[FF] Supervisor

Sosok itu berjalan memasuki ruangan tempatku bekerja selama beberapa bulan terakhir. Jangkung, kurus, dengan bahu sedikit membungkuk yang membuatnya terkesan ringkih. Usianya kutebak sekitar akhir tiga puluhan, dengan bibir menghitam akibat puluhan batang rokok yang diisapnya selama bertahun-tahun. Aku tak pernah menyukai pria perokok. Namun untuk sosok yang satu ini, sepertinya akan ada pengecualian.

Masih dengan gaya santainya sosok itu kini berjalan mendekati mejaku. Dari tempatku duduk bisa kulihat bagian depan rambutnya yang masih basah usai mengambil wudhu dan menunaikan salat (hal yang menurutku membuatnya terlihat dua kali lebih menarik). Meski begitu tetap saja kurasakan ketegangan yang meningkat seiring semakin dekatnya jaraknya dengan meja kerja yang kutempati. Kuperbaiki posisi dudukku agar terlihat lebih formal dan sopan di hadapannya.

“Gimana gambar dan perhitungan RAB-nya? Sudah selesai, belum?” tanyanya tanpa basa-basi begitu berdiri di sampingku.

“Gambarnya sudah selesai. Ini tinggal menghitung volume beberapa pekerjaan, Pak,” jawabku sembari memperlihatkan desain rancanganku padanya. Perlu waktu tiga hari penuh untukku menyelesaikan desain bangunan tersebut. Meski sebelumnya aku bekerja di sebuah konsultan sipil dan arsitektur, namun jujur kukatakan kalau gambar dan perencanaan bukanlah bidangku. Tujuh tahun bekerja di konsultan, aku lebih banyak berurusan dengan pengawasan proyek dan administrasinya.

“Kalau bisa cepat diselesaikan, ya. Bos sudah nanya-nanya, tuh,” katanya lagi setelah melirik sekilas gambar yang kutunjukkan. Tak ada komentar apapun keluar dari mulutnya. Padahal kalau boleh jujur aku sangat berharap sosok di sampingku ini mau memberikan koreksi atau setidaknya masukan atas pekerjaan pertamaku ini. Yah, hitung-hitung menunjukkan tanggung jawabnya sebagai supervisor, kataku dalam hati.

“Baik, Pak. Insya Allah besok sudah selesai RAB-nya,” jawabku kemudian setelah yakin tak ada tambahan apapun darinya.

Tanpa bersuara lagi, sosok itu kemudian menjauh dari mejaku. Mataku masih mengekorinya ketika tiba-tiba dia berhenti di salah satu meja seniorku dan berkata, “Ada coklat, nggak? Aku kehabisan stok coklat nih.”

18 pemikiran pada “[FF] Supervisor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s