Menjadi Perencana

“Kamu nanti rencanakan pondasi buat instalasinya ya,” begitu kata seorang senior saya di kantor setelah kali pertama kami mengunjungi lokasi pertama pemasangan instalasi. Kala itu, karena masih bingung dengan instuksi yang diberikan, saya pun tak kunjung mengerjakan desain gambar yang diminta. Bahkan meski desain gambar instalasi yang akan dipasang sudah diberikan oleh sang senior, saya tetap kebingungan dengan desain pondasi yang harus saya rencanakan tersebut. Sampai kemudian, setelah lewat satu minggu, sang senior bertanya lagi, “Gimana rencana pondasinya? Ditanyain bos tuh. Jangan lupa peresmiannya bulan Februari.”

Mendengar kata “Bos” dan “peresmian” disebut oleh sang senior, saya langsung kelabakan. Segera saya berdiskusi dengan dua teman seangkatan di kantor soal pondasi yang akan digunakan. Saya juga meminta saran mereka dalam penggambaran pondasi bangunan serta titian yang akan dibangun. Untuk lebih memantapkan perencanaan, saya juga beberapa kali diikutkan dalam survey lokasi baru dari instalasi tersebut.

Sayangnya, begitu dilakukan peninjauan bersama kontraktor, diyakini kalau desain yang saya buat kala itu tidak akan sempat dikerjakan. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, dilakukan perubahan desain. Pondasi yang awalnya merupakan bangunan baru yang terbuat dari beton dialihkan dengan melakukan rehabilitasi pada rumah yang ada di lokasi instalasi. Dinding yang terbuat dari kayu akan dilapis gypsum, plafond gypsum juga akan ditambah, dan dinding rumah akan dilapis cat baru. Adapun untuk bangunan instalasi, nantinya akan ditempatkan di ruangan tengah, tentunya setelah dilakukan beberapa penambahan kayu pada pondasi rumah tersebut.

Sembari saya mengerjakan kembali desain rehabilitasi rumah tersebut, saya mendadak teringat pada wawancara saya saat akan mengikuti tes di perusahaan saya yang sekarang. “Saya ingin benar-benar mengaplikasikan ilmu yang saya dapat semasa kuliah dahulu,” begitu kata saya pada Bapak yang mewawancarai saya kala itu. Kalimat tersebut saya ungkapkan mengingat selama bekerja di konsultan sipil, saya malah disibukkan dengan urusan administrasi lelang seperti membuat dokumen prakualifikasi hingga pembuatan usulan teknis. Meski pada sisi positifnya dua pekerjaan tersebut membuat saya bisa lebih fokus menulis, namun tetap saja pada akhirnya saya ingin benar-benar diakui sebagai seorang perencana atau setidaknya estimator.

Siapa sangka begitu bekerja di perusahaan sekarang, keinginan saya tersebut menjadi kenyataan. Tanpa tedeng aling-aling saya diminta membuat desain perencanaan. Jujur sebenarnya saya tak terlalu percaya diri dengan desain yang saya buat tersebut. Meski pada dasarnya saya bisa mengerjakannya, namun kurangnya pengalaman membuat saya tak terlalu yakin. Entah itu pada desainnya, atau juga pada nilai biayanya.

Di lain pihak, saya juga mulai menikmati pekerjaan perencana ini. Kursus AutoCad yang dulu pernah saya ikuti kini mulai berguna kembali. Juga hitungan volume dan Rencana Anggaran Biaya yang pernah saya pelajari di jaman kuliah dahulu. Dan ketika saya berpikir dengan bekerja di perusahaan sekarang saya akan jarang ke lapangan, ternyata saya besar. Baru saja saya menyelesaikan urusan RAB bangunan instalasi, bos sudah mengajak saya dan Nora (karyawan baru yang lain) untuk survey lapangan. Entah perencanaan apa lagi yang akan menanti saya dan Nora nantinya.

10 pemikiran pada “Menjadi Perencana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s