Dil Chahta Hai – Siddharth

Aku bertemu Tara Jaiswal dalam perjalanan pulang. Saat itu dirinya sedang kerepotan memindahkan koper-koper besar miliknya ke rumah yang akan ditempatinya. Sempat kutawarkan diri untuk membantunya. Namun wanita itu menolaknya. Barulah saat gagang kopernya patah, ia menyerah dan menemukanku yang sedang memperhatikannya dari kap sebuah mobil.

Ada banyak barang yang dibawaTara. Namun yang paling menarik perhatianku adalah tiga lukisan yang tersimpan dalam salah satu kopernya. Ketiga benda tersebut membuatku merasa perlu memberitahunya sebuah kebenaran. “Aku seorang pelukis,” begitu jawabku ketika Tara bertanya tentang kegiatanku sehari-hari. Dan seperti yang sudah kuduga, Tara tampak antusias dan langsung meminta izin untuk bisa melihat lukisanku.

Saat setuju untuk menunjukkan lukisanku pada Tara, aku tak pernah menyangka bahwa saat itu pula aku menunjukkan sisi terdalam diriku padanya. “Kau bertemu orang-orang, berbicara dan tertawa dengan mereka. Namun ada sebuah dunia dalam dirimu, yang penuh dengan mimpi, fantasi, yang tidak kau bagi dengan orang lain. Bahkan mungkin mereka yang mengaku mengenalmu sebenarnya tak benar-benar mengenalmu,” begitu katanya saat memandangi lukisanku.

Aku terdiam sesaat. Terpana oleh kata-katanya. “Apa yang membuatmu berkata begitu?” tanyaku kemudian.

Tara, yang masih memandang salah satu lukisanku lalu berkata, “Pintunya tidak terbuka, orang dilarang masuk. Kotak yang tertutup rapat, tak seorang pun bisa mencurinya. Dan siapa yang tahu perasaan dibalik mata yang tertutup itu? Aku ingin tahu rahasia apa lagi yang ada di balik lukisanmu, atau di dalam dirimu.”

Kali ini aku hanya bisa memandangi Tara dengan takjub. Sulit kupercaya wanita yang baru kukenal beberapa hari sebelumnya ini bisa langsung membaca siapa diriku. Dan dia benar. Bahkan Akash dan Sameer, dua sahabatku itu tak pernah benar-benar mengetahui isi dalam kepalaku.

Berkenalan dengan Tara sendiri mau tak mau membuka dunia baru untukku. Dia cantik, bahkan di usianya yang mungkin belasan tahun lebih tua dariku. Dia juga teman bicara yang menyenangkan, membuatku betah berlama-lama bertamu di rumahnya. Bahkan kenyataan bahwa dia adalah seorang design interior yang bercerai dan kehilangan hak asuh anaknya karena kebiasaannya meminum alkohol juga tak mempengaruhi penilaianku terhadapnya.

Hingga kemudian kusadari sebuah perasaan lain tumbuh dari pertemanan kami. Aku tak tahu dari mana perasaan itu bermula. Apakah sejak pertemuan pertama kami? Ataukah saat ia menilai lukisanku dan diriku? Atau mungkin saat aku melihatnya tertawa di hari ulang tahunnya? Yang kutahu, aku telah jatuh cinta pada Tara.

30 pemikiran pada “Dil Chahta Hai – Siddharth

  1. wah jadi nostalgia ma dil chahta hai nih.. film yg keren alur ceritanya… ketika itu belum terlalu ngeh dengan stardom powernya aamir khan, tahunya ya film ini aktingnya keren..

    ini berarti adegan saat aamir ketemu dgn preity ya? lupa2 ingat filmnya gimana..

    • Iya, nih. Kemarin iseng-iseng buka file film-film. Dan tiba-tiba pengen nonton lagi film ini. Aamir yang ketemu preity itu ada di awal, pas mereka pesta kelulusan. Preity sama aamir kemudian ketemu lagi di australia 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s