukankah ini saatnya ibu memenuhi janji yang kita sepakati sebelumnya?” katanya kemudian.

***

12 pemikiran pada “[Selina Story] Broken Date

  1. baru sekali nyoba…. nanti nyoba lagi yah 😀

    di parafraf 10 –> Di lain pihak, Adam dan Tiara juga tak bisa disalahkan atas rasa sakit yang dialami Tiara setelah pernikahan mereka.

    typo bukan?

  2. Ping balik: [Selina Story] Kesempatan Kedua | SAVING MY MEMORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s